PIGURA

Korban Hoax

Ahad, 2 July 2017 08:30 WIB Penulis: (M-4)

dok Mi

KONON selama Ramadan yang lalu kederasan hoax (berita bohong) menda (berkurang). Barangkali, selain karena tensi politik nasional belakangan agak reda, bulan suci benar-benar menjadi berkah sehingga jagat maya kita pun terasa rada bersih dari sampah. Bagaimanapun, berita bohong sangat berbahaya. Bukan hanya menimbulkan kegaduhan, kekeruhan, dan kekacauan, lebih dari itu kabar yang tidak bisa dipertanggungjawabkan tersebut juga bisa menyakiti, mencederai, melukai, bahkan mencelakakan liyan. Dampak fatal akibat hoax seperti itu terjadi pada diri resi Durna dalam cerita wayang. Sesepuh Astina itu termakan oleh berita bohong tentang kematian anaknya. Durna ngengleng (kehilangan kesadaran) sehingga menjadi sasaran empuk dan bulan-bulanan senapati Amarta, Drestajumna, di hari ke-15 perang Bharatayuda.

Strategi Cakrabyuha
Dikisahkan, Kurusetra kian menggidikkan. Di palagan itu sudah tidak terbilang prajurit Amarta dan Astina yang meregang nyawa dalam perang saudara antara Pandawa dan Kurawa. Para senapati kedua pihak berguguran. Para pinisepuh mereka pun menjadi korban. Inilah kodrat jagat yang mesti terjadi. Pihak mana yang menang? Apakah Pandawa yang melambangkan kebaikan yang akan berjaya? Atau justru sebaliknya, mereka sirna di tangan Kurawa yang menyimbolkan kezaliman?

Ketika pertempuran telah berlangsung beberapa hari, pasukan Astina terdesak. Prajurit andalan mereka tidak berkutik menghadapi serbuan bala tentara Amarta. Ini membuat Raja Astina Prabu Duryudana ketar-ketir. Apalagi pepundennya yang sangat ia agungkan, Resi Bhisma, begitu gampangnya gugur di tangan Srikandi. Di saat dirundung kekhawatiran dan kemurungan, resi Durna mendadak mengajukan diri agar direlakan terjun ke palagan sebagai pemimpin perang. Duryudana segan dengan permintaan sesepuh Astina tersebut. Dirinya masih ngeman (tidak berkenan) Durna maju perang.

Akan tetapi, karena begitu tulus dan ikhlasnya keinginan Durna, Duryudana akhirnya pasrah. Ia melepas Durna ke medan laga sebagai senapati. Menurut perhitungannya, Pandawa pasti akan menyerah karena tidak akan berani menghadapi gurunya. Di sisi lain, Durna memang sakti mandraguna dan lihai berperang serta piawai menggunakan senjata. Durna membuktikan kedigdayaannya. Meski sudah tidak muda lagi, dan fisiknya pun tidak sempurna, ia tanggap dan trengginas memimpin ribuan pasukan menggasak lawan. Dengan menghunus puasaka Cundamanik, sepak terjang Durna bak bantheng kataton (banteng terluka).

Bala tentara Pandawa kocar-kacir. Mereka tergilas oleh strategi perang Cakrabyuha menggiriskan yang digelar Durna. Ini formasi perang yang melibatkan ribuan prajurit dengan membentuk lingkaran berlapis. Laju pasukan Astina bak alun laut yang tak terbendung. Mereka sulit ditembus. Salah satu korban besar yang diderita pihak Pandawa dalam alunan perang ini adalah Abimanyu. Putra Arjuna itu terjebak dan terkurung dalam barisan musuh hingga akhirnya gugur mengenaskan. Duryudana yang terus memantau bangga sambil menepuk dada. Ia yakin pihaknya akan menang, yang berarti kekuasaan Astina dan Indraprastha serta seluruh negara jajahannya tetap berada dalam genggamannya.

Gajah Hestitama
Terdesaknya barisan pasukan Pandawa membuat botohnya, Kresna, menyusun strategi baru. Gerak barisan Astina yang dipimpin Durna harus segera dihentikan karena sangat berbahaya. Durna benar-benar ‘tiwikrama’ dan berhasil mengobrak-abrik prajurit Amarta. Kresna buru-buru menemui Raja Amarta Puntadewa. Ia mengusulkan agar Pandawa mengangkat Drestajumna sebagai senapati untuk menandingi Durna. Drestajumna adalah putra Prabu Drupada, raja Pancala. Berbarengan dengan diangkatnya senapati anyar Amarta, gemuruh perang di Kurusetra tidak berhenti. Lalu, entah dari mana asalnya, tiba-tiba muncullah kabar bahwa Aswatama, putra Durna, mati. Berita ini terus menyebar ke segala penjuru palagan hingga sampai ke telinga Durna.

Bagaikan kilat menyambar jiwa raganya. Seluruh energinya seketika hilang sehingga komando perangnya mengendur. Konsentrasi Durna bukan lagi pada memenangi perang, melainkan terhadap putranya. Durna ke sana ke mari mencari kebenaran berita tersebut. Ia ragu Aswatama benar-benar tewas di palagan. Tidak ada satu pun prajurit Astina yang ia tanya tahu akan keberadaannya. Situasi Kurusetra yang kalut mengakibatkan kabar itu semawrut. Didorong keinginan tentang kepastian kabar Aswatama, Durna bertanya kepada Puntadewa. Menurutnya, sebagai pemimpin Amarta, Puntadewa pasti tahu siapa saja lawan yang mati. Lebih dari itu, wataknya tidak pernah bobong sehingga dapat dipercaya.

Kresna yang tahu apa yang akan terjadi lalu mendahului menemui Puntadewa. Ia berpesan kepada adik sepupunya tersebut agar bicara dengan bijaksana ketika sewaktu-waktu ditanya Durna. Seperti biasanya, Puntadewa manut terhadap perintah titah titisan Bathara Wisnu itu. Tidak lama kemudian Durna datang menghadapnya dan bertanya. Apakah benar Aswatama meninggal. Puntadewa yang dikenal sebagai kesatria berbudi luhur menjawab bahwa benar Hestitama mati. Dalam mengucapkannya, hanya dua kata terakhir yang jelas. Durna yang pendengarannya sudah berkurang jauh memahami bahwa Aswatama benar-benar mati. Seketika itu pula ia menangis sejadi-jadinya. Padahal, yang mati adalah gajah bernama Hestitama, tunggangan Bogodhenta, tokoh pendukung Kurawa.

Kecerdasan lahir batin
Mendadak Durna linglung. Di Kurusetra ia luntang-lantung ke sana kemari sambil meracau meratapi ‘kepergian’ anak satu-satunya. Dalam situasi demikian, Drestajumna tanpa menyia-nyiakan kesempatan. Dengan pedang di tangan ia penggal Durna hingga gugur seketika. Kisah ini menggambarkan akan kecerobohan Durna menyikapi kabar yang belum tentu benar. Ia tidak cermat memahami apa yang terucap. Pada akhirnya, terlalu mahal harga yang harus dibayar. Durna mati konyol akibat terlena oleh berita bohong.

Hikmahnya ialah betapa berbahayanya hoax. Oleh karena itu, kita mesti berhati-hati dan waspada akan setiap kabar yang tersiar. Perlu kecerdasan lahir-batin untuk menyikapinya sehingga tidak tergulung karenanya. Lebih dari itu, apa pun alasannya, sungguh hina bagi siapa pun yang menyebarkan berita bohong. (M-4)

Komentar