TAFSIR AL-MISHBAH

Keimanan sebelum Kiamat

Jum'at, 23 June 2017 08:40 WIB Penulis: Quraish Shihab

MI/Duta

TAFSIR Al-Mishbah kali ini membahas surah Yasin ayat ke 51 hingga 61.

Ayat-ayat itu mengingatkan manusia agar menyiapkan keimanan sebelum hari kiamat menjemput.

"Kiamat datang mendadak, bencana pun datang mendadak. Karena itu, setiap orang harus siap. Jangan sampai bencana datang dan tidak siap. Salah satu kebiasaan buruk pendurhaka ialah bertengkar satu dengan yang lain. Oleh karena itu, kiamat akan datang pada saat mereka bertengkar," ujar Quraish Shihab.

Surah tersebut menjabarkan Mahakuasa Allah membangkitkan manusia yang telah mati untuk hidup dan menerima balasan setimpal.

Meski manusia menanyakan kapan itu terjadi, sesungguhnya ayat-ayat yang lalu sudah memberikan jawaban dan menjelaskan bahwa tidak seorang pun yang mengetahui kapan terjadinya.

Mereka tidak menanti, kecuali kedatangan kiamat itu melalui adanya teriakan keras, yakni suara sangkakala yang dibunyikan sehingga semua yang hidup di alam raya wafat, kecuali yang dikehendaki oleh Tuhan untuk tidak wafat.

Datangnya kiamat sedemikian mendadak sehingga mereka tidak menyadari, kematian datang di antara pertengkaran.

Tiupan sangkakala pertama membuat alam raya hancur.

Ketika sangkakala kedua ditiup, semua yang ada di kubur bangkit menuju tempat perhitungan. Tempat berkumpul itu bernama Padang Mahsyar.

"Celakalah kami. Siapakah yang membangkitkam kami dari tempat pembaringan kami?" Inilah yang pernah dijanjikan Yang Maha Pemberi Kasih dan benarlah para Rasul (yang diutus-Nya) (QS Yasin : 52).

Pada ayat selanjutnya dijelaskan bahwa, "Kejadian tersebut hanya satu kali teriakan terompet, maka mereka semua berkumpul untuk datang kepada Kami untuk diadili."

Quraish mengatakan kehadiran atau penggiringan manusia ke Padang Mahsyar terjadi serentak dan bersama-sama.

Sesampainya di sana mereka yang taat dan durhaka akan dipisahkan berdasarkan perhitungan berat masing-masing.

Mereka yang bearada dalam surga memperoleh buah-buahan dan apa pun yang mereka inginkan.

Penghuni surga juga memperoleh kenikmatan, kecukupan, dan kepuasan, hingga buah-buahan diibaratkan sebagai makanan penutup.

"Salaamun, qaulam mir rabbir rahim, dikatakan kepada penghuni surga, sebagai ucapan selamat dari Tuhan yang Mahapengasih. Salaamun, keselamatan dari neraka, dan Salaamun Anda memperoleh surga. Siapa yang terhindar dari neraka, dia selamat. Siapa yang memperoleh surga, dia juga selamat. Sementara itu, orang-orang yang berdosa disingkirkan ke tempat tersendiri." (Try/H-2)

Komentar