Surat Dari Seberang

Sepak Bola, Petugas Berkuda, dan Muscovite

Jum'at, 23 June 2017 08:34 WIB Penulis: Iwan J Kurniawan, dari Rusia

Pele (kiri ) berjabat tangan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin---AP/Dmitry Astakhov

PELE, mantan pesepak bola asal Brasil nampak berjabat tangan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin saat pembukaan Piala Konfederasi 2017 di Saint Petersburg, Federasi Rusia, pekan lalu. Mereka erat berbincang.

Beberapa media nasional di Rusia pun memberitakan momen itu sebagai sebuah berita hangat. Sepak bola bisa membawa sebuah persaudaraan. Kehadiran Pele hingga para petinggi FIFA, serta delapan tim sepak bola dunia, jadi sorotan penting.

Apalagi, Piala Konfederasi merupakan jembatan menuju helatan Piala Dunia tahun depan. Helatan ini digelar di empat kota, yaitu Moskow, Saint Petersburg, Kazan, dan Sochi. Partai final bakal digelar di Moskow dan Saint Petersburg.

Setelah memantau beberapa surat kabar lokal dan siaran televisi setempat, saya pun memutuskan untuk berangkat ke Stadium Spartak, Moskow. Dari tempat saya tinggal, cuma menggunakan Metro, kereta bawah tanah, guna menjangkau stadium tersebut. Ya, kira-kira 55 menit saja, plus 5 menit berjalan kaki.

Stadium Spartak ini menjadi salah satu kebanggaan Muscovite, sebutan bagi warga kota setempat. Kenapa demikian, karena jadi markas kesebelasan tim legendaris FC Spartak Moscow. Klub ini didirikan pada 18 April 1922 saat era Uni Soviet.

Oleh karenanya, para Muscovite menyebut stadium tersebut sesuai nama tim kebanggan mereka, Spartak. Nama resmi stadium tersebut adalah Otkrytiye Arena. Namun, lagi-lagi kecintaan atas tim kesayangan, nama Spartak yang lebih populer.

Matahari bersinar cukup terik da berangin. Tepat pada pukul 18.00, Rabu (21/6), ribuan penggemar sepak bola memenuhi stadium. Saya pun juga ikut antri untuk menyaksikan kesebelasan tuan rumah Rusia melawan Portugal di Grup A.

Namun, saya bukan antri untuk masuk ke stadium. Saya bersama beberapa teman bule hanya menyaksikan dari sebuah monitor. Ya, masih dalam kawasan kompleks stadium. Maklum, tiket pun lumayan mahal sekitar 4.500 ruble (sekitar Rp1 juta) untuk dapat duduk manis di dalam stadium.

Selama pertandingan antara kedua tim tersebut, para polisi dan sekuriti berjaga ketat. Ada pasukan polisi berkuda, pasukan polisi dengan anjing pelacak, dan pasukan khusus dengan senjata lengkap. Di beberapa titik, penembak jitu pun sigap bertugas. Setidaknya, mereka memastikan agar helatan tersebut tidak dicederai oleh terorisme atau pengacau.

Pemeriksaan ketat pun dilakukan di pintu-pintu masuk stadium secara berlapis-lapis. Mulai dari pemeriksaan manual sampai deteksi metal detektor. Urusan keamanan dan kenyamanan jadi prioritas. Banyak pejabat dan petinggi yang ikut nonton.

Tak dinyana, urusan bola sepak memang sangat krusial. Penjagaan ketat itu tidak hanya di kompleks stadium. Namun, juga di sepanjang stasiun bawah tanah. Termasuk, kawasan pusat, sekitar Lapangan Merah Kremlin. Itu menjadi kawasan wisata primadona bagi para pesepak bola kelas wahid.

Dari luar stadium berkapasitas 45,360 penonton, senja itu, suara suporter Portugal terdengar mersik. Itu setelah Cristiano Ronaldo membuat gol pada menit ke-8. Sontak, membuat pendukung, baik di dalam maupun di luar stadium, sejenak gagap gempita. CR-7, sapaan Ronaldo, jadi sosok paling dipuja. Sundulan mautnya itu pun menjadi gol ke-74 selama dia membela negaranya dalam kancah internasional.

Meski begitu, dukungan suporter tim Rusia belum jua usang. Mereka terus meneriakan jel-jel untuk menyemangati tim kebanggaan mereka tersebut. Mulai dari awal sampai berakhirnya pertandingan yang menegangkan itu.

Setelah turun minum babak pertama dan dimulainnya kembali babak kedua, hasil masih sama. Rusia tertinggal 0-1. Para pedukung tetap setia di bangku penonton. Penambahan waktu pun tidak membuahi hasil bagi Rusia. Portugal akhirnya menang pada laga tersebut.

Aman dan tertib

Dari pintu keluar stadium bercorak warna merah dan putih itu, mayoritas suporter terlihat muram. Itu bisa saya lihat dari orang-orang yang keluar stadium. Meski begitu, mereka melangkah satu per satu secara rapih dan tertib. Petugas kepolisian setempat juga berjaga membentuk blokade.

Itu sebagai cara untuk menjaga keamanan dan ketertiban di kawasan Stadium Spartak. Para suporter pun berbondong-bondong menuju stasiun kereta terdekat. Begitu pula ada yang ke tempat parkir. Terutama bagi mereka yang mengendarai kendaraan pribadi.

Petugas juga sigap memberikan arahan lewat pengeras suara dalam beberapa bahasa. Selain bahasa Rusia, ada bahasa Spanyol, Inggris, dan Prancis. Itu membuat suporter dari negara-negara lain pun bisa megikuti arahan secara mudah.

Boris Nikolaevich Streltsov, salah satu suporter setia kesebelasan Rusia, mengaku masygul dengan hasil tersebut. Dia ikut berbaris rapih saat hendak masuk ke Metro, yang cuma berjarak tiga ratus meter, dari Stadium Spartak.

Meski kesebelasannya kalah dalam laga tersebut. Namun, dia pun cukup senang. Tim Rusia bisa memberi perlawanan secara maksimal. "Kalah tipis sehingga mungkin masih ada kesempatan lain lagi untuk balas," ujar kakek berambut perak itu seraya melangkah masuk ke gerbong kereta.

Kawasan pertandingan memang sangat steril penjagaan. Saya pun salut dengan para petugas polisi perempuan, misalnya. Mayoritas menunggangi kuda. Itu membuat mereka leluasa bisa melihat setiap penonton yang mungkin saja gerak-geriknya mencurigakan.

Saya pun sempat berbicara dengan beberapa petugas. Mereka cukup ramah. Beberapa petugas berkuda sempat mengira bahwa saya adalah pemain sepak bola. Namun, saya langsung menjelaskan bahwa saya adalah penulis. Mendengar itu, mereka pun senyum seraya ramah mempersilakan saya untuk memotret.

Dari salah satu pintu Stadium Spartak, segerombolan suporter lain keluar. Mereka nampak menggotong bendera Portugal dan membawa poster bergambar CR-7 serta poster berwajah pelatih berdarah dingin Fernando Santos.

Mereka semua nampak gembira seraya meyakini Portugal dapat merebut trofi di Piala Konfederasi 2017 kali ini. Kita tunggu saja, tim mana yang akan membawa pulang trofi pada 2 Juli mendatang. Lewat sepak bola, kita bersaudara! (X-2)

Komentar