Tifa

Mengajak tanpa Harus Menggurui

Ahad, 2 July 2017 09:01 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi abdizuqi@mediaindonesia.com

Seniman yang tergabung dalam Teater Tubaba beradu akting dalam pertunjukkan Robohnya Surau Kami oleh Teater Tubaba di Sesat Agung Bumi Gayo Ragem Sai Mangi Wawai yang berada di Islamic Centre Tulang Bawang Barat (Tubaba) Lampung . MI/ABDILLAH M MARZUQI

PANGGUNG itu memang tidak terlalu mencolok. Tidak banyak properti yang bisa dilihat. Hanya ada beberapa level peninggi yang disusun bertingkat serta instalasi kayu berbentuk persegi seolah mengesankan mihrab atau imaman pada sebuah surau. Penonton seakan diajak untuk memasuki alam tak bergejolak dengan tidak terlebih dahulu menyajikan properti yang sederhana dengan nuansa gelap dan tenang. Tidak terlalu mencuri fokus. Namun, suasana tenang itu tidak bertahan lama. Penonton mulai diusik ketika para pemain mulai berbaris memasuki panggung.

Mereka dengan kerudung sarung yang menutupi hampir seluruh tubuh berjalan bersama mengitari panggung. Komposisi yang dibuat sedemikian rupa tidak membuat panggung itu semrawut dengan kehadiran 28 pemain. Justru sebaliknya, kesan gerak harmonis muncul dari kelebatan gerak para pemain. Ketika penonton telah terkondisikan dengan suasana syahdu, kesadaran mereka lalu didobrak dengan kehadiran berbagai properti berukuran besar seperti setrika, kulkas, gergaji, dan pendingin ruangan. Semua properti itu dibuat dengan berkali lipat dari ukuran sebenarnya. Sampai saat itu, sutradara sukses mempersiapkan emosi dan perhatian penonton. Salah seorang pemain memberikan narasi pembuka pentas sekaligus menyampaikan pesan tentang bagaimana etiket dalam menikmati teater termasuk ketika penonton keberatan dan tidak setuju dengan materi pertunjukan.

Patutlah pesan itu disampaikan dalam pertunjukan Robohnya Surau Kami oleh Teater Tubaba yang kental dengan nuansa penyikapan terhadap ekspresi agama. Pertunjukan dihelat di Sesat Agung Bumi Gayo Ragem Sai Mangi Wawai yang berada di Islamic Centre Tulang Bawang Barat (Tubaba) Lampung pada 18 Juni 2017. Helatan itu sekaligus menandai berakhirnya Residensi Ramadan yang digagas Studio Hanafi dan Pemda Tubaba. Sebelumnya, program Residensi Ramadan diikuti 60 santri putra dan putri selama 4-18 Juni 2017 di Masjid Baitussobur yang lebih dikenal dengan Masjid 99 Cahaya. Program tersebut meliputi kelas dakwah, tafsir, kaligrafi, dan qiraah Alquran.

“Ini sebenarnya program besar, desain besar dari Pak Bupati (Umar Ahmad) untuk pengembangan sumber daya manusia dalam bidang keagamaan. Program yang sudah jalan kan program dalam bidang kesenian. Keagamaan pun harus sama,” terang ketua pelaksana sekaligus sutradara pementasan Semi Ikra Anggara. Naskah Robohnya Surau Kami sebenarnya bukan hal baru. Sebab karya AA Navis itu telah ada sejak 1956. Pentas ini menceritakan seorang tua (kakek) penjaga surau yang meninggal dengan menggorok lehernya setelah mendapat cerita dari Ajo Sidi.

Haji Salim dalam cerita Ajo Sidi ialah orang yang rajin beribadah, tapi Haji Salim malah masuk neraka. Haji Salim memprotes Tuhan. Namun jawaban yang diterimanya ialah sebab Haji Salim tinggal di Indonesia yang kaya raya, tapi membiarkan dirinya biarkan dirinya melarat, hingga keturunannya teraniaya. Haji Salim malas lebih suka beribadah karena ibadah tidak mengeluarkan peluh.

Masih relevan
Sutradara Semi Ikra Anggara mengungkap alasan mengangkat naskah tersebut juga didasari kondisi Indonesia saat ini. Sejumlah persoalan dalam teks memang relevansi pada zaman naskah itu dibuat. Namun, justru itulah yang dituju. Di tengah situasi sekarang yang memang berbeda. Pertanyaan yang ingin dikemukakan ialah apakah kondisi itu sudah berubah? Perubahannya di tingkat apa? Jangan-jangan hanya di tingkat permukaan. “Kalau dinaskah kan agama tempat pelarian. Sekarang justru agama dijadikan uang. Mengerikan juga sih sebenarnya. Dalam konteks itu ada yang berubah tapi ada yang tidak berubah. Jadi agama menurut saya menjadi korban, itu yang tidak berubah,” ujarnya.

Semi melihat kondisi saat ini bahwa orang sebagian yang kita lihat di ranah pencitraan itu orang rajin beribadah, tapi ibadah ini dijadikan komoditas pasar. Pesan itu diwujudkan dalam adegan orang sujud, tapi memegang gagang tongkat narsis (tongsis) untuk swafoto. Ibadah hanya digunakan untuk mengeruk uang.
“Saya berpikir kondisi keindonesiaan kita sekarang itu bagaimana sih agama itu menurut saya diperlakukan sedemikian rupa sebagai komoditas. Bukan lagi media kesadaran untuk menjalani kehidupan sosial,” terangnya.

Selain itu, naskah itu sengaja dipilih sebab lebih luwes, bisa bermain di ranah permukaan juga di ranah substansi. Meski demikian, Semi melakukan beberapa adaptasi untuk kepentingan pertunjukan. “Teks aslinya kan sebenarnya terlalu naratif. Bahkan sejumlah orang teman yang saya tahu, ketika menggarap AA Navis ini, tokoh Ajo Sidi ini diceritakan bukan dihadirkan. Kalau tadi kan saya hadirkan jadi peristiwa,” ujarnya.

Menggarap naskah dengan pesan dalam tentu punya tantangan besar. Namun, justru di situlah pertaruhan kepiawaian sutradara dalam mengelola pertunjukan. Bagaimana menyampaikan pesan sekaligus membuat penonton merasa nyaman selama pertunjukan. Balutan komedi yang dibangun di atas panggung punya peran penting dalam pentas itu sekaligus menjadi cara penyajian teater khas ala Semi. Melalui pentas itu pula, Semi ingin membangun kesadaran tentang semangat beragama. “Ayolah kita mengajak teman-teman beragama dengan lebih “cerdas”, tanpa harus menggurui,” pungkas Sammy. (M-2)

Komentar