Internasional

50 Tahun ASEAN, MEA belum Berdampak Nyata

Jum'at, 14 July 2017 03:45 WIB Penulis:

Ilustrasi

MASYARAKAT Ekonomi ASEAN (MEA) yang dibentuk pada 2015 dinilai belum mampu memberikan dampak nyata bagi kehidupan 10 negara anggota menjelang perayaan setengah abad Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara itu.

MEA yang bertujuan untuk mengintegrasikan ekonomi negara-negara anggota ASEAN itu dinilai masih jauh dari harapan dan banyak yang harus dilakukan.

"Pergerakan bebas manusia, barang belum sepenuhnya sempurna. Masih banyak yang harus dilakukan. Masih ada tantangan yang harus dihadapi ASEAN dalam mewujudkan MEA," ujar Duta Besar Indonesia untuk Singapura, Ngurah Swajaya dalam simposium perayaan ulang tahun ASEAN ke-50 di Jakarta, kemarin.

Sementara itu, Douglas Foo, Presiden Singapore Manufacturing Federation, yang menjadi pemateri dalam simposium tersebut mengatakan integrasi ekonomi yang telah terjalin di ASEAN sejauh ini telah menjadi peluang bagi negara anggota.

"Dengan perayaan ke 50 ASEAN, terbukti bahwa integrasi ekonomi telah dan dalam banyak hal akan terus menjadi peluang bagi kita," ujarnya.

Namun, menurut Douglas, keterbukaan ini tidak bisa dianggap biasa, terutama dengan perkembangan digitalisasi yang tengah terjadi saat ini.

"Keterbukaan dan integrasi akan menjadi semakin penting dalam dekade mendatang dengan munculnya ekonomi digital. Oleh karena itu, ASEAN harus merangkul konektivitas digital ke fase berikutnya dari pengembangan ekonomi di masa depan," ujarnya.

Di kesempatan yang sama, Prof Dr Prapat Thepchatree, Direktur Center for ASEAN Studies Thammasat University, Thailand, juga menyampaikan tentang tantangan konektivitas yang dihadapi ASEAN ke depannya.

"ASEAN harus memberikan pemikiran yang mendalam terhadap konektivitas di masa depan dengan mempertimbangkan tantangan internal dan eksternal termasuk tantangan politik dan keamanan, ekonomi, masalah domestik, konflik kawasan," ujarnya.

"ASEAN perlu mengubah posisinya menjadi organisasi yang berpusat pada masyarakat (people centre), perlu membangun platform dan kebijakan bersama terkait isu-isu global," ujarnya.

ASEAN juga menghadapi tantangan terkait dengan pekerja migran.

Jorge V Tigno, DPA, dari Universitas Filipina mengatakan, meski negara anggota ASEAN telah mengadopsi Deklarasi tentang Hak-Hak Pekerja Migran di Cebu, Filipina, sejak Januari 2007, belum ada dokumen konkret penjamin yang menjadi hukum bersama bagi deklarasi yang mengatur hak dan kewajiban negara pengirim dan penerima pekerja migran itu. (Ihs/I-1)

Komentar