Otomotif

Mudik Mewah Bersama E250 Avantgarde

Kamis, 13 July 2017 09:59 WIB Penulis:

MI/CHADIE

MUDIK tahun ini begitu terasa spesial.

Pertama, tunggangan mudik kali ini berlabel Mercedes-Benz E250 Avantgarde yang dipastikan bakal memanjakan penumpang.

Berikutnya, kondisi lalu lintas yang jauh lebih lancar jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Pada Rabu (21/6), kami bertiga bersama si kecil berangkat sekitar pukul 19.30 WIB dari Pesanggrahan, Jakarta Selatan, menuju Tol JORR Ciledug menuju Cikampek.

Lalu lintas cenderung lancar hingga pintu Tol Cikarang.

Tidak terasa sedan berkelir cavansite blue sudah melewati kawasan Sadang pada pukul 21.00.

Sejak berangkat kami memilih settingan kendaraan di mode comfort untuk mendapatkan kenyamanan penuh dalam kabin berlapis kulit mewah.

"Indah sekali Ayah," ujar si kecil berusia 4,5 tahun saat ambient color kabin kami ubah dari biru menjadi amber untuk menghadirkan suasana lounge. Ada 64 pilihan warna yang bisa dihadirkan di seantero kabin.

Setelah beristirahat 1 jam di KM 207, tepat pukul 00.00 mobil
bermesin 2.0 liter plus turbocharger itu kami pacu kembali.

Tidak sampai 2 jam kami sudah keluar Brexit (pintu tol Brebes Timur Exit) tanpa hambatan dan tiba di Tegal sekitar pukul 02.45.

"Tahun ini berbeda Mas. Tidak ada truk kontainer berkeliaran masuk ke pom bensin, jadi lancar banget. Biasanya mulai H-6 saja sudah parah," ujar Sartono, penjual kopi asongan yang mangkal di SPBU 44-521-09 di jalur pantura Suradadi, Kabupaten Tegal.

Seusai santap sahur dan istirahat di suatu SPBU, kami melanjutkan perjalanan pada pukul 09.00.

Sepanjang rute Tegal-Semarang kondisi lalu lintas ramai lancar.

Di beberapa titik pada rute itu banyak yang bergelombang, tapi suspensi mengurangi efek hukum alam sehingga si kecil tetap tertidur nyenyak di pangkuan ibunya.

Untuk mempersingkat waktu sedan bertenaga 211 hp @5.500 rpm kami geber secepat mungkin.

Kondisi jalan yang sedikit bumpy membuat bodi kendaraan terasa melayang.

Untuk menganulir hal itu, settingan Dinamic Select kami geser ke SPORT+.

Kendaraan bertampang elegan itu sontak berubah karakter menjadi beringas layaknya mobil sport.

Torsi puncaknya yang mampu menyentuh angka 370 Nm di kisaran 1.200-1.400 rpm terasa tersalur sempurna ke roda belakang melalui transmisi
9G-Tronic.

Tak terasa display full digital multifungsi menunjukkan kecepatan 185 km/jam. Pedal akselerator masih menyisakan banyak spasi sehingga menggoda saya untuk memacu kendaraan ke limit kemampuannya.

Hanya dengan sentuhan ringan di pedal, sedan rakitan lokal seberat 1.635 kilogram ini terasa tidak memiliki bobot untuk berakselerasi dengan agresif.

Kapan pun tenaga dibutuhkan selalu siap tersaji tanpa terputus.

Hal ini menepis keraguan saat melongok kapasitas mesin Mercedes-Benz E-Class generasi ke-10 ini yang 'hanya' 2.000 cc jika dibandingkan dengan ukuran bodinya yang tergolong bongsor dan lebih besar jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

Keluar dari tol Salatiga, kami disuguhi jalan sempit dan padat tapi tetap lancar.

Tiba di Boyolali, sedan berbanderol Rp1,129 miliar (off the road) itu saya arahkan ke jalan Jatinom menuju Kota Klaten.

Bicara kenyamanan posisi mengemudi, tersaji jok berlapis kulit
berpengatur elektrik.

Pengemudi juga dipermudah untuk tetap fokus ke jalan tanpa perlu tangan lepas dari roda kemudi berkat fitur-fitur canggih yang disediakan infotainment system yang terintegrasi dengan navigasi, pengaturan kendaraan, dan telepon.

Singkat cerita, sebelum pukul 16.00 kami sudah berkumpul dengan keluarga besar.

Catatan saja, waktu tempuh perjalanan sekitar 14 jam plus 7 jam istirahat dalam perjalanan. (Cdx/S-4)

Komentar