Jeda

Konservasi yang Berpadu Wisata

Ahad, 9 July 2017 16:00 WIB Penulis: Fario Untung Tanu

DOK. YAYASAN KONSERVASI SAWAH BALII

Di sawah itu perempuan berkulit putih dan berambut pirang tekun menanam benih padi. Rumpun demi rumpun padi ditanam di tiap bidang mengikuti batas kotak-kotak di sawah tersebut.

Orang-orang itu bukanlah petani sungguhan, melainkan turis yang mengikuti pelatihan permaculture yang diselenggarakan oleh Yayasan Konservasi Sawah Bali (YKSB). Setelah diselenggarakan Juli 2014, program pelatihan itu telah banyak menjadi tujuan wisman.

Padahal, program yang berlangsung di areal persawahan seluas 50 hektare di Kedewetan, Ubud, Bali, itu tindak singkat. Total workshop berlangsung empat minggu dengan 70% berupa aktivitas di lapangan.

"Misi utamanya untuk melestarikan sawah sebagai warisan leluhur Bali dan merestrukturisasi produksi pertanian demi kesetaraan ekonomi dan kesehatan para petani di Bali," tutur Project Manager Yayasan Konservasi Sawah Bali (YKSB), Made Suraja, kepada Media Indonesia, Rabu (5/7).

Pelestarian persawahan di Bali dirasakan kian mendesak akibat alih fungsi lahan, baik untuk perumahan maupun untuk fasilitas turisme. Tidak sekadar mempertahankan lahan, petani juga diajak beralih ke sistem pertanian berkelanjutan dengan menerapkan permaculture. Sistem ini merupakan sistem penataan, baik usaha pertanian, perikanan, maupun limbah yang memanfaatkan semua aspek dari ekosistem agar saling menunjang.

Ketika sistem dijalankan, potensi turisme pun terbuka karena nyatanya memang banyak nilai dan hal yang bisa menarik khalayak luas. Terlebih, wisatawan juga sekaligus bisa menyelami budaya dan adat-istiadat masyarakat Bali yang terkenal kekeluargaan dan sarat tradisi.

"Selain itu, aplikasi pariwisata berkelanjutan seperti ini memastikan terjaganya kelestarian budaya lokal dan tetap terjaganya lingkungan hidup akibat implementasi yang selalu mengacu kepada upaya menjaga lingkungan hidup," jelas Made Suraja. Saat ini, tambahnya, telah 135 petani petani bergabung menerapkan pemaculture.

Turisme dalam kemasan edukasi juga digelar oleh Woven Earth. Seperti juga YKSB, Woven Earth juga mengadakan pelatihan permaculture dan berawal dengan misi untuk menggerakkan petani lokal ke pertanian berkelanjutan.

Lewat situsnya terlihat, pelatihan permaculture digelar cukup rutin dan memakan waktu cukup panjang, yakni sekitar 2 minggu. Untuk bisa mengikuti kelas itu, turis asing harus membayar US$695 (Rp9,3 juta) sementara turis lokal cukup membayar Rp3 juta.

"Kita sebut hal ini seperti ekowisata, yakni wisatawan lokal dan asing bisa belajar memproduksi yang namanya beras dari bibit awal sampai panen sehingga sistem pariwisata baru, yakni sustainable tourism bisa tercipta," kata mentor pemaculture Woven Earth yang juga pendiri Yayasan Tri Hita Karana Bali, I Made Chakra Widia.

Melatih kejujuran

Kegigihan berlahir dari pertanian konvensional ke pertanian lestari juga ada di Kelurahan Temas, Kota Batu, Jawa Timur. Mereka bergerak lewat Kelompok Organik Kelurahan Temas yang digagas oleh mantan Lurah Aditya Prasaja pada 2012, lalu diteruskan warga serta lurah saat ini Bambang Hari Suliyan.
Setelah pertanian organik dimulai, pariwisata pun ikut berkembang. Banyak wisatawan sengaja ingin belajar pertanian organik ke kelurahan itu.

Dalam sebulan, menurut Taselan, salah satu petani, mereka bisa mengantongi Rp500 ribu-Rp3 juta dari menjual sayur-mayur berbagai komoditas untuk melayani pelanggan dan wisatawan. Tidak hanya di Kelurahan Temas, pertanian organik juga berkembang di Kelurahan Tulungrejo, Kelurahan Pendem, Kelurahan Pesanggrahan dan Kelurahan Bumiaji. Setiap kelurahan memiliki komoditas unggulan, mulai sayur, beras hingga kopi.

Adapun di kampung wisata tani yang lokasinya tepat di belakang kantor Kelurahan Temas, juga menjadi andalan berbasis organik. Pengurus Harian Kampung Wisata Tani Kadiantono mengatakan jumlah kunjungan wisata rata-rata 100 orang per minggu. Mereka umumnya ingin belajar pertanian organik.

Ia mengungkapkan kampung wisata di lahan eks tanah kas desa itu dibangun sejak 2013 yang didanai program PNPM sebesar Rp1 miliar. Pengelolanya ada unsur Badan Keswadayaan Masyarakat yang dibentuk PNPM, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK), dan perwakilan rukun warga. Sejak saat itu, sudah banyak wisatawan domestik dan mancanegara yang berkunjung. Mahasiswa dari Jepang dan Singapura baru-baru ini melakukan studi banding dan belajar pertanian organik.

Kepala Kelurahan Temas Bambang Hari Suliyan menjelaskan para petani organik mendapatkan insentif Rp900 ribu per bulan. Pemberian bantuan itu dievaluasi selama empat bulan dan bisa diperpanjang hingga mereka mampu mandiri berbasis pemberdayaan masyarakat.

"Ada 9 petani organik yang menerima insentif dari 3.800 petani konvensional di Kelurahan Temas," kata Bambang. Pemasaran produk sudah merambah kafe-kafe di Kota Malang, toko swalayan, dan hotel. Maka dari situ pertanian organik tidak hanya menghidupkan pariwisata, tetapi juga industri pangan. (BG/M-3)

Komentar