PIGURA

Membangun Jati Diri

Ahad, 9 July 2017 17:45 WIB Penulis: Ono Sarwono

TUJUAN mulia program sekolah lima hari yang hingga saat ini masih dimatangkan pemerintah ialah untuk membentuk karakter siswa. Ini amat mendasar karena tanpa karakter, kepintaran bisa meliarkannya.

Generasi tanpa karakter akan sangat membahayakan. Bila merenungkan begitu kompleksnya persoalan bangsa kini, salah satu faktor penyebabnya ialah sebagian besar kita memang minus berkarakter baik. Ibaratnya, bangsa ini sekadar kumpulan ratusan juta orang yang hidup di suatu wilayah tanpa kepribadian yang jelas. Jadi sudah benar bila generasi masa depan dibangun karakternya sejak dini. Dalam konteks entitas bangsa, karakter ialah jati diri. Inilah yang membedakan sekaligus keunggulan dengan bangsa lain.

Kesadaran akan pentingnya anak bangsa yang pintar dan berkarakter seperti itu terceritakan dalam jagat wayang. Pionirnya sesepuh Astina Resi Bhisma. Ia mempersiapkan generasi penerus dengan mendirikan pendidikan full day school. Pengasuhnya ialah Resi Durna.

Padepokan Sokalima

Diceritakan, pascamangkatnya Raja Astina Prabu Pandudewanata, harapan sebagai pemimpin masa depan berada di pundak para Pandawa dan Kurawa. Pandawa, yang terdiri dari lima orang, merupakan putra Pandu. Kurawa, yang berjumlah seratus orang, ialah putra Drestarastra.

Pandu dan Drestarastra bersaudara kandung lain ibu dari ayah Prabu Kesnadwipayana alias Abiyasa. Dengan demikian, antara Pandawa dan Kurawa bersaudara sepupu. Masih ada saudara sepupu mereka lain ibu, yakni Sanjaya dan Yuyutsu, putra Yamawidura, anak bungsu Abiyasa.

Tokoh sentral yang memiliki tanggung jawab mempersiapkan generasi pemimpin berkualitas masa depan yaitu Bhisma alias Dewabrata. Sangat beralasan karena Bhisma ialah ahli waris sejati Astina. Ia putra Prabu Sentanu, raja Astina sebelumnya, dengan Dewi Gangga.
Dewabrata legawa tidak menjadi putra mahkota demi ayahnya yang menikahi Dewi Durgandini setelah ibunya kembali ke Kahyangan. Ibu tirinya itu bersedia disunting Sentanu dengan syarat anak keturunan mereka nanti yang menjadi raja di kelak kemudian hari.

Bhisma memutuskan memilih Bambang Kumbayana, musafir dari Negara Atasangin, sebagai guru Pandawa dan Kurawa. Pertimbangannya, Kumbayana kaya ilmu, baik kanuragan (kesaktian) maupun kepribadian.

Untuk keperluan itu, raja ad interim Astina Drestarastra menggelontorkan anggaran tak terbatas. Maka berdirilah Padepokan Sokalima yang megah lengkap dengan sarana dan prasarananya. Lembaga pendidikan itu berada di wilayah yang dulu bagian dari Negara Pancala.

Durna membuat kurikulum full day (sehari penuh). Dari pagi hingga siang diisi pelajaran berbagai ilmu dan praktik. Pada sore harinya, diajarkan ilmu perilaku dan kepribadian.

Kurikulum tersebut merupakan penjabaran dari kehendak Bhisma agar Pandawa dan Kurawa kelak menjadi para kesatria yang bukan hanya pintar dan sakti mandraguna, melainkan juga berkarakter unggul. Inilah generasi yang diharapkan akan membawa Astina tetap kuncara semarcapada. Akan tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, impian Bhisma tak berbuah sempurna. Pandawa dan Kurawa bak langit dan bumi. Pandawa tumbuh dan berkembang menjadi kestaria utama, sedangkan Kurawa kopong.

Kenapa demikian? Ternyata, ada faktor pendidikan di luar sekolah resmi yang ternyata pengaruhnya justru menjangkar kuat terhadap mereka.

Ajaran luhur

Perbedaan pendidikan 'tambahan' itulah yang menyebabkan kualitas Pandawa dan Kurawa jadi berbeda ekstrem. Bukan itu saja, Kurawa malah menjadi insan-insan pendengki dan pembenci Pandawa.

Sosok yang berperan membuat putih dan hitamnya trah Abiyasa itu adalah Kunti Talibrata dan Sengkuni. Kunti, yang merupakan ibu Pandawa, mendidik anak-anaknya dengan ajaran luhur yang membentuk karakter mulia, sedangkan ajaran Sengkuni berada pada jalur pragmatisme. Sengkuni ialah paman Kurawa dari garis ibu (Dewi Gendari) yang menjabat sebagai patih di Astina.

Di tempat tinggalnya, kepatihan, Sengkuni mencekoki keponakannya dengan paham 'machiavelis', menghalalkan segala cara. Untuk mencapai tujuan tidak perlu memperhatikan koridor-koridor moral. Siapa pun yang menjadi penghalang mesti diganyang. Tidak peduli mereka saudara sendiri atau orang lain. Menurut pandangannya, tidak ada gunanya berjiwa luhur tapi hidupnya melarat. Martabat terletak pada kekuasaan dan kekayaaan yang digenggam.

Intensitas ajaran disertai pendekatan 'kekeluargaan' yang digencarkan Sengkuni membuat Kurawa hanyut dalam pemikirannya. Kurawa menjadi insan-insan yang haus kekuasaan dan tega melakukan apa pun demi mendapatkan kekuasaan demi kenikmatan duniawi.

Sebaliknya, Pandawa mendapat pelajaran suci dari Kunti setiap hari sepulang sekolah. Di Kesatrian Panggobakan, rumah adiknya, Yama Wudura, Kunti dengan sabar, tekun, dan penuh kasih sayang menggulawentah Pandawa dengan budi pekerti atau ajaran luhur lainnya. Kemudian, setiap tengah malam, Kunti mahas ing asemun (semedi) memohon kepada dewa agar anak-anaknya menjadi kesatria-kesatria utama.

Inilah yang pada akhirnya menjadikan Pandawa, yakni Puntadewa, werkudara, Arjuna, Nakula, dan Sadewa, menjelma sebagai kesatria linuwih (hebat). Mereka ialah para insan yang berjiwa seminau.
Tentu yang menjadikan Pandawa sebagai kesatria yang bercahaya karena mereka sendiri memang gandrung keutamaan. Kepintaran menjadikan mereka 'lurus' karena memiliki kualitas kepribadian.

Pendidikan di rumah

Dengan modal itulah Pandawa menjalani amanah hidup, termasuk dalam berpolitik pada dewasanya. Maka muncullah politik luhur bahwa kekuasaan bukan segala-galanya, yang lebih mendasar ialah bagaimana menggapainya, yakni dengan etika, moral, dan beradab.

Konteks dengan pendidikan karakter generasi muda (siswa), selain pendidikan formal, pendidikan di luar sekolah sangat penting terutama dalam rumah tangga. Peran orangtua atau orang-orang paling dekat sungguh berpengaruh.

Pandawa dan Kurawa yang sama-sama dididik guru yang sama, dengan ilmu yang sama pula, tapi menjadi generasi yang berbeda. Itu terjadi karena ada pendidikan keluarga yang diperankan Kunti dan Sengkuni.

Kunti memoles Pandawa menjadi anak anung anindita, anak-anak yang pintar dan berjiwa luhur. Sebaliknya, Sengkuni menghanyutkan Kurawa menjadi insan-insan berjiwa miskin. Rezim Kurawa inilah yang pada akhirnya membangkrutkan Astina. (M-4)

Komentar