KICK ANDY

Selamatkan Anak, Selamatkan Masa Depan

Sabtu, 8 July 2017 00:01 WIB Penulis: Siti Retno Wulandari

MI/Sumaryanto Bronto

USIANYA masih terbilang belia, tepatnya 15 tahun dan baru akan memasuki jenjang kelas dua SMA.

Namun, pemikiran Faye Simanjuntak sudah jauh ke depan.

Ia mencoba menolong generasi penerus bangsa agar tercipta masa depan yang lebih baik.

Sejak usia sembilan tahun, Faye sudah diperkenalkan tentang keadilan sosial dengan salah satu isu perdagangan manusia.

Faye yang menggunakan bahasa Inggris dalam proses belajar di sekolahnya belum mengerti apa yang disebut human trafficking.

Pikirannya ketika itu ialah perihal kemacetan.

Sampai di rumah, ia pun lantas menemui sang mama, Paulina Simanjuntak, untuk menanyakan maksud human trafficking yang disebut-sebut sang guru di sekolah.

Paulina harus menelepon gurunya dan menyatakan perihal pertanyaan Faye.

Ia pun disarankan sang guru untuk menjelaskan saja yang sebenarnya kepada Faye.

Meskipun itu sudah dijelaskan, Faye mengaku belum mengerti sepenuhnya. Ia bahkan belum tahu perdagangan manusia juga meliputi perdagangan anak dan kekerasan seksual.

"Ketika usiaku 13 tahun, cerita ke mama dan papa kalau persoalan perdagangan manusia itu tidak pernah lepas dari pikiranku. Lalu, aku dikenalkan ke teman mama yang sudah berkecimpung di organisasi penyelamatan perdagangan manusia. Tetapi kok, semuanya berasal dari luar negeri, padahal kita mengerti agama dan budaya, itu memicu saya untuk mendirikan bantuan untuk kasus perdagangan anak pada 2013," kata Faye yang kini sedang membuat rumah perlindungan (shelter) di Batam.

Rumah perlindungan

Rumah perlindungan yang disebut Rumah Faye didirikan pada Oktober 2013. Meski Paulina sempat meragukannya, Faye tetap menjalankan keinginannya membantu anak-anak korban perdagangan.

Program yang digagas Rumah Faye ada tiga kategori, pencegahan, pembebasan, dan pemulihan.

Sementara itu, Faye lebih banyak bekerja pada lingkup pencegahan.

Pembangunan rumah perlindungan di Batam pun bukan tanpa alasan. Faye menemukan banyak anak dan perempuan dari Sabang hingga Merauke yang masuk jaringan perdagangan manusia.

Mayoritas dari mereka berasal dari panti asuhan, keluarga broken home, serta keluarga kurang mampu yang tidak pernah mendapat edukasi tentang hak dan kerugian dari kegiatan perdagangan manusia.

Mereka hanya berpikir yang terpenting mendapatkan uang dan bisa dikirim kepada keluarga.

Kini, kata Faye, banyak relawan yang sukarela bergabung untuk membantu dirinya bekerja melindungi dan memulihkan keadaan para korban perdagangan anak dan kekerasan seksual, termasuk teman-teman dan keluarga yang terus mendukung apa yang dilakukan meskipun di awal pendirian ia sempat disangsikan teman-temannya.

Rasa takut, kata Faye, tidak ia miliki karena sedari kecil, orangtuanya selalu berpesan agar tidak pernah takut saat melakukan hal yang benar.

"Saya pikir tidak secepat ini perkembangan Rumah Faye. Awalnya saya hanya ingin mengenalkan agar Faye memiliki jiwa sosial pada lingkungannya, dan ternyata semangatnya memang di sana," tukas ayah Faye, Maruli Simanjuntak.

(M-4)

Komentar