Surat Dari Seberang

Jerman, Blokade Leningrad, dan Titel Perdana

Selasa, 4 July 2017 23:50 WIB Penulis: Iwan J Kurniawan, dari Rusia

Ist

YAHUD! Mungkin satu kata inilah yang bisa saya semat bagi tim sepak bola nasional (timnas) Jerman. Mereka sukses membawa pulang trofi usai melumpuhkan digdaya timnas Cile pada final Piala Konfederasi 2017.

Kemenangan itu mereka petik pada pertandingan di Saint Petersburg Stadium, Federasi Rusia, Minggu (2/7) malam. Jerman menang tipis 1-0. Satu-satunya gol disumbangkan Lars Stindl pada menit ke-20.

Tentu saja, angka tunggal tersebut sudah lebih dari cukup. Pada putaran grup sebelumnya, kedua tim sempat berjibaku. Hasilnya imbang 1-1. Kini, timnas Jerman akhirnya mampu menunjukkan kekuatan tak tertandingi. Mereka bermain rapih, gigih, dan stategis.

Ada hal unik saya catat pada kemenangan tim Der Panzer tersebut. Pertama, lewat tim muda Jerman inilah, pelatih Joachim Löw sanggup memperlihatkan kepada dunia bahwa proses regenerasi dalam tubuh timnas berhasil total.

Kedua, Jerman mampu merebut kemenangan di kota Saint Petersburg setelah, dulu, gagal pada Perang Dunia II. Ini membuat Jerman bisa pulang berbusung dada dari kota bersejarah tersebut.

Kemenangan Jerman atas Cile di turnamen ini jadi penting. Dari statistik pertemuan kedua tim, menunjukkan hasil Jerman lebih perkasa. Pertemuan pertama terjadi pada 23 Maret 1960, kala itu Jerman Barat menang 2-1.

Pada pertemuan kedua, 26 Maret 1961, giliran Cile berganti menang 3-1. Pada pertemuan ketiga (6 Juni 1962, Piala Dunia), Jerman yang menang 2-0. Pada pertemuan keempat (18 Desember 1968) Jerman kalah 1-2. Pada pertemuan kelima (14 Juni 1974, Piala Dunia), Jerman menang 1-0.

Lalu, pada petemuan keenam (20 Juni 1982), Jerman menang telak 4-1. Pada pertemuan ketujuh (5 Maret 2014), Jerman unggul tipis 1-0. Pertemuan pun berlanjut pada helatan kedelapan, yaitu pada Piala Konfederasi, 22 Juni 2017, hasil pun imbang 1-1. Lalu, terakhir, yaitu menang pada final, kemarin malam waktu setempat.

Dengan begitu, sembilan kali bersua Jerman lawan Cile memperlihatkan bahwa Jerman masih lebih unggul dari Cile dengan 6 kemenangan, 1 imbang, dan 2 kekalahan. Inilah sepak bola, semua pun bisa terjadi.

Kota idaman Hitler
Berbicara tentang Saint Petersburg memang menarik. Ini kota idaman bagi Adolf Hitler dan tentara Nazi Jerman pada Perang Dunia II. Saya hanya ingin mengupas sedikit tentang kota tercantik yang dibangun oleh Tsar Peter The Great (1682-1721), itu.

Pada era Uni Soviet, kota ini bernama Leningrad. Ini untuk menghormati tokoh komunis Vladimir Lenin (1870-1924). Tentara Nazi Jerman mengepung kota tersebut pada 18 Januari 1943 sampai 27 Januari 1944. Peristiwa itu dikenal dengan nama Blokade Leningrad (The Siege of Leningrad).

Meski mengurung selama 872 hari tapi tentara Nazi Jerman tidak berhasil merebut kota ini. Banyak bangunan hancur akibat bom. Banyak pula warga tewas sebab lapar dan cuaca dingin. Kabarnya, tidak sedikit penduduk bertahan hidup dengan cara memakan bangkai manusia alias kanibal.

Saya pribadi kagum saat pertama kali berkunjung ke Saint Petersburg pada 2016. Ratusan kanal terhubung ke sungai Neva dan sungai Fontanka. Itu menjadikan kota terbesar kedua di Rusia ini sebagai lumbung wisatawan.

Keindahan ini kota memang begitu bercelak. Termasuk, arsitektur bangunan seperti The Hermitage, Saint Michael's Castle, atau Kronstadt Naval Cathedral. Tak dinyana, putaran final dan malam penutupan Piala Konfederasi sukses digelar di Saint Petersburg. Jutaan mata pun mengarah saat laga.

Julian Draxler, sang kapten timnas Jerman, dipilih sebagai 'jenderal' di lapangan. Ia menjadi panutan karena penuh tanggung jawab. Permainannya cantik, menunjukkan hasil positif. Tak mengherankan, pujian pun berdatang dari rekan pemain hingga pelatih.

"Julian sangat baik dibina beberapa tahun terakhir. Ia dibesarkan dan diberi tanggung jawab. Ini prestasi besar untuknya. Ya, dia pemain muda dan para pemain lainnya juga sangat mendukung," ujar Löw dalam wawancara dengan stasiun televisi olahraga setempat, matchtv.ru.

Draxler, 23 tahun, merupakan salah satu pemain terbaik Jerman. Di atas kertas, dia dan teman-temannya memang sudah diunggulkan. Löw, lebih lanjut, menjelaskan bahwa proses untuk mengembangkan bakat-bakat muda masih tetap dilakukan. Para pemain muda tersebut memiliki kesempatan tampil di Piala Dunia 2018.

"Kemenangan di turnamen untuk pemain di bawah 21 tahun dan Piala Konfederasi tidak menjamin kesuksesan masa depan. Semifinal dan final ini, kami bermain pada tingkat yang sama. Tapi di Piala Dunia akan jadi lebih rumit," tandas pelatih kelahiran Guburstag, 3 Februari 1960, itu.

Sukses penyelenggaraan
Pada beberapa kafe dan bar di pusat Moskow, misalnya, sejumlah pengelola menggelar nonton bareng. Beberapa teman pelajar asal Meksiko pun hadir. Mereka antusias menyaksikan final untuk posisi juara ketiga dan keempat, antara Meksiko lawan Portugal.

Sayang, Meksiko harus takluk 1-2 dari mandraguna juara UEFA Euro 2016 itu, di Stadium Spartak. Keuntungan belum berpihak bagi Meksiko. Begitu pula bagi Portugal untuk bisa berada di puncak laga tersebut.

Lewat Piala Konfederasi ini, FIFA pun menyatakan bahwa Rusia benar-benar sukses menjadi tuan rumah. Panitia, volunter, dan sponsor telah bekerja keras dalam mendukung pesta olahraga termasyhur sejagad itu.

Hal ini pulalah membuktikan bahwa Rusia pun tidak main-main di dalam menyelenggarakan Piala Dunia 2018 mendatang. Semua fasilitas, transportasi, dan akomodasi kelas wahid tersedia bagi para pesepakbola. Kesuksesan Piala Konfederasi jadi langkah baik.

Kini, timnas Jerman telah menggotong pulang piala perdananya. Ada haru dan air mata dari para pesepakbola di lapangan hijau, malam itu. Semua bermain dengan percaya diri, sportifitas, dan kekuatan tim. Memang, setiap pertandingan hanya akan menghasilkan satu tim sakti.

Nah, timnas Jerman mampu menaklukkan Saint Petersburg. Mereka tidak datang dengan senjata dan bedil seperti yang pernah dilakukan tentara Nazi Jerman kala mengepung kota. Melainkan hadir dengan mental baja dan keuletan di lapangan hijau. Mereka dielu-elukan dan disanjung bak pahlawan.

Draxler dkk membawa pulang titel pertama dari Piala Konfederasi. Sementara tim dengan raihan titel terbanyak masih di pangkuan Brasil, yaitu empat titel semenjak turnamen itu digelar pada 1992. Saya mengacungkan dua jempol. Jerman pun harum semerbak di Tanah Para Tsar!

Komentar