Jeda

Menang Banyak lewat Ekoturisme

Ahad, 9 July 2017 08:00 WIB Penulis:

FOTO Obama sekeluarga kala berjalan-jalan di persawahan Jatiluwih, Bali, menjadi salah satu kenangan ikonis tentang liburan keluarga itu di Indonesia, bulan lalu. Ketika mereka juga berkunjung ke Bumi Langit di Imogiri, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), ada kesan kuat tentang wisata yang disukai.

Mantan keluarga nomor satu Amerika Serikat itu memilih wisata yang menghargai alam, budaya, dan masyarakat lokal atau biasa disebut sebagai ekoturisme.

Minat serupa keluarga Obama itu nyatanya juga marak terlihat di beberapa tempat ekoturisme di Nusantara. Di persawahan Kedewatan, di Ubud, turis berambut pirang turun ke sawah untuk menanam padi bersama dengan petani. Hal mirip juga terlihat di sebuah lahan perkebunan organik di Kelurahan Temas, Kota Batu, Jawa Timur.

Antusiasme wisatawan mancanegara (wisman) ini sekaligus menunjukkan potensi ekoturisme Indonesia. Direktur Eksekutif Indonesia Ecotourism Network Ary Suhandi, Selasa (4/7), mengungkapkan ekoturisme pantas digarap dengan serius karena sesungguhnya tidak hanya unggul dalam sisi lingkungan, tetapi juga ekonomi.

"Lama tinggal turis (ekoturisme) lebih tinggi dan rata-rata pengeluaran per hari lebih tinggi daripada wisata konvensional. Skala menengah hingga tinggi bisa menghabiskan US$100-US$300 per hari," jelas Ary.

Potensi ekonomi ekoturisme juga sudah lama disadari dunia. Survei-survei organisasi turisme menunjukkan kecenderungan wisatawan pada kepedulian lingkungan. Survei Global Trip Advisor pada 2013 menyebutkan 79% responden menginginkan para penyedia akomodasi melakukan manajemen lingkungan yang lestari.

Karena itu, Ary berpendapat sudah saatnya ekoturisme benar-benar digarap secara serius. Terlebih, ketika pemerintah memasukkan pariwisata ke dalam lima sektor prioritas pembangunan 2017, semestinya ekoturisme masuk di dalamnya. Dengan begitu, ekoturisme dapat menjadi andalan pariwisata Indonesia. Rio/AT/BN/M-3

Komentar