celoteh

PK3

Kamis, 22 June 2017 07:44 WIB Penulis: Ronal Surapradja

Ronal Supradja -- MI/Permana

RAMADAN sudah memasuki penghujungnya, artinya tinggal beberapa hari lagi kita puasa. Senang karena akan segera usai atau malah sedih dan ingin nambah? Hehe. Menurut saya, puasa itu hanya berat di pekan pertama.

Sebelum Lebaran, saya mau mengajak untuk introspeksi dan menilai diri kita terlebih dulu. Coba berikan waktu untuk hati merenungkan apa puasa kita sudah benar di bulan Ramadan ini? Jika puasa kita sudah benar, seharusnya saat menjelang Ramadan usai ini kita mengalami peningkatan di tiga hal, yaitu kesehatan, keimanan, dan keilmuan.

Puasa baik untuk kesehatan, saya kira semua sudah tahu atau pernah membacanya. Referensinya begitu banyak, tinggal googling keluarlah berbagai macam kajian kesehatan yang sepakat menyatakan bahwa puasa baik untuk kesehatan. Rasulullah pernah bersabda, “Berpuasalah, niscaya kamu akan sehat.” Karena apa yang diucapkan beliau sudah pasti ialah sebuah kebenaran, tidak ada keraguan karenanya.

Ada penyakit yang suka mampir ke tubuh saya tanpa diundang yaitu, penyakit asam urat atau gout. Dia tidak peduli besok saya mau ada kerja atau tidak. Kalau dia sudah datang, kaki ini rasanya jangankan dipakai berdiri atau berjalan, disentuh sedikit saja saya bisa menjerit kesakitan. Pernah suatu pagi sakit itu menyerang, sementara saya harus syuting sebuah acara tentang lalu lintas dengan seorang jenderal dari kepolisian. Si tongkat kesayangan pun dikeluarkan dari lemari, saya berjalan tertatih dan sepanjang syuting saya hanya berdiri tanpa bergerak sedikit pun sambil berakting ceria sambil menahan sakit. Kebayangkan boro-boro mau menghafal skrip, bisa berdiri saja sakitnya naudzubillah. Karena itu, saya rutin cek darah untuk memantau kadar asam urat dalam tubuh.

Berikutnya tentang keimanan. Salah satu faedah dari puasa ialah meningkatnya kualitas keimanan kita. Dalam puasa kita berlatih kesabaran dalam menghadapi ujian, berlatih menghilangkan sifat buruk dalam hati, berlatih mengendalikan hawa nafsu, dan berlatih mensyukuri nikmat Allah SWT.

Dengan ibadah puasa, iman seorang hamba akan melesat naik. Puasa adalah salah satu ketaatan kepada Allah, dan setiap ketaatan memberi dampak pada meningkatnya keimanan seorang hamba kepada Allah. Selanjutnya, keimanan akan menumbuhkan ketakwaan pada dirinya. Oleh karena itu, sejumlah ayat yang memerintahkan untuk bertakwa, Allah awali dengan seruan kepada orang-orang yang beriman karena takwa hanya mampu diwujudkan oleh orang-orang yang beriman.

Lalu, yang terakhir dengan puasa akan membuat meningkatnya keilmuan. Salah satu hal yang saya senangi di bulan puasa ini ialah ngabuburead hehehe. Dalam sebulan ini saya berhasil menamatkan empat buku, tidak semua buku agama sih ada satu buku tentang musik, tapi itu tetap saja ilmu ya kan? hehehe. Buku agama yang saya baca, yaitu Islam Tuhan Islam Manusia karya Pak Haidar Bagir. Soekarno menerjemahkan Al-Quran karya Mochamad Nur Arifin, dan Fihi Ma Fihi yang berisikan ceramah Jalaluddin Rumi untuk pendidikan Ruhani. Belum lagi karena sebulan penuh yang setiap harinya saya membuat tulisan untuk kolom ini menjadikan saya banyak membaca referensi baik dari koleksi buku yang saya punya, googling dari berbagai laman, mendengarkan ceramah, maupun bertanya kepada ustaz jika ada hal yang saya tidak mengerti. Termasuk ide tulisan ini pun saya ambil dari ceramah kajian Islam di radio yang saya dengar setiap hari menuju siaran.

Idealnya, puasa Ramadan membuat kita mengalami PK3: Peningkatan Kesehatan, Keimanan, dan Keilmuan. Siapa yang tahu kita mendapatkannya? Selain Allah yang Mahatahu, ya tentu saja kita. Silakan renungkan sendiri. (H-5)

Komentar