Otomotif

Geely Beli Perusahaan Mobil Terbang Terrafugia

Ahad, 9 July 2017 15:52 WIB Penulis: M. Bagus Rachmanto

Mobil terbang TF-X. Autoevolution

PERUSAHAAN asal Tiongkok Zhejiang Geely Holding Group, terus melebarkan sayapnya dengan mengusai produsen otomotif besar dunia. Setelah beberapa waktu lalu membeli saham produsen otomotif nasional Malaysia, Proton, sebesar 49,9 persen, dan membeli saham mayoritas merek mobil sport Inggris Lotus, sebesar 51 persen.

Dikutip dari Autoguide, kini Geely membeli saham Terrafugia, perusahaan mobil terbang Amerika. "Dengan Proton dan Lotus bergabung bersama portofolio merek Geely Group, Geely akan memperkuat jejak globalnya dan mengembangkan tempat berpijak di Asia Tenggara," kata Wakil Presiden Eksekutif dan CFO Geel, Li Donghui.

Terrafugia berdiri pada 2006 dan meluncurkan prototipe pertamanya pada 2009. Pada 2013 Terrafugia mengumumkan produksi TF-X sebagai mobil terbang. Perusahaan tersebut mengatakan bahwa mereka berniat untuk menjual mobil terbang ke publik pada 2019.

Desain TF-X disebut telah melalui berbagai tahap pengujian dengan model skala terowongan angin. Hal yang sangat menarik dari mobil terbang ini, karena akan menjadi sebuah kendaraan listrik hibrida, dengan memiliki ruang kabin yang dapat menampung empat orang penumpang.

Mobil ini didesain layaknya mobil standar lainnya yang bisa diparkir dalam garasi. Perusahaan mengklaim, bahwa pemilik mobil terbang ini hanya butuh waktu lima jam untuk bisa menguasai fitur dan semua cara untuk menerbangkan mobilnya.

TF-X juga dapat melakukan lepas landas secara vertikal, dan untuk prosedur pendaratan dapat dilakukan dengan fitur autopilot yang dirancang khusus. Tidak hanya itu, mobil terbang ini juga memiliki fitur otonom yang bisa digunakan dalam kondisi tertentu.

Mengenai informasi harga jual mobil terbang ini belum bisa dipastikan, diperkirakan masih butuh beberapa tahun lagi sampai TF-X dapat beroperasi sepenuhnya. Namun pihak perusahaan menargetkan harga mobil ini tidak kurang dari enam digit yang diperkirakan USD3 juta-USD4 juta (sekitar Rp39 miliar-52 miliar). (MTVN/OL-7)

Komentar