Tifa

Seni Eksperimental Seniman Muda Asia Tenggara

Ahad, 2 July 2017 09:31 WIB Penulis: (Abdillah M Marzuqi/M-2)

Galeri Nasional Indonesia menggelar pameran Mutual Unknown, sebuah seni eksperimental seniman muda Asia Tenggara pada 2 hingga 13 Juni 2017. MI/ABDILLAH M MARZUQI

PAMERAN ini memang lain dari biasanya. Biasanya, ruang pameran berisi karya yang sudah jadi dan dipajang rapi. Namun, ketika memasuki ruangan Galeri Nasional Indonesia, pengunjung dihadapkan pada format pameran yang tidak biasa. Para seniman akan berkarya pada saat pameran dan berinteraksi langsung dengan pengunjung galeri. Alih-alih sebagai presentasi dari sebuah hasil, Mutual Unknown merupakan pameran berbasis proses. Itulah yang menjadi tawaran dalam pameran seni eksperimental seniman muda di Asia Tenggara bertajuk Mutual Unknown. Acara Mutual Unknown dihelat di Galeri Nasional Indonesia pada 2-17 Juni 2017. Pameran itu diselenggarakan Curatorslab dan didukung penuh oleh Goethe-Institut dan Galeri Nasional Indonesia.

Sembilan seniman, tiga kurator, dan pengunjung galeri bersama-sama menciptakan karya seni. Sembilan seniman itu ialah Azam Aris (Malaysia), Fajar Abadi (Indonesia), Nuttapon Sawasdee (Thailand), Thuy Tien Nguyen (Vietnam), Tan Vatey (Kamboja), Renz Lee (Filipina), Kaung Myat Thu (Myanmar), Leonard Yang (Singapura), dan Noy Xayatham (Laos). Kurator pameran ialah Henry Tan (Thailand), Sally Texania (Indonesia), dan Rifandy Priatna (Indonesia).

Seniman dan proses karya dalam pameran itu diposisikan sebagai sebuah pintu awal diskusi dan komunikasi aktif bagi seluruh pengunjung pameran. Karena itu, tidak ada karya yang sudah selesai untuk bisa dilihat dalam pameran ini. Mutual Unknown merupakan satu tahap dari proyek dari Curatorslab yang mengangkat realitas akan kebutuhan pembelajaran kondisi di Asia Tenggara dewasa ini. Lebih jauh lagi, juga diharapkan munculnya pembahasan nyata mengenai batas dan kendala antarpelaku kesenian di Asia Tenggara.

Pameran ini bertujuan menjawab pertanyaan, antara lain, sebagai bangsa di Asia, apakah manusia Asia Tenggara memiliki pemikiran regional bersama? Bagaimana sebuah pameran dan kegiatan berkesenian menciptakan kesempatan di antara jaringan dan kepentingan yang beraneka ragam? Juga, bagaimanakah pameran menjadi simulasi dari cara mereka bertetangga?

Pameran ini merujuk pada pertanyaan khusus pada area spesifik seni rupa, yakni bagaimana sebuah pameran dan kegiatan berkesenian dapat menciptakan kesempatan di antara jejaring dan kepentingan yang beragam? Pertanyaan umum merujuk pada kegelisahan bagaimana seni rupa sebagai sebuah elemen simbolis dapat menjadi simulasi mengenai cara manusia Asia Tenggara bertetangga? Pertanyaan itulah yang dikemukakan saat mengawali pameran. Tentang keregionalan, tentang Asia Tenggara. Namun, bagaimana hasilnya setelah pameran proses selama dua minggu, ketika presentasi karya dilakukan dua hari menjelang berakhirnya masa pameran (15/7)?

“Di akhir hari, kita enggak peduli soal Asia Tenggara,” terang kurator Rifandy Priatna. “Walaupun pameran ini telah berakhir, proses pembelajaran kami terus berlangsung,” ujar kurator Henry Tan. Yang pasti pameran itu telah membuat suatu pemahaman baru bagi para pelakunya. “Bukan lagi ‘seniman dari negara mana’, tapi ‘seniman, rekan, dan partner’,” pungkas Henry Tan. (Abdillah M Marzuqi/M-2)

Komentar