Tifa

Memadukan Eropa dan Indonesia

Ahad, 9 July 2017 17:15 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

MI/ABDILLAH M MARZUQI

SEJUMLAH 20 kanvas itu punya mode gambar pola yang sama. Bentuk kotak persegi seolah disusun sedemikian rupa hingga menyerupai pola bidang pada papan catur. Setiap bidang persegi diatasi garis simetris yang membujur dan melintang.

Rob Renoult tampak konsisten dengan pembagian taferal itu. Bidang gambar ia bagi menjadi 48 kotakan. Lalu setiap dari kotakan persegi itu diisi dengan warna-warna kuat. Bahkan tampak beberapa saling berlawanan dan bertabrakan, seperti hitam dan putih. Setiap kotak memangku warna yang berbeda. Kontras sekaligus harmonis tampak dalam tiap perbedaan warna yang mengisi kotakan tersebut.

Itulah kesan yang didapat ketika memperhatikan karya Rob Renoult dalam pemeran tunggal Unfinished Business pada 2 Juni sampai 15 Juli 2017 di Erasmus Huis, Jakarta. Sejumlah 20 karya dipamerkan dalam helatan tersebut. Semua karya memakai pola gambaran sama, yakni simetris persegi dalam bidang taferal.

Renoult (1955) ialah seniman berdarah Indonesia kelahiran Friesland, Belanda. Orangtuanya pindah ke Belanda awal 1950-an. Berangkat dari situlah, timbul keinginan Renoult untuk memasukkan keakaran budaya dan tradisi Indonesia dalam karyanya. Darah Indonesia yang mengalir dalam dirinya menjadi bagian dari konsep yang mulai ia jelajahi seolah ingin menyambung kembali dengan asalnya.

Banyak seniman Eropa yang bisa memasukkan unsur dari warisan budaya dan suku, bahkan agama ke dalam karya mereka. Karya mereka pun mendapat sambutan baik. Lantas Renoult pun mengajukan gagasan sama pada dirinya. Ia berusaha menjadikan tradisi dan budaya Indonesia sebagai basis kekaryaan.

"Saya orang Maluku, lahir dan besar di Belanda. Selalu ada keinginan untuk mengadakan pameran di Indonesia. Dalam karya, saya menggunakan unsur-unsur yang mengacu pada seni dan tradisi Indonesia," terang Renoult ketika dihubungi melalui surel.

Bakat seni

Sejak usia dini, Renoult sudah gemar menggambar dan melukis. Bakat seni sudah nampak dalam dirinya. Bahkan saat ia duduk di bangku taman kanak-kanak, tak jarang gurunya meminta gambar hasil karya Renoult. Itu merupakan suatu dorongan besar untuk tetap menggambar.

Renoult lalu memutuskan masuk sekolah seni. Sayangnya, sekolah itu tidak berhasil ia rampungkan. Ketika menjadi pelajar itulah, Renoult sering diundang untuk ikut dalam berbagai program kesenian sehingga keputusan untuk berhenti sekolah lebih disebabkan keadaan ketimbang keinginan sendiri.

Pada 1980, Renoult kembali ke Amsterdam untuk memulai kariernya sebagai seniman profesional. Semua berjalan dengan lancar. Pada 1982, Renoult ikut sebuah pameran bersama seniman-seniman ternama dan ini berjalan lancar. Awal dari sebuah karier. Namun menjadi bagian dari seni internasional tidak memberikan Renoult kepuasan yang ia cari dan ia pun memutuskan berubah haluan. Renoult lalu berangkat untuk menghubungkan latar belakang Indonesia dan Eropa. Keduanya meninggalkan jejak dalam dirinya sejak usia dini.

Baginya, hal yang tersulit ialah mengaitkan gagasan itu dengan konsep kontemporer seni modern. Bukan hal mudah mencoba sesuatu yang baru tanpa acuan terhadap gambaran yang ada. Itulah sebabnya banyak yang cenderung mengabaikannya. Namun, Rob tidak berhenti. Ia menolak jalanan mulus yang bisa membuatnya terjebak dalam zona nyaman. Ia pun berpikir liar dan mencoba keluar dari batasan yang selama ini mengungkungnya. Sejalan dengan itulah, ia mendapatkan inspirasi dari asal-usul dirinya.

Pameran ini seolah menjadi pemberhentian sementara dari kurun 30 tahun Rob Renoult berkarya. Karya-karya yang dipamerkan merupakan titik kulminasi dari konsep-konsep yang dikembangkannya. Pengaruh tradisi Indonesia sangat kuat terasa.

Karya yang dipamerkan pun memakai judul yang unik. Dua puluh karya diberi tajuk Kain # 1 sampai Kain # 20. Semua karya bernuansa warna mencolok dan kontras. Seperti karya berjudul Kain # 11. Sepintas karya Renoult membangkitkan kesan terhadap karya-karya seniman lain yang lebih dulu terkenal dengan garis simetris yang dinamis dan penggunaan warna primer yang mencolok.

Karya Renoult lebih kaya dengan warna kontras dan mencolok. Garis simetris dari seri Komposisi dan karya lainnya lebih bersifat pribadi. Renoult ingin menegaskan individualitas dan warisan budaya. Bentuk dan warna dalam karyanya banyak diinspirasi pola kotak-kotak sarung, batik, dan wayang serta seni rupa Indonesia lainnya.

Sebagai seorang asal Indonesia, Renoult telah menentukan visi untuk karyanya. Ia pun punya misi untuk dilakukan. Ia bertekad untuk lebih menggali konten dan bentuk karya. Ia berhasrat menciptakan cara berpikir dan memahami banyak hal baru. Karyanya merupakan proses penggabungan dan penghubungan antara budaya Indonesia dan Eropa. Sebab keduanya setara. Sama pentingnya. "Saya berpikir Asia secara keseluruhan harus mendefinisikan kembali persepsi tentang seni dan seni modern pada khususnya. Seni Asia sama pentingnya dengan seni Eropa. Tapi telah disingkirkan sebagai inferior seni Barat sebagai bagian dari konsep kolonial," pungkasnya. (M-2)

Komentar