Internasional

Mantan Presiden Brasil Divonis 9,5 Tahun Penjara

Jum'at, 14 July 2017 04:00 WIB Penulis:

AFP

MANTAN Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva dijatuhi hukuman penjara selama 9,5 tahun karena melakukan korupsi.

Lula divonis bersalah pada Rabu (12/7) karena menerima sebuah apartemen mewah di tepi pantai dan uang senilai US$1,1 juta.

Lula menjabat sebagai Presiden Brasil antara 2003 dan 2010.

Dia disebut menerima suap dari salah satu perusahaan konstruksi terbesar Brasil, OAS.

Hakim pun memerintahkan agar apartemen Lula disita.

Adapun, suap apartemen adalah satu dari lima kasus korupsi yang dituduhkan terhadap Lula.

Yang lainnya termasuk tuduhan bahwa Odebrecht memberi US$3,7 juta kepada Lula agar dia bisa membeli tanah untuk membangun Institusi Lula yang menyoroti warisan politiknya dan bahwa dia menerima sebuah komisi dalam pembelian pesawat tempur Swedia.

Odebrecht merupakan sebuah konglomerat industri dengan proyek-proyek di seluruh dunia, yang terkenal sering memberikan imbalan kepada politisi secara teratur.

Kendati demikian, hakim antikorupsi Sergio Moro mengatakan Lula masih tetap bebas sebab tengah menunggu banding, yang akan segera diajukan kuasa hukum Lula.

"Kami mengajukan banding dan akan membuktikan ketidakbersalahannya," kata kuasa hukum Lula.

Lula mengklaim dirinya telah berulang kali menolak menerima suap sepanjang masa kepresidenannya. Ia pun merasa tenang saat menerima putusan tersebut, meski dia mengaku marah besar.

"Sebab seperti ada yang dihukum tanpa bukti," kata Cristiano Zanin Martins, salah satu kuasa hukum Lula.

Putusan hakim pun menjadi pukulan berat bagi prospek Lula yang ingin melakukan come back ke dunia politik Brasil lewat pemilihan presiden yang dijadwalkan pada Oktober tahun depan.

Pengacara Lula yang lain, Valeska Zanin Martins, menambahkan, "Mereka ingin menghilangkan Lula dari pemilihan presiden dan mencegah Lula kembali memimpin negara."

Partai Pekerja, partainya Lula, menyebut vonis itu sebagai serangan terhadap demokrasi dan konstitusi.

Mereka juga menyebut hakim di pengadilan itu bersikap bias.

Vonis itu juga mengirimkan pesan keras kepada para politisi Brasil bahwa mereka tidak aman seiring upaya perang melawan korupsi yang digelar pemerintah negara Amerika Latin itu.

Bahkan, Presiden Brasil Michel Temer saat ini tengah didakwa menerima suap dan sejumlah menterinya telah mengundurkan diri setelah mereka dituding menggelapkan uang negara.

Rangkaian dakwaan terhadap para pejabat pemerintah Brasil dimulai sejak digelarnya Operasi Car Wash, sebuah penyelidikan besar-besaran terhadap dugaan penggelapan uang dan korupsi yang dilakukan perusahaan minyak milik negara Petrobras, perusahaan konstruksi, dan sejumlah partai politik. (AFP/Arv/I-2)

Komentar