Renungan Ramadan

Keajaiban Silaturahim

Jum'at, 23 June 2017 08:56 WIB Penulis: Prof Dr KH Nasaruddin Umar, Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

Prof Dr KH Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta---MI/Seno

HAKIKAT silaturahim bisa dipahami melalui pemahaman makna semantiknya yang berasal dari dua akar kata: shilah dan rahim. Kata shilah dalam bahasa Arab berasal dari kata: washala-yashilu-washlan, wushulan, shilah, yang secara harfiah berarti sampai ke sebuah tempat atau tujuan, menyambung, menggabungkan, dan berkelanjutan, sedangkan kata rahim berasal dari akar kata rahima-yarham-marhamah, secara literal berarti menaruh kasih, mencintai, menyayangi dengan sangat dalam.

Dari akar kata ini muncul kata lain misalnya: Rahmah (rahmat), al-Rahim (Maha Penyayang), dan al-Rahman (Maha Pengasih). Dari akar kata yang sama juga lahir kata rahim, yaitu organ reproduksi, baik yang berada di dalam perut perempuan (rahim mikrokosmos) maupun organ reproduksi alam raya (rahim makrokosmos), seperti perut bumi yang lazim disebut Ibu Pertiwi.

Secara populer silaturahim sering diartikan menyambung tali cinta kasih. Silaturahim sering diidentikkan dengan kata halalbihalal, mempunyai makna lebih dari sekadar bersalam-salaman antara satu dan yang lain.

Konsep silaturahim di dalam Alquran dan sebagaimana dipraktikkan Rasulullah SAW, bukan hanya dengan sesama umat Islam, atau sesama umat manusia, melainkan lebih luas, meliputi seluruh makhluk makrokosmos, mikrokosmos, dan makhluk spiritual.

Silaturahim tidak dipilah dan dibedakan oleh atribut-atribut primordial manusia, seperti agama, ras, etnik, suku bangsa, negara, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, dan lain-lain. Aktualisasi silaturahim bisa diwujudkan dengan para makhluk spiritual, seperti dengan para arwah yang telah wafat, para malaikat, dan para jin. Bagi para sufi, juga mempunyai konsep silaturahim dengan Tuhan yang diistilahkan dengan taqarrub ilallah (pendekatan diri kepada Allah SWT).

Semakin harmonis silaturahim kepada para pihak, semakin tinggi kualitas dan martabat manusia itu. Semakin buruk silaturahim itu, semakin buruk pula kualitas dan martabat hidup manusia itu.

Sedemikian dalam makna silaturahim ini maka Nabi pernah bersabda: "Kasih sayang itu tergantung di langit Arasy lalu Ia berkata barang siapa yang menjalin hubungan denganku maka akan dihubungkan dirinya dengan Tuhan, sebaliknya barang siapa yang memutus silaturahim terhadapku maka Allah pun akan memutus hubungan dengannya."

Dalam hadis lain dikatakan: "Barang siapa yang tidak menyayangi manusia, Allah SWT tidak akan menjalin hubungan dengannya." Kekuatan silaturahim, menurut hadis Nabi, bisa memperpanjang umur, memperpanjang utang, dan tolak bala.

Apa yang dikatakan Nabi ini secara rasional bisa dipahami bahwa orang yang memiliki banyak kolega baik maka sudah barang tentu lebih banyak jembatan rahmat dan rezeki yang bisa diakses. Konsep silaturahim dalam Islam lintas kosmos.

Bukan hanya sesama umat Islam, sesama umat beragama, sesama warga bangsa, atau sesama umat manusia, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat, melainkan juga sesama makhluk, baik makhluk mikrokosmos maupun makrokosmos.

Bahkan silaturahim bisa juga dihubungkan dengan Allah SWT secara langsung. Bersilaturahim dengan sesama manusia (mikrokosmos) ialah biasa, terutama pasca-Lebaran Idul Fitri, bahkan sudah dilembagakan dalam bentuk halalbihalal.

Akan tetapi, bersilaturahim dengan alam raya (makrokosmos) sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan terasa masih langka dan belum terlembagakan. Bahkan terasa aneh jika ada orang yang dengan sengaja melakukan komunikasi secara khusus dengan makhluk alam raya.

Padahal, Rasulullah sebagai teladan kita sesungguhnya telah mencontohkan silaturahim dan menjalin hubungan keakraban dengan lingkungan makhluk di sekitarnya, seperti lingkungan alam misalnya tanah, air, dan langit; lingkungan hidup seperti fauna dan flora; lingkungan makhluk spiritual seperti bangsa jin, malaikat, dan para arwah manusia terdahulu.

Silaturahim dan keakraban sesama makhluk dapat dilihat dalam QS al-Isra'/17:44 dan QS Ali 'Imran/3:191. Ayat-ayat itu mengungkapkan bahwa di mata Allah SWT sesungguhnya tidak ada benda mati.

Bersilaturahim dengan sesama makhluk tanpa menekankan entitas, identitas, dan tingkatan (maratib) satu sama lain ialah bentuk silaturahim paling tinggi nilainya di mata Allah Swt.

Komentar