WAWANCARA

Sinergikan Diaspora dengan Pemerintah

Ahad, 2 July 2017 10:01 WIB Penulis: Fario Untung fario@mediaindonesia.com

MI/ADAM DWI

IA tampak bersemangat saat berbicara tentang diaspora Indonesia. Mantan duta besar Indonesia untuk Amerika Serikat Dino Patti Djalal bercerita dengan detail tentang ajang itu. Diusia ke-52, Dino memilih berkontribusi maksimal untuk Indonesia. Berikut wawancara Media Indonesia dengan Dino di Jakarta, Kamis (22/6).

Apa goal dari kongres diaspora 1-4 Juli ini?
Kita sekarang ada total 8 juta yang berstatus WNI (warga negara Indonesia) serta berpaspor Indonesia di luar negeri. Mereka ialah komunitas yang penuh aset serta padat dengan idealisme dan nasionalisme. Kita ingin kongres ini berjalan supaya komunitas yang besar ini dapat bersinergi membantu pembangunan serta masa depan Indonesia. Jadi, potensi di kedua belah pihak ada, asetnya juga ada sehingga tinggal bagaimana kita bisa menyinergikan kedua hal tersebut. Itu ialah tujuan besar dari kongres diaspora Indonesia ini.

Bagaimana upaya Anda untuk bisa mendatangkan Barack Obama? Apa yang ingin dicapai dari kedatangan mantan Presiden Amerika Serikat itu?
Dalam hal ini saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Presiden Joko Widodo. Pak Jokowi yang mengundang langsung Obama untuk hadir dalam Konvensi Diaspora ini. Ibarat sambil menyelam minum air, Obama berlibur sekaligus memberikan pidatonya dalam konvensi. Hal itu juga menjadikan yang pertama kalinya Obama berpidato di Asia setelah tidak lagi menjabat Presiden Amerika Serikat itu. Mengapa Obama? Karena Obama merupakan seseorang yang memiliki modal politik sangat besar dan sangat dicintai rakyat Indonesia. Setelah diumumkan Obama menghadiri acara ini, masyarakat Indonesia menjadi sangat antusias.

Sosok dan kriteria diaspora seperti apa yang nanti akan dihadirkan dalam konvensi?
Tentunya prestasi. Bicara orang Indonesia di luar negeri, banyak yang hanya tahu soal tenaga kerja Indonesia (TKI) dan TKI menjadi pahlawan devisa bagi bangsa ini karena bisa memberikan US$10 miliar/tahun. Namun, banyak yang lupa jika TKI hanyalah 25% atau sebanyak 2 juta dari komunitas diaspora di seluruh dunia. Sisanya 75% atau 8 juta diaspora banyak sekali profil yang sangat berprestasi seperti memiliki paten, seorang inovator, profesor, pengacara, profesional, bankir, dan masih banyak lagi. Sosok-sosok seperti itulah yang kita ingin tampilkan di konvensi nanti. Profil diaspora Indonesia itu berbeda dengan diaspora Tiongkok dan India. Kalau mereka banyak bilionaire atau upper class, sedangkan Indonesia itu sangat sedikit jumlah bilionaire-nya. Namun, kita kuat di middle class-nya. Saya lihat diaspora Indonesia itu kekuatan utamanya di kreativitas. Sebut saja sosok pencipta karakter Minions bernama Pierre Coffin, penemu jaringan 4G di Jepang, yakni Khoirul Anwar, dan Wona Sumantri di Amerika Serikat yang berhasil menjadikan olahraga pencak silat ke dalam mata pelajaran di sekolah dan universitas di Washington DC.

Seperti apa kriteria diaspora yang sukses menurut Anda?
Profil diaspora yang sukses, menurut saya, ialah yang bisa memberikan impact, produktivitas yang menonjol, tetapi tetap ada rasa Indonesianya. Mereka tidak boleh lupa Indonesia. Meski mencari rezeki di negara orang, mereka harus tetap mau berpartisipasi dan menumbuhkan rasa nasionalisme di negara tempat meraka berada sekarang.

Pemerintah beberapa kali mengajak para diaspora kembali ke Tanah Air. Namun, perlakuan negara kepada mereka tidak sesuai ekspektasi. Bagaimana upaya pemerintah menghilangkan pandangan tersebut?
Melihat fenomena itu membuat gerakan diaspora sangat penting. Selama saya berada di luar negeri, saya tidak pernah melihat diaspora yang bahkan sudah keturunan kedua atau ketiga yang tidak melihat kedekatan dengan Indonesia. Itu yang membedakan diaspora Indonesia dengan diaspora negara lain. Kalau diaspora negara lain setelah menjadi warga negara tersebut, kebanyakan mereka lupa dengan negara asalnya sehingga mereka itu perlu ditarik dan dirayu karena mereka sering tidak masuk radar. Oleh karena itu, di manapun diaspora berada, kita harus menumbuhkan diaspora mindset sehingga ketika mereka kembali ke Tanah Air meski paspornya sudah berbeda, tapi kita tetap sambut dengan hangat dan tangan terbuka.

Dari segi ekonomi, kita juga harus membuka peluang sebanyak dan sebesar-besarnya bagi mereka karena keinginan mereka kembali dan berinvestasi di Tanah Air itu tinggi sekali. Hanya saja mereka butuh lebih perhatian serta dirangkul untuk bisa bersinergi dengan kita secara maksimal. Saya juga senang dan bangga sekali karena Pak Jokowi sangat memberikan perhatian lebih kepada para diaspora Indonesia supaya bisa berkontribusi bagi negara Indonesia.

Langkah konkret seperti apa yang akan dilakukan oleh pemerintah untuk meyakinkan para diaspora mau bersinergi dan bekerja sama?
Pemerintah akan memberikan kartu diaspora yang nantinya akan memberikan kemudahan seperti membuka rekening bank, membeli properti. Ini tentu merupakan kebijakan dan langkah pemerintah yang sangat positif untuk bisa mengajak pulang para diaspora memba­ngung bangsa. Akan ada langkah-langkah struktural, yakni akan ada suatu badan pemerintah yang secara khusus menangani diaspora. TKI kan sudah ada badannya, yakni BNP2TKI, tapi itu kan hanya 25% dari warga negara kita yang berada di luar negeri, nah 75%-nya justru belum ada badan yang mengurusi.

Banyak orang yang menilai diaspora itu sebagai brain drain. Namun, Anda melihatnya sebagai brain hub. Bagaimana upaya Anda agar brain hub ini dapat benar-benar berfungsi dan berkonstribusi?
Saya senang sekarang sudah ada istilah brain hub, dulu istilahnya brain drain. Menurut saya, brain hub itu bisa memberikan kontribusi maksimal jika memiliki organisasi yang baik. Sekarang ini ormas diaspora banyak sekali tersebar di seluruh dunia. Ormas ini umumnya sebagaian besar terdiri dari gabungan etnik dan agama. Contohnya waktu saya berkunjung ke Los Angles, California, di sana ada persatuan 102 gereja Indonesia, di Washington ada Islamic Centre Indonesia. Sekarang juga semakin banyak kelompok diaspora Indonesia di kalangan profesional, asosiasi lawyer, dan sebagainya. Jadi, menurut saya, bagaimana agar organisasi, ormas, dan kelompok seperti ini bisa semakin terkoneksi karena selama ini mereka hanya bergerak di jalur-jalurnya sendiri. Namun, saya yakin jika mereka bisa semakin terkoneksi, kemampuan mereka sebagai brain hub akan lebih besar sekali.

Bagaimana ketertarikan mereka dengan Tanah Air?
Tinggi. Karena teori saya semakin jauh, mereka akan merasa semakin dekat dengan Tanah Air. Saya alami sendiri di mana saya lama berada di luar negeri dan semakin jauh saya berada saya semakin kangen dengan dendeng balado, rendang, nasi padang, kangen saudara. Jadi waktu di Tanah Air, kita akan kritis menyikapi keadaan negara kita, tapi ketika di luar kita semakin apresiatif dan umumnya seperti itu.

Berkaca dari nasionalisme tentu tidak dapat dipisahkan dari faktor ekonomi. Lantas bagaimana semestinya langkah pemerintah agar diaspora itu dapat merasa diuntungkan jika berkontribusi?
Ini menjadi tantangan kita di mana saat diaspora kembali, mereka banyak yang kecewa. Jadi, menurut saya, yang bisa kembali dan sudah ada rencana jelas, semisal mau berinvestasi atau membuat usaha agar mereka dapat dibantu dan sukses. Kalau mereka sukses, beritanya kan akan menyebar ke diaspora lain dan yang lain kemungkinan besar akan menyusul. Namun, kalau yang belum siap kembali dan belum mapan, biarkan mereka mapan di luar dan menjadi global network kita di Tanah Air.

Diaspora Tiongkok, India, Israel mereka yang justru membiayai negara asalnya. Apakah diaspora kita bisa seperti mereka?
Seharusnya bisa. Jadi untuk kongres kita akan ada pertemuan dan rapat internal. Kita akan cari cara agar sumber-sumber daya diaspora ini bisa lebih banyak masuk ke Tanah Air. Memang sudah ada, tapi hanya sebagian kecil. Saya juga mengakui jika ada fenomena yang kembali itu justru yang sudah berumur alias sudah tua, di saat masa produktif mereka memang sulit untuk mau pulang ke Tanah Air. Justru itu tantangannya bagaimana kita bisa menyentuh mereka untuk bisa kembali dan berkontribusi ke negara asal mereka.

Anda lama di luar negeri, bagaimana Anda tetap menjaga bahkan menumbuhkan rasa nasionalisme bagi diri sendiri dan lingkungan?
Perlu ada upaya yang terfokus pada komunitas setempat. Misalnya di Filipina, diaspora kita membuat acara pelatihan setiap hari Sabtu untuk belajar bahasa dan budaya Indonesia. Di Chicago ada juga Indonesia Consulate Centre, yakni mereka belajar tari dan budaya Bali setiap minggunya. Di Los Angles setiap bulan diaspora kita mengadakan acara kuliner Indonesia di mal-mal. Kemudian di American University, Washington DC seperti yang sudah saya bilang ada Wona Sumantri yang berhasil memperkenalkan dan memasukkan olahraga pencak silat menjadi kurikulum pendidikan.

Ketika Anda bertugas di luar negeri, istri selalu mendampingi serta ketiga anak anda akan bersekolah di negara tertentu. Bagaimana Anda mengingatkan ketiga anak Anda untuk tetap cinta Tanah Air?
Tiga anak saya tentu ikut saya bertugas dan akan bersekolah di tempat saya ditugaskan. Saat ini ketiganya sudah kembali ke Indonesia. Namun, saya pikir mudah sekali meningkatkan rasa nasionalisme ke anak-anak saya karena saya bekerja di bidang tersebut. Di mana setiap saat selalu berhubungan dengan orang Indonesia, memperkenalkan budaya Indonesia, serta merayakan berbagai hari raya yang ada di Indonesia di Amerika Serikat. Jadi, secara otomatis semua hal nasionalisme itu sudah terbentuk kepada anak-anak saya. (M-4)

Komentar