Ramadan

Nuansa Aceh di Menu Bukber

Kamis, 22 June 2017 07:29 WIB Penulis: PS/H-2

Petugas sedang memasak Bubur Kanji Rumbi (Khas Aceh), sajian khas berbuka puasa di Masjid di Masjid Al Furqan, Gampong Beurawe, Kec. Kuta Alam, Banda Aceh, Aceh. -- MI/Ferdian Ananda

LAIN ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Demikian mungkin peribahasa yang cocok untuk suasana berpuasa Ramadan bagi masyarakat Aceh yang merantau di Kota Medan, Sumatra Utara.

Dalam bulan suci Ramadan, komunitas masyarakat Aceh di perantauan yang tergabung dalam organisasi Aceh Sepakat setiap tahun selalu mengadakan acara berbuka puasa bersama. Mereka yang terdiri dari sekitar 600 orang itu menggelar acara di kompleks Masjid Raya Aceh Sepakat di Jalan Mengkara, Kecamatan Medan Petisah.

Saat momentum itu berlangsung, masjid ini selalu menyediakan makanan khas Ramadan, yakni bubur kanji rumbi. Bubur khas Aceh itu selalu mengundang selera mereka yang hendak berbuka puasa di masjid tersebut.

Namun, pada Ramadan tahun ini ada yang sedikit berbeda dari sisi bahan dasar bubur tersebut.

Syarifuddin, 46, salah seorang juru masak di Masjid Raya Aceh Sepakat, membenarkan rasa masakan khas Aceh itu kini berbeda. Kendati rempah yang digunakan sama dengan yang digunakan dengan di Aceh, cara mengolahnya berbeda.

Ia menyebutkan rempah-rempah yang digunakan untuk membuat bubur tersebut terlebih dahulu disangrai dan bukan digoreng. Sangrai ialah teknik memasak di wajan panas tanpa minyak, ada juga yang menggunakan media pasir untuk menyangrainya.

“Rasanya berbeda karena penyiapan bahan dan rempah-rempah pilihan khas Aceh berbeda,” kata dia, kemarin.

Selain itu, bubur dibubuhi daging ayam, kepiting, dan daging sapi, tergantung selera. Rasanya sedikit agak pedas sehingga menambah cita rasa bubur tersebut. “Bubur ini hanya tersedia waktu bulan puasa saja,” ucap Syaifuddin.

Ia menyebutkan pembuatan kari daging untuk bubur tersebut membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam. Sementara itu, pembuatan bubur kanji rumi memakan waktu hingga 3 jam.

Menurutnya, lebih dari 10 tahun pengurus organisasi Aceh Sepakat menyelenggarakan acara berbuka puasa dengan makanan khas Aceh. Bukan tanpa sebab masjid ini menyediakan menu yang berbeda dari tempat lain di Kota Medan. Itu, antara lain, untuk menciptakan suasana tanah kelahiran mereka di perantauan.

“Ini jadi kalender rutin Aceh Sepakat. Ada menu khusus di sini, bubur kanji dan masakan kari daging khas Aceh yang mungkin tidak ada di tempat lain,” kata dia. Setiap hari panitia menyiapkan 800-1.000 porsi makanan untuk berbuka puasa jemaah. Syaifuddin menyebut makanan sebanyak itu bisa disediakan berkat bantuan para dermawan asal Aceh yang merantau di Medan dan donatur lainnya.

Karena itu, panitia tidak hanya menyiapkan makanan berbuka puasa untuk masyarakat asal Aceh, tapi juga semua masyarakat yang ke kompleks masjid. (PS/H-2)

Komentar