Surat Pembaca

Perlunya Pemerataan Pendidikan dan Pembangunan Infrastruktur

Senin, 10 July 2017 07:10 WIB Penulis:

ANTARA/Didik Suhartono

CERITA tentang suka dan duka mudik telah usai pascaliburan Lebaran selesai. Kini cerita berganti dengan berbondong-bondongnya warga desa datang ke kota untuk mencari penghidupan yang lebih baik.

Mereka datang ke kota karena dibawa sanak saudara atau datang sendiri karena tergiur dengan cerita kehidupan yang menjanjikan di kota besar.

Kedatangan warga desa ke kota atau yang lebih dikenal dengan urbanisasi marak menjadi perbincangan pascamudik ke kampung halaman.

Urbanisasi menurut pakar perubahan sosial Shryyock dan Siegel ialah sebuah pertambahan penduduk di daerah perkotaan.

Hal itu baik disebabkan bertambahnya angka kelahiran maupun terjadi pertumbuhan karena perpindahan penduduk.

Kehidupan yang lebih baik, fasilitas kesehatan, transportasi, fasilitas pendidikan, dan kemudahan lainnya yang didapat di kota-kota besar, terutama di Jakarta menjadi daya tarik bagi pendatang dari desa.

Padahal, belum tentu cerita tentang kehidupan yang lebih baik di perkotaan itu benar.

Namun demikian, kita harus akui bahwa kesenjangan antara perkotaan dan perdesaan sangat jauh.

Salah satunya di bidang pendidikan yang terjadi 'gap' antara Pulau Jawa dan di luar Pulau Jawa.

Pendidikan di luar Pulau Jawa masih jauh dari harapan.

Hal itu misalnya bisa dilihat dari indikator nilai Ujian Nasional (UN).

Nilai rata-rata UN di Pulau Jawa dan di luar Pulau Jawa, misalnya di Papua, selisihnya sangat jauh.

Kesenjangan ini terjadi akibat fasilitas pendidikan dan kualitas pengajar di Pulau Jawa dan di luar Pulau Jawa sangat berbeda.

Dari segi pendidikan saja, sudah terjadi kesenjangan pemerataan pendidikan.

Hal itu mengakibatkan mutu pendidikan di luar Pulau Jawa tidak sebaik di Pulau Jawa.

Tidak mengherankan banyak pelajar yang memilih merantau ke kota besar untuk meneruskan pendidikan karena adanya dukungan fasilitas dan kesempatan mendapatkan pendidikan yang lebih baik.

Setelah mereka selesai mengenyam pendidikan yang layak, mereka bukannya membangun desa, melainkan lebih mencari penghidupan yang lebih baik di kota.

Untuk menghindari hal itu, pemerintah harus memberikan perhatian lebih terhadap masalah pendidikan.

Upaya yang dilakukan misalnya pemberian program beasiswa bagi masyarakat pelosok serta fasilitas sarana dan prasarana pendidikan.

Berbagai kemudahan dalam akses pendidikan yang diberikan untuk warga perdesaan bertujuan agar desa itu dapat berkembang menjadi lebih baik bukan mencari kehidupan yang lebih baik di perkotaan.

Dalam hal ekonomi, alasan mencari kehidupan yang lebih baik di perkotaan selalu menjadi alasan utama warga desa untuk pergi ke kota besar.

Untuk menghindari hal itu, pemerintah daerah memberikan lebih banyak peluang lapangan pekerjaan dengan memberikan pelatihan keterampilan pada masyarakatnya.

Diharapkan dengan memberikan pelatihan tersebut akan membuka wawasan masyarakatnya untuk mengembangkan kreativitas dalam memanfaat potensi yang ada di daerah mereka. Hal itu tentunya akan membuka lapangan pekerjaan yang lebih luas.

Selain itu, pemerintah daerah gencar memberikan bantuan untuk usaha kecil agar bisa berkembang.

Bila usaha kecil itu tumbuh, tentunya akan menumbuhkan perekonomian di wilayah tersebut.

Hal itu tentunya tidak membuat mereka tergiur untuk mengadu nasib ke kota mengingat kehidupan mereka sudah lebih baik di desa.

Peningkatan infrastruktur di daerah juga akan menaikkan tingkat perekonomian wilayah tersebut.

Untuk itu, pemerintah jangan terpaku hanya membangun di kota. Pembangunan di wilayah-wilayah terpencil pun harus menjadi perhatian agar akses wilayah tersebut terbuka.

Urbanisasi bukanlah satu jalan untuk kehidupan lebih baik karena pada dasarnya saat semua orang berpindah dan berpusat pada satu tempat tentu akan menjadi masalah baru.

Saingan dalam memperebutkan lapangan pekerjaan tentu lebih ketat sehingga tidak dimungkiri hal itu akan menyebabkan tingginya tingkat pengangguran.

Hal itu tentunya akan berkolerasi erat dengan tingginya tingkat kemiskinan.

Untuk itu, masyarakat dan pemerintah harus benar-benar menyadari bahayanya urbanisasi.

Wentina Magdalena Mahasiswi USU, Medan, Sumatra Utara

Komentar