Internasional

Jepang Protes Ancaman Kapal Korut

Jum'at, 14 July 2017 03:30 WIB Penulis: Irene Harty

AP

JEPANG melayangkan protes kepada Korea Utara (Korut) setelah salah satu kapal patrolinya dikejar kapal nelayan yang bersenjata.

Juru bicara pemerintah 'Negeri Sakura', Yoshihide Suga, meyakini, kemarin, kapal nelayan itu berasal dari Korut.

Insiden tersebut terjadi pada Jumat (7/7) di Laut Timur Jepang yang masuk ke zona ekonomi eksklusif yang berjarak 200 mil dari garis pantai wilayah Jepang.

"Kapal patroli bertahan tanpa kerusakan setelah didesak untuk meninggalkan wilayah demi keselamatan. Kejadian itu kemungkinan besar berhubungan dengan Korut dan kami telah mengajukan protes keras melalui Kedutaan Korut di Beijing," ungkap Suga.

Hingga kini, Jepang dan Korut tidak memiliki hubungan diplomatik.

Oleh karena itu, Tokyo mengajukan protes diplomatik lewat Kedutaan Besar (Kedubes) Jepang untuk Tiongkok kepada Kedubes Korut di Beijing, Tiongkok.

Jepang telah melakukan observasi terhadap awak kapal dan mengumpulkan sejumlah informasi lainnya terkait insiden tersebut.

Namun, Suga belum berkomentar lebih jauh tentang tujuan kapal nelayan Korut di perairan Jepang itu.

Surat kabar Jepang, Sankei Shimbun, mengutip sumber dari Departemen Perikanan Jepang bahwa kapal nelayan dari negara yang dipimpin Kim Jong-un itu mengarahkan senjata ke arah kapal patroli Jepang.

Tiongkok tak serius

Amerika Serikat (AS) dan sekutunya telah mendesak sekutu Korut, Tiongkok, untuk menekan Korut untuk tidak melakukan uji coba rudal balistik dan senjata nuklir.

Saat pertemuan dua bulan lalu, Presiden AS Donald Trump meminta Presiden Tiongkok Xi Jinping turut memberi sanksi kepada Korut dan meminta Kim Jong-un mematuhi resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Setelah uji coba rudal balistik yang diduga termasuk ICBM atau rudal balistik antar-benua, 'Negeri Paman Sam' kembali menekan Tiongkok untuk lebih serius menekan sekutunya, Korut, yang berulang kali mengabaikan seruan internasional dan PBB.

Berbeda dengan harapan masyarakat internasional, faktanya Tiongkok tidak serius menanggapi dan menjawab harapan dunia. Tiongkok dan Korut tetap menjalin hubung-an dagang secara erat.

Perdagangan antarkedua negara itu bahkan meningkat 10,5% atau menjadi US$2,5 miliar dalam enam bulan pertama tahun ini jika dibandingan dengan periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan ekspor Tiongkok ke negara tetangganya itu pun naik sebesar 29,1%.

Berbeda dengan fakta di lapangan, justru juru bicara Administrasi Pabean Tiongkok, Huang Songping, mengatakan Beijing telah menegakkan sanksi yang diminta PBB.

"Data akumulasi sederhana tidak dapat digunakan sebagai bukti untuk memperta-nyakan sikap serius Tiongkok dalam melaksanakan resolusi Dewan Keamanan PBB," ungkapnya.

Huang menyebutkan bahwa telah terjadi penurunan impor produk dari Korut hingga 13,2% pada periode yang sama. Dia menegaskan penurunan yang tajam setiap bulan sejak Maret.

"Sanksi Dewan Keamanan PBB bukanlah pelarangan total pengiriman. Perdagangan terkait dengan kehidupan rakyat DPRK (Korut), terutama yang mencerminkan kemanusiaan tidak boleh dipengaruhi sanksi," katanya.

Sejak suspensi impor batu bara pada Februari, impor batu bara turun hingga 3/4 pada semester awal tahun ini.

Nilai impor tersebut mencapai US$97,6 juta. (AFP/I-3)

Komentar