Tifa

Generasi yang Menolak Lupa

Ahad, 9 July 2017 16:45 WIB Penulis:

MI/ABDILLAH M MARZUQI

INI cerita tentang sebuah generasi yang mengalami sebuah periode transisi sosial dan sosial dari sebuah kehidupan berbangsa dan bernegara di era 1980-1990-an. Mereka berada dalam kondisi Indonesia yang sedang berada di masa kepemimpinan Orde Baru yang menawarkan stabilitas politik dan ekonomi.

Indonesia dicitrakan menjadi negeri aman tentram gemah ripah loh jinawi. Bagi generasi itu, keindonesiaan merupakan sebuah pertanyaan besar yang terus-menerus mereka cari. Pencarian ini didasari beragam bentrokan berbagai hal yang saling tumpang tindih dalam benak.

Itulah yang melandasi kelompok KillSkill dalam pameran bertajuk Cum On Feel The Noize pada 7-17 Juli 2017 di Galeri Nasional Indonesia. Pameran itu dikuratori Evelyn Huang dan Yuka Dian Narendra.

Berbincang tentang judul pameran, tajuk itu mengingatkan sebuah lagu dari band heavy metal bernama Quiet Riot. Cum on Feel the Noize ialah single dari album Metal Health yang populer sekitar 1984-1985. Lagu Cum on Feel the Noize diubah menjadi anthem yang ceria dan penuh semangat melawan kemapanan.

KillSkill ialah kelompok enam seniman berdomisili di Jakarta dan Bandung yang mewadahi diri dalam satu kolektif seni rupa. Mereka juga merupakan alumni Institut Teknologi Bandung yang mengambil jurusan desain dan seni murni pada 1994 sampai 1996. Nama kelompok itu diambil sebagai satire atau glorifikasi akan parodi, ironi, pola pikir, kebiasaan, napas kultural, dan hidup masyarakat di kota besar yang berjalan terlalu cepat.

Sebagai kolektif yang memiliki latar pendidikan yang sama, KillSkill memahami betul bagaimana perkembangan seni rupa dan desain di era transisi politik dan sosial pada periode 1990-an. Keberanian KillSkill mengungkap wilayah ideologis masih terus berjalan hingga kini karena segala problematika dan masalah sosial sejak mereka menempuh pendidikan sampai sekarang juga masih ada. Stagnasi lingkungan dan kemandekan kemajuan masyarakat ialah bahan baku yang kerap mereka suarakan sebagai amunisi berkarya.

Pemberontakan kultural

Dalam dua pameran sebelumnya di Jakarta dan Bandung, konsep karya KillSkill selalu menyiratkan napas ideologis, kritik sosial, dan pemberontakan kultural yang tersirat melalui simbol-simbol populer pengalaman pribadi, pandangan, kesukaan simbol, imaji, keresahan serta kegelisahan visi dari tiap personil. Begitu pun dalam pameran kali ini. Wahyudi Pratama mencoba memaknai manusia dalam karya bertema Manowar yang terdiri atas empat lukisan, yakni Man of Fear, Man of Intention, Man of Thorns, dan Man of Nothing.

Bonifacius Djoko Santoso melalui karya Instalasi berjudul Jarum Keras sedang mempertanyakan bangsanya yang mengalami kecanduan ideologi akibat pergeseran ideologi dan perubahan peradaban.
Dodi Hilman membaurkan mitos dan historisitas dalam karyanya. Baginya, persoalan keindonesiaan tidak kunjung selesai karena historisitas bangsa ini kerap tergelincir ke dalam pemitosan. Lambok Hutabarat tertarik dengan segala hal berbau militer. Ia menceritakan ilusi tentang perang. Perang selalu membawa persoalan kemanusiaan dan pada saat yang sama, perang terkadang harus terjadi atas nama kemanusiaan.

Yulian Ardhi menawarkan konsep panggung dalam karya video instalasinya. Baginya, panggung konser musik merupakan potongan-potongan dari citra utuh yang mungkin tidak akan kita ketahui bentuk utuhnya. Aris Darisman membicarakan manusia dalam fragmen kehidupan dan kematian. Karya instalasinya terdiri dari sejumlah replika tengkorak manusia dari keramik.

Pameran Quiet Riot On Stage merupakan artikulasi dari pengalaman generasi transisi abad 20 menghadapi lajunya putaran dunia dan deru perubahan. "Generasi transisi yang direpresentasikan oleh KillSkill ini sebenarnya sedang mempertanyakan historisitas mereka, ketika perubahan peradaban mengkondisikan historisitas itu menjadi tamasya belaka, tidak ubahnya turis yang berfoto di situs bersejarah menggunakan telepon seluler lalu mengunggahnya ke Instagram," begitu secuplik kalimat dalam kuratorial Cum On Feel The Noize: Generasi Transisi Menolak Tua dan Menolak Lupa. Abdillah M Marzuqi/M-2

Komentar