Ramadan

Allah Ciptakan Jarak agar Manusia Belajar

Jum'at, 23 June 2017 08:20 WIB Penulis: Indriyani Astuti

Ist

ALLAH SWT menciptakan jarak supaya manusia dapat belajar dan memahami proses kehidupan.

Jarak merupakan konsep terkait posisi manusia yang berada di ruang dan waktu.

Bahkan, ibadah yang ditetapkan oleh Allah, seperti salat lima waktu dan puasa, memiliki jarak.

Jarak mengandung arti kesempatan dan peluang.

KH Muhbib Abdul Wahab mengatakan itu ketika memberikan tausiah salat tarawih di Masjid Al-Azhar, Rabu (21/6).

Ia mengatakan, jarak yang diciptakan oleh Allah juga mengandung pelajaran bahwa hidup kita serbaberproses.

Sebagai makhluk Allah, manusia dituntut untuk menjalani langkah demi langkah dan mengisi proses itu sebaik-baiknya.

Jika hidup dijalani dengan proses yang benar, ujarnya, kita akan sampai pada tujuan.

"Jarak yang diciptakan oleh Allah bertujuan agar kita mengejar tujuan dengan benar, sesuai aturan main dan langkah-langkah yang harus dilalui," katanya.

Muhbib mengatakan, jarak yang diciptakan oleh Allah, yakni waktu dan tempat, mengandung hikmah luar biasa.

Pertama, jarak mengajarkan kita tentang pentingnya memiliki kesadaran dan manajemen waktu yang baik.

Karena itu, Allah berfirman dalam surah Al-Ashr 'Demi Masa, manusia itu sungguh berada dalam kerugian'.

Manusia punya potensi merugi dan tidak beruntung dalam hidupnya karena tidak mampu memaknai antara satu waktu dan waktu lainnya yang mempunyai nilai dan bobot yang penting dalam kehidupan.

Sementara itu, manusia yang dikatakan beruntung ialah manusia yang memiliki empat sifat, yaitu orang beriman, berilmu, dan beramal soleh.

Namun, tiga hal itu tidak cukup, karenanya terakhir harus dilengkapi dengan semangat menjadi sosok manusia yang senantiasa berbagi dan mengajarkan kebenaran.

Dari empat sifat tersebut, tutur Muhbib, manusia juga diminta oleh Allah untuk saling menasihati dan mewasiatkan kesabaran dalam menjalani setiap jarak dan proses pada tahapan kehidupan.

Sebab, jarak-jarak yang diciptakan oleh Allah senantiasa mendidik manusia menjadi orang yang sabar dan sadar bahwa segala hal di dunia harus dilalui sesuai aturan hukum yang berlaku.

"Manusia cenderung tidak ingin mematuhi jarak sehingga mengambil jalan pintas. Kalau seseorang sudah mengambil jalan pintas, yang terjadi ialah melakukan pelanggaran. Ketika ingin cepat kaya, yang terjadi ialah korupsi. Salah satu bentuk ketidaksabaran untuk meraih kekayaan sesuai prosedur yang berlaku," tuturnya.

Lima perkara

Pada kesempatan itu ia juga menjelaskan, Rasullah Muhammad SAW senantiasa mengingatkan kepada manusia agar memaknai lima perkara sebelum datang lima perkara lainnya.

Pertama, pada waktu muda sebelum datangnya waktu tua, kita diminta mengisi masa muda dengan sebaik-baiknya.

Kedua, waktu ketika sehat sebelum waktu sakit.

"Dengan diingatkan kita untuk memanfaatkan waktu sehat sebelum sakit untuk beramal saleh sebelum tidak sempat lagi," ujar pengajar di Universitas Islam Negeri Syarief Hidayatullah itu.

Perkara ketiga adalah waktu luangmu sebelum waktu sibukmu.

Perkara keempat, waktu kaya sebelum miskin. Harta yang kita dapatkan, sebagian ada hak orang lain, bukan milik kita sepenuhnya.

Karena itu, kita jangan melupakan beramal. Perkara terakhir ialah hidupmu sebelum matimu. (H-2)

Komentar