MI Muda

Inspirasi dari Tanjakan Nagreg

Ahad, 9 July 2017 01:31 WIB Penulis: Suryani Wandari

Dok. MI/Galih Pradipta

Ide itu berawal dari kemacetan di Nagreg serta besarnya risiko dari truk-truk yang sarat muatan.

BERAWAL dari pengalaman pribadinya melihat pengguna truk yang kesusahan saat berhenti di tanjakan, kedua mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Mercu Buana (UMB), Jakarta, Akhmad Zulfan Khumaydi dan Ofik Afrizalini membuat inovasi bernama Auto Wheelchok.

Alat yang bekerja dengan sensor ini memberikan perlindungan tambahan bagi angkutan barang maupun penumpang, khususnya kendaraan berbeban berat. Mekanisme kerjanya lebih menyerupai ganjal atau bantalan yang secara konvesional telah dilakukan para sopir angkutan barang dan penumpang.

Alhasil, ide inovasi karya tim Excelsior mendapat anugerah juara I pada kompetisi tingkat nasional bertema Safety and Eco-friendly Design for Automobile in the Future pada acara Invention of Mechanical Engineering Venture (I-MEV) 2017. Keduanya pun berhak mengikuti kompetisi serupa pada tingkat internasional. Muda berkempatan berbincang dengan mereka, Kamis (11/5).

Ceritakan dong ide awalnya dari mana?

Ofik: Saat pulang kampung ke Ciamis, pasti saya lewat kawasan Nagreg, Kabupaten Bandung, yang kondisi jalannya menanjak dan berliku. Saya mengamati tempat itu macet karena banyak truk mengangkut barang melebihi kapasitas sehingga terjadi selip.

Harus ada yang mengganjal ban truk dengan kayu atau batu saat di tanjakan. Sebenarnya itu kan bahaya juga buat yang bawa pengganjal maupun pengguna jalan lainnya.

Akhmad: Lalu kami berpikir dan berdiskusi bersama dosen pembimbing, Hadi Pranoto, untuk membuat inovasi, pasang pengganjal langsung pada kendaraannya. Alat ini juga bisa turun secara otomatis hingga mengurangi angka kecelakaan juga.

Cara kerjanya seperti apa?

Ketika di tanjakan, tentu truk yang memiliki beban besar tak bisa melewatinya, risikonya bisa selip dan mundur lagi. Saat mundur inilah sensor yang dipasang di rem tangan akan bekerja, artinya meskipun terjadi salip di rem tangan, masih bisa bekerja.

Lalu nanti diintegrasikan juga dengan sensor yang dipasang di roda sehingga mengeluarkan alarm berupa buzzer atau bunyi menyala. Alarm ini mengharuskan sopir menekan tombol yang dipasang di dasbor.

Fungsi tombol?

Tombolnya ada dua, yaitu untuk menaikkan dan menurunkan pengganjal yang dipasangkan pada bagian bawah kendaraan. Saat tombol on ditekan, pengganjal akan turun dan berada di belakang ban. Jika selesai, pengganjal bisa dinaikkan pakai tombol lainnya.

Satu set berisi apa saja?

Sistem navigasi, tombol on off, indikator lampu yang menyatakan bahwa alat tersebut sedang aktif. Ada pula buzzer juga untuk menyuruh sopir tekan tombol wheelchok, penambahan sensor juga di rem tangan, dan penggerak utama yang memakai sistem hidraulis, serta deteksi metal.

Berapa lama proses menggodok ide hingga jadi inovasi yang matang?

Kemarin sih prosesnya tiga bulanan, dari memikirkan ide hingga pematangannya. Sebenarnya ide kami banyak, seperti alat parkir, alat pendeteksi lubang, kamera untuk blindspot mobil dan sebagainya. Namun, untuk keperluan lomba ini kami memilih ide ini yang sederhana tapi bermanfaat, kami pun berpikir soal keamananannya.

Tantangan apa saja yang harus kalian hadapi dalam proses pembuatannya?

Tentu biaya sih karena kami masih mahasiswa. Meskipun bahannya mudah didapat, bisa diakses belanja daring, biayanya cukup besar yakni sekitar Rp7 juta-Rp10 juta per setnya.

Pengembangan pascamengikuti kompetisi itu?

Kami dalam proses mengurus hak paten, baru kemudian mencoba menawarkan ke beberapa perusahaan untuk dapat digunakan dalam beberapa kendaraan bermuatan besar. Untuk finansial dan segala macamnya, kami belum memungkinkan memproduksi, maka kami menjual idenya.

Menurut rencana akan dijual berapa jika ada yang tertarik dengan ide kalian?

Kita hanya ingin dibayar atas idenya, di luar sana, alat semacam ini bisa dihargai Rp30 juta satu setnya.

Menurut kalian seberapa efektif cara kerja alat ini?

Ganjal kayu, batu, dan sebagainya itu enggak standar. Inovasi kami, mengotomasinya. Menurut kami, alat ini sangat efektif, apalagi mampu menahan beban 2 ton hingga 25 ton.

Target ke depan?

Kami sih enggak ngoyo ide ini dikomersialkan. Kami ingin mewujudkan ide-ide kami lainnya yang ada di kepala, sekarang sedang fokus pada persiapan kompetisi internasional IYIA (International Young Award) pada September mendatang dengan penyempurnaan setiap detailnya. (M-1)

Komentar