WAWANCARA

Socio Digi Leaders untuk Dunia Digital Indonesia

Senin, 3 July 2017 11:56 WIB Penulis:

MI/RAMDANI

PT Telkom Indonesia Tbk (Telkom) kembali menyelenggarakan kompetisi Socio Digi Leaders (SDL), yaitu program untuk mendorong sekaligus menjaring talenta muda berbakat yang memiliki kepekaan sosial untuk mengimplementasikan ide dan gagasan.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, SDL 2017 tidak hanya sebatas solusi berbasis aplikasi digital, pesertanya pun tak terbatas dari dalam negeri.

SDL juga merupakan salah satu cara mendorong generasi muda untuk berinovasi dan berkontribusi buat dunia yang lebih baik.

Media Indonesia pun sempat berbincang banyak dengan Direktur Human Capital Management PT Telkom, Herdy Harman, seputar alasan Telkom menggelar program SDL.

"Telkom menyadari kunci bisnis yang berkelanjutan ialah ketika inovasi terus dikembangkan. Bukan saja inovasi yang bisa mendorong bisnis lebih besar, juga berbagai inovasi yang bisa memecahkan masalah dan aplikatif untuk masyarakat dunia," ungkap Herdy.

Telkom, lanjut Herdy, ingin membangun stigma bahwa perusahaan ini tidak sekadar dikenal sebagai perusahaan komunikasi digital, tetapi juga perusahaan yang peduli terhadap anak muda, peduli pada kreativitas, peduli terhadap masalah sosial, dan membangun entrepreneurship.

"Dari hasil tahun lalu kami lihat bagaimana karya anak-anak itu bermanfaat bagi korporat dan lingkungan sosialnya. Ada tukangpedia yang menang juara I, aplikasi berbasis pertukangan untuk rumah tangga di Balikpapan. Jadi, ibu-ibu tidak perlu susah-susah menari tukang. Tinggal memesan lewat aplikasi, tukang ledeng datang sendiri," jelasnya.

Para juara tahun lalu diboyong Telkom ke Silicon Valley, Amerika Serikat, guna untuk melihat kantor Google, Facebook, dan Link id.

Harapannya untuk membuka cakrawala pandang mereka.

"Banyak orang Indonesia kerja di sana karena sejak lulus di sini atau dari luar negeri. Otak mereka hanya bagaimana caranya saya bisa kerja di perusahaan-perusahaan itu. Ratusan angkanya," tambah Herdy.

Indonesia saat ini sedang menyongsong generasi itu dan memang sudah seharusnya seperti itu.

Karena itu, sudah menjadi keniscayaan global bahwa kompetensi anak bangsa kita mampu bersaing dengan bangsa luar.

"Saya usahakan anak-anak kami di sini menjadi manusia unggulan. Nah, global competency ini saya tanamkan ke karyawan Telkom. Karyawan di sini harus menjadi manusia global, bukan manusia gombal," tandasnya.

Skala lebih luas

Herdy menjanjikan pelaksanaan SDL pada tahun ini lebih semarak. Alasannya, bidang yang dilombakan semakin luas.

Pesertanya juga tidak dibatasi dari dalam negeri.

"Semua ide kreatif apa pun bisa ikut, bisa berupa produk, cara pemasaran, human capital, financing, atau apa pun. Supaya tambah seru lombanya dan tahun ini saya buka untuk anak luar negeri juga. Ini kan lomba hanya tinggal unggah di Youtube," ungkapnya.

Bila peserta dari luar negeri bagus dan masuk ke babak selanjutnya, Telkom akan menanggung ongkos untuk datang ke Indonesia.

Tujuannya ialah agar kita bisa mengetahui kemampuan anak Indonesia dan luar negeri diadu.

Dari sisi kemampuan, anak Indonesia tidak kalah, apalagi sering juga anak Indonesia menang di kejuaraan internasional.

Yang pasti Telkom amat peduli dengan perkembangan wirausaha digital di Indonesia.

Telkom juga memiliki program Digital Valley untuk siapa pun yang berminat mengembangkan aplikasi.

Program itu ada di Bandung, Yogyakarta, Toba, hingga Balige.

"Kalau berhasil, kami akan bantu sampai dia. Jadi, sampai dia mendapatkan pendanaannya. Kami punya cucu perusahaan yang bisa membantu pendanaan kalau punya potensi untuk menjadi barang yang laku," tutupnya. (Jesica Sihite/E-1)

Komentar