KICK ANDY

Membantu Sesama melalui Seni

Jum'at, 30 June 2017 23:20 WIB Penulis: (*/M-4)

MI/SUMARYANTO BRONTO

RATUSAN anak usia SD dan SMP tampak sibuk belajar seni. Ada yang mempelajari musik, tari, dan membaca puisi. Mereka tekun belajar di Sanggar Seni Teater Bolon, Tasikmalaya, Jawa Barat. Sang pendiri ialah Amang S Hidayat. Selama 20 tahun ia membina teater Bolon tanpa menarik bayaran. Setiap tahun rata-rata 200 anak bergabung. Amang tidak sendiri, ia dibantu para seniman di Tasikmalaya yang juga mengajar seni di madrasah- madrasah dan pesantren.

“saya mendirikan ‘Bolon’ 20 tahun lalu, di Teater Bolon, selain belajar drama, para anggotanya juga belajar berbagai macam seni di antaranya musik, tari, dan baca puisi,” ujar Amang. Anak-anak yang pernah belajar di Bolon, ada yang mendirikan kelompok teater. Sekitar delapan kelompok teater yang didirikan anak didik Amang masih aktif hingga sekarang. Sepak terjang Amang di dunia seni di Tasikmalaya cukup mendapat apresiasi dari seniman lain. Di antaranya dari Badar, pengasuh rubrik budaya Koran Radar Tasik. Menurut Badar, Tasikmalaya beruntung memiliki Amang karena kegiatan Teater Bolon mampu memberi wadah kegiatan positif bagi anak-anak. Penghargaaan juga disampaikan Donna M Backues dari Amerika Serikat. Donna yang sempat tinggal di Tasikmalaya selama 10 tahun menilai keberadaan Teater Bolon penting bagi perkembangan psikologi anak sejak usia dini. Menurut sarjana psikologi itu, belajar seni dapat mengasah kepekaan anak dan merupakan fondasi bagi anak untuk belajar ilmu lainnya. Kota Tasikmalaya dianggap Donna sebagai kota kedua yang membesarkannya dengan ragam kultur dan budayanya.

Selama membina anak-anak lewat Teater Bolon, Amang melihat anak didiknya lebih menghargai sebuah proses. Ia bersyukur anak didiknya tidak terlibat pada hal-hal yang merugikan masyarakat seperti geng motor. Secara prestasi di dunia seni, anak didiknya juga cukup membanggakan. Mereka sering menjuarai lomba seni seperti baca puisi dan tari baik tingkat lokal maupun nasional.

Galang dana
Kepekaan anak-anak Teater Bolon dibuktikan dengan menggelar pementasan untuk menggalang dana bagi korban bencana alam dan orang-orang yang membutuhkan pengobatan. Mereka membantu korban gempa Pangandaran, Yogyakarta, banjir Garut, dan lainnya, sedangkan sekitar 20 orang yang sakit berat dan tidak mampu sudah dibantu mereka. Syahdhea, salah satu anak yang dibantu Teater Bolon. Setiap akan buang air besar, Dhea yang tidak memiliki anus itu terpaksa buang air besar melalui saluran ken­cing. Orangtua anak tunggal dari pasangan Mamat, 40, dan Siti, 26, itu tidak memiliki biaya untuk operasi pembuatan saluran buang air besar. Selain itu, beberapa saluran itu menutup kembali karena tidak melakukan kontrol.

Di samping itu, Mamat juga menderita kanker kelenjar getah bening stadium empat. Keluarga yang tinggal di tempat kumuh penampungan sampah pasar di Cikurubuk, Kota Tasikmalaya ini memang sangat membutuhkan bantuan. Dalam beberapa kali penggalang­an dana selama beberapa bulan terkumpul dana hingga Rp100 juta. Tak hanya dana, anggota Teater Bolon dan komunitas lainnya juga turut menyumbangkan tenaga untuk menemani Dhea dan ayahnya di rumah sakit.

Teater Bolon juga membantu, Iksan Bani Nur Ilham, 3, mengalami jantung bocor. Anak pasangan Suherno dan Suryati diketahui mengalami jantung bocor sejak umur 7 bulan. Untuk mengobati buah hatinya itu, Suherno dan Suryati harus mengeluarkan biaya yang besar. Sekali periksa di RS Harapan Kita Jakarta menghabiskan biaya Rp4 Juta. Bantuan yang digalang Teater Bolon sangat membantu pengobatan Iksan. Amang dengan kegiatan Sanggar Seni Teater Bolon telah memberi bukti bahwa untuk membantu tidak harus bergelimang harta. (*/M-4)

Komentar