Gaya Urban

Solidaritas Cantik di atas Sepeda

Ahad, 9 July 2017 06:01 WIB Penulis: Fario Untung Tanu

DOK. WCC INDONESIA

Merasa kerap ditinggal saat latihan dengan para pria, pesepeda perempuan ini mendirikan komunitas sendiri dan membuktikan mampu melibas medan-medan berat.

DI bawah terik matahari, Christin Wijaya mulai merasa lemas dan dehidrasi. Saat itu ia memang sedang menguras tenaga di atas sepeda. Rute yang harus ditempuhnya tidak sepele, yakni 100 km dengan tujuan akhir kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur.

Sudah hampir 3 jam Christin menggowes dan jarak yang terlewati baru setengah perjalanan. "Ada tiga tahapan jarak yang harus saya lewati, pertama lintasan datar dan makin lama makin menanjak," kenang Christin soal lomba bersepeda yang ia ikuti Maret lalu.

Bercerita kepada Media Indonesia di Jakarta, Selasa (20/6), Christin menjelaskan 60 km pertama di rute bersepada itu adalah lintasan datar. Sejauh 25 km selanjutnya lintasan sedikit menanjak dan kemudian makin miring di 15 km terakhir.

""Happy banget bisa sampai garis akhir karena itu tidak pernah saya bayangkan mengingat ini event lomba saya yang pertama dan di Bromo pula," tutur perempuan berusia 35 tahun itu.

Prestasi Christin jelas bukan sepele. Bahkan para pria pesepeda pun banyak yang tidak sanggup melahap lomba ini.

Christin mengungkapkan salah satu faktor keberhasilannya ialah berkat solidaritas para pesepeda perempuan. Christin ialah salah satu pionir komunitas Women Cycling Community (WCC).

Tidak hanya dirinya, ada 18 anggota WCC lainnya yang ikut serta dalam lomba bersepeda di Bromo tersebut. Kebersamaan mereka pun sudah terbangun sejak jauh hari dengan latihan bersama.

Christin menuturkan, untuk lomba di Bromo, ia bersama komunitasnya kerap latihan di kawasan Sentul. Tempat ini dipilih karena memiliki udara sejuk dan lintasan menannjak.

"Persiapan sebelum ikut event Bromo itu bisa dibilang tidak sembarang karena anggota WCC lain yang ikut event memilih latihan di Sentul. Di sana ada tanjakan yang jarak tempuhnya sekitar 14 kilometer dan cukup menguras stamina," sambung Christin. Selain itu, Christin kerap berlatih di kawasan Puncak hingga Bandung. Selain bersama anggota WWC, goweser pria kerap bergabung.

Minoritas

Awal pendirian WCC sendiri digawangi Christin dan Helen Susanto. Helen mengungkapkan ide awal WCC karena perasaan minoritas yang kerap dialami saat bersepeda.

"Kita (perempuan) sangatlah minoritas. Jadi kalau lagi ikut event atau latihan pasti ketinggalan sama biker cowok," tutur Helen yang sudah empat tahun serius menekuni olahraga sepeda. Dengan berlatih dalam komunitas perempuan, ia merasa percaya diri. Mereka bisa lebih saling mengerti akan karakter fisik sekaligus bisa saling menyemangati.

Helen yang tergabung dalam Fitness First Performance Team bersama dengan Christin itu juga mengungkapkan rasa solidaritas mereka pun besar. "kita tidak ada istilah senior, lebih jago atau lebih pengalaman, kalau sudah latihan bareng, yang ketinggalan pasti kita tungguin dan terus kita bimbing," kata perempuan 39 tahun ini.

Keahdiran WCC juga terbukti meningkatkan minat pesepeda perempuan. Para perempuan yang tadinya ragu-ragu untuk menekuni olahraga sepeda menjadi lebih berani mencoba. Kini anggota WCC telah mencapai 200 orang dan tersebar di berbagai kota di Indonesia. Mereka ibarat agen yang menunjukkan kepada perempuan lainnya bahwa olahraga sepeda juga dapat dinikmati perempuan, bahkan event sepeda yang menantang sekalipun.

Dari situ komunitas sepeda yang lebih luas pun semakin membuka mata akan keberadaan perempuan pesepeda. Kebutuhan mereka tidak lagi dianggap sepele. Dalam lomba, kehadiran mereka juga disambut dan diperhitungkan. (M-3)

Komentar