Film

Di Puncak Box Office meski tidak Memuaskan

Ahad, 2 July 2017 00:29 WIB Penulis: (AFP/Fox/Riz/Her/M-4)

AP/BAY FILMS

SERI kelima Transformer dalam sepekan terakhir berhasil menduduki puncak Box Office Amerika. Sayangnya film berjudul Transformers: The Last Knight hanya mengantongi pendapatan US$44,7 juta. Angka itu jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan Transformer (2007) yang memiliki pendapatan lebih dari US$100 juta dalam pekan pertamanya.
Meskipun respons Transformer 5 kurang baik di kampung halamannya, di Tiongkok mendapatkan respons positif. Terbukti film ini membukukan pendapatan US$196,2 juta, yakni US$123,4 juta disumbang dari Tiongkok. Tak heran banyak pebisnis yang menganggap biaya produksi sebesar US$217 juta akan segara ditutupi.

Meski begitu, jika dibandingkan dengan Transformers: Age of Extinction (2014) pendapatannya jauh di bawahnya. Transformers 4 berhasil membukukan US$858,6 juta dari pasar domestik, sedangkan di pasar global berhasil meraup pendapat US$1,1 miliar. Di Indonesia sendiri, film berdurasi 150 menit ini sudah bisa dinikmati di bioskop Tanah Air. Transformers kelima ini, memiliki jalan cerita yang terlalu padat dan terkesan dipaksakan. Serupa film Wonder Woman yang memadukan kisah dewa-dewa Yunani dengan perang dunia, Transformers kali ini memadukan kisah Optimus Prime, Bumblebee, dan kawan-kawannya dengan beberapa konteks perang. Legenda dari Inggris tempo dulu tentang kisah meja bundar, penyihir Merlin, dan Raja Arthur contohnya, dibuat memiliki keterkaitan dengan Transformers.

Demikian pula perang dengan Jerman melawan Hitler, seolah ada kaitan dengan Transformers. Orang-orang bersejarah dalam peradaban manusia seperti Einstein, disebut hidup dengan menyimpan rahasia besar terkait Transformers. Terlalu banyak detail yang dimasukkan dalam film itu, akhirnya justru terasa amat memaksakan. Belum lagi aktor-aktor yang berperan di dalamnya sangat banyak, seba­gian besar muncul dengan peran yang tidak terlalu berarti. Ini juga termasuk para autobot yang hanya muncul sepintas lalu menghilang, tanpa peran atau karakter yang membekas.

Mark Wahlberg sebagai pemeran utama Cade Yeager yang mengambil posisi mendukung keberlangsungan Transformers di dunia, dikelilingi dengan terlalu banyak tokoh lain. Ada Vivian Wembley (Laura Haddock), profesor lajang yang merupakan keturunan penyihir Merlin terakhir dan menjadi satu-satu­nya orang yang bisa mengendalikan tong­kat yang memegang takdir bagi bumi selanjutnya.

Lalu ada Izabella (Isabela Moner) remaja 14 tahun yatim piatu yang menjadikan robot dan transformers sebagai keluarga barunya. Dia memiliki kemampuan mekanik, berusaha menyelamatkan transformers yang oleh pemerintahan yang baru, diburu untuk dipenjara atau dihancurkan. Setelah bertemu dengan Cade, gadis ini mengikutinya ke mana-mana, dengan akting yang seringnya terlalu berlebihan, menampakkan karakter sok tangguh.

Masih ada satu lagi perempuan yang dibuat bersinggungan hidupnya dengan Cade, yakni putri semata wayangnya yang sudah kuliah. Karena Cade sedang menjadi buron, hubungan ayah dan anak itu ditampilkan dalam film lewat percakapan telepon satu arah dan pesan singkat. Satu-satunya pesan yang ingin disampaikan dari adegan ayah-anak itu adalah Cade seorang ayah yang baik, penyayang, meski tak berada di sisi putrinya.

Sungguh terlalu banyak informasi yang i­ngin dirangkum sutradara Michael Bay lewat film ini, pada akhirnya hanya menyesakkan film itu tanpa kesan berarti. Kalaupun ada hal yang mungkin masih bisa dinikmati, itu adalah visualisasi dan teknologi CGI yang digunakan. Jangan berharap pada jalan cerita karena tidak banyak yang ditawarkan di sana. Atau lebih tepatnya, terlalu banyak yang ditawarkan hingga tidak ada yang cukup baik untuk bisa dinikmati, baik dari segi setting sejarah, drama, maupun komedi. (AFP/Fox/Riz/Her/M-4)

Komentar