Ramadan

Ibadah Maksimal pada 10 Malam Terakhir

Kamis, 22 June 2017 06:58 WIB Penulis: Indriyani Astuti

KH Mas’adi Sulthani -- Istimewa

RAMADAN sebentar lagi akan meninggalkan kita semua. Dalam 10 hari pada malam-malam terakhir bulan Ramadan, Rasulullah SAW mempunyai tradisi tiga hal yang dilakukannya.

Pertama, Rasulullah lebih tekun dan intensif beribadah bila dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Kedua, menghidupkan malam-malam tersebut dengan terjaga saat malam. Ketiga, Rasulullah mengajak istri dan anak-anaknya untuk mengejar satu momentum, yakni malam lailatulkadar, yakni malam yang penuh rahmat dan dikatakan lebih baik daripada seribu bulan.

“Sebagaimana telah disebutkan oleh Nabi, upayakan cari dan menemukan lailatulkadar pada 10 hari terakhir pada bulan Ramadan,” ujar KH Mas’adi Sulthani ketika memberikan tausiah dalam tarawih di Masjid Al-Azhar Jakarta, Senin (19/6).

Keutamaan malam lailatulkadar telah disebutkan secara jelas melalui firman Allah dalam Surah Al-Qadr yang di dalamnya juga memuat mengenai turunnya Alquran pada malam tersebut. Mas’adi mengutip bahwa Al-Qadr diambil dari bahasa Arab dari kata Qadara. Arti dari kata tersebut tidak hanya satu, melainkan bisa berarti mulia, batasan, sempit, kualitas sesuatu atau ketetapan.

Ia mengutip bahwa Imam Ibnu Hajar berkata ada tiga pengertian dari Malam Qadar jika diambil dari sisi bahasa. Pertama adalah malam Qadar, malam kemuliaan. Malam tersebut menjadi mulia bila dibadingkan malam-malam lainnya karena turunnya Alquran. Malam Qadar adalah malam istimewa karena turun rahmat, berkah, dan ampunan Allah bagi hamba-hamba-Nya karena siapa saja yang beribadah pada malam tersebut meraih fadilah seribu bulan.

Kedua, malam Qadar artinya malam kesempitan. Dinamakan demikian karena terjadinya malam itu dirahasiakan oleh Allah kepada makhluknya sehingga tidak ada satu pun makhluk yang tahu kapan persisnya malam tersebut.

“Disempitkan pengetahuan manusia mengenai hal itu. Malam itu juga bumi menjadi sempit, karena turun malaikat, termasuk Jibril, membawa rahmat dan keberkahan,” imbuhnya.

Imam Khurtubi, ujar Mas’adi, mengatakan bahwa pada malam tersebut malaikat diperintahkan oleh Allah untuk turun dari sidratulmuntaha ke bumi. Mereka mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan manusia kepada Allah hingga terbit fajar. Malaikat yang tidak terhitung jumlahnya tersebut turun ke bumi bersamaan dengan berkah dan rahmat. Mereka datang mengerumuni orang-orang yang berzikir dan menaungi mereka dengan sayap-sayap hikmahnya.

Takdir Allah
Ia juga membahas takdir Allah. Kita perlu mengetahui perbedaan tentang adanya takdir Allah, yakni ada empat tahapan. Pertama, takdir Allah yang telah tertulis di lauful mahfudz. Allah telah menetapkan takdir tersebut sebelum segalanya Dia ciptakan.

Kedua, takdir Allah yang dituliskan kepada manusia dalam rahim ibu masing-masing saat usia empat bulan.

Ketiga, takdir yang dituliskan setiap tahun untuk didaur ulang kembali berkaitan dengan amalan manusia.

Terakhir, takdir yang terjadi dalam rentetan waktu sejalan dengan hukum sebab-akibat yang telah ditetapkan oleh Allah. Satu takdir terjadi secara bertalian dan berkaitan dalam sistem yang telah Allah buat dan dengan sepengetahuan dari Allah. (Ind/H-2)

Komentar