Renungan Idul Fitri

Mengukur Kadar Kemabruran Puasa

Kamis, 29 June 2017 06:07 WIB Penulis: Prof Dr KH Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Prof Dr KH Nasaruddin Umar. -- Grafis/Seno

RAMADAN sudah berlalu. Tentu kita semua berharap semoga bulan Ramadan membawa berkah secara bagi bangsa Indonesia, khususnya umat Islam Indonesia. Di dalamnya umat Islam melakukan berbagai macam ibadah ritual, seperti puasa di siang hari, tarawih, salat lail, sahur, dan berbagai macam ibadah lainnya di malam hari. Namun perlu diingat, tidak semua ibadah makbul (diterima) dan memberikan efek positif secara holistis (mabrur).

Semua ibadah mabrur sudah pasti makbul, tetapi tidak sebaliknya. Boleh jadi puasa kita sah secara syariah, tetapi belum mabrur. Tujuan puasa sebagaimana dijelaskan di dalam Alquran, La'allakum tattaqun (Agar kalian meraih ketakwaan). Untuk meraih puasa maksimum (makbul dan mabrur), sudah barang tentu puasa itu harus dilakukan secara total. Selama ini jika berbicara tentang puasa hanya menekankan standar minimumnya, yaitu menahan makan, minum, dan berhubungan suami-istri, yang notabene masih terlalu bersifat fisik. Padahal, puasa dalam maqam lebih tinggi memuasakan seluruh dimensi diri kita, baik lahir maupun batin, kepada Allah SWT.

Menarik untuk disimak kisah Nabi Zakaria di dalam QS Maryam. Ia sangat berharap memiliki anak keturunan, tetapi agak pesimistis karena dirinya sudah tua. 'Tulangnya sudah rapuh dan rambutnya sudah beruban sementara istrinya selain sudah tua juga mandul'. Namun, ia selalu berdoa dengan khusyuk agar dikaruniai keturunan.

Akhirnya doanya dikabulkan dan lahirlah seorang putra tampan, cerdas, dan kemudian menjadi nabi. Akhirnya ia diminta mewujudkan rasa syukurnya dengan berpuasa untuk bicara selama tiga malam (QS Maryam/18:2-10).

Ayat itu mengisyaratkan salah satu sifat utama puasa ialah mengendalikan mulut bukan hanya untuk tidak makan dan tidak minum, melainkan juga untuk tidak banyak bicara.

Kalangan ulama khawas menyeru kepada kita untuk sesekali berpuasa dalam suasana sunyi senyap untuk mengingat Allah SWT, sebagaimana dalam firman-Nya, "Sunyi senyaplah segala suara karena (takut) kepada Allah Yang Maha Pengasih, sehingga tiada Allah SWT, sebagaimana dalam firman-Nya: 'Sunyi senyaplah segala suara karena (takut) kepada Allah Yang Maha Pengasih, sehingga tiada Engkau dengan kecuali suara halus (bunyi telapak kaki)'." (QS Thaha/20:108).

Dalam hadis Nabi juga ditemukan beberapa hadis yang menasihatkan agar kita membatasi diri untuk bicara, apalagi bicara sembarangan.

Rusulullah bersabda, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah berkata dengan baik atau lebih baik diam."

Seruan dan peringatan Allah SWT dan Rasul-Nya agar manusia membatasi diri untuk bicara, terutama jika yang dibicarakan itu menyangkut aib atau fitnah yang dapat menghancurkan nama baik orang lain, sangat banyak mendapatkan banyak penekanan.

Itu bisa dimaklumi bahwa pembicaraan yang dapat menjadi malapetaka bagi orang lain selalu terjadi di dalam sejarah umat manusia tanpa membedakan etnik dan agama.

Banyak lagi perumpamaan yang amat buruk bagi orang yang tega menghancurkan orang lain melalui fitnah dan tudingan disebutkan di dalam Alquran, "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang." (QS Al-Hujurat/49:12).

Menarik untuk dikaji, penayangan secara sengaja aib atau memfitnah orang lain semakin marak terlihat di dalam masyarakat, terutama setelah media masa begitu marak. Ironisnya, perbuatan yang tercela ini paling banyak diminati para pemirsa.

Perhatikan media infotainment yang ditayangkan hampir semua TV, baik TV publik maupun TV berlangganan. Yang paling banyak menyedot pemirsa ialah tayangan tersebut. Isi tayangan itu ialah pengungkapan hal-ihwal para selebritas, pejabat, dan tokoh-tokoh publik lainnya.

Isi pemberitaan tersebut hampir semuanya tentang hal-hal yang miring yang dapat memojokkan orang lain. Jika tradisi pengungkapan aib, fitnah, dan gosip ini dibiarkan menjadi bagian dari budaya masyarakat kita, itu pertanda kita membudayakan sesuatu yang sesungguhnya amat dicela di dalam agama. Jika ini terus dilakukan, wajar kalau berbagai kesulitan mendera bangsa ini.

Puasa yang baru saja kita jalankan ini semoga bisa membawa perubahan signifikan di dalam diri kita sehingga berdampak positif secara luas di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Semoga bulan Ramadan yang akan datang masih bisa kita jumpai dengan suasana batin dan fisik yang prima.

Komentar