Renungan Ramadan

Dari Fana ke Baqa

Kamis, 22 June 2017 06:06 WIB Penulis: Prof Dr KH Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Prof Dr KH Nasaruddin Umar. -- Grafis/Seno

DI atas fana masih ada maqam yang lebih tinggi, yaitu baka. Baqa sesungguhnya kelanjutan dari fana. Jika fana, seseorang sudah sampai ke tingkat kesadaran sensorial, sudah hilang sama sekali, ia seperti dalam keadaan pingsan atau ‘mabuk spiritual’ (sahwu). Baqa akan muncul menjadi fenomena berikutnya jika kefanaan itu sudah terkendali.

Ada orang bisa menentukan kapan dan di mana ia akan melakukan suasana batin fana serta berapa lama ia akan mengalaminya. ­Orang seperti ini sudah sampai baka. Semua orang yang baqa pasti fana, tetapi tidak semua orang yang fana ialah baqa. Suasana batin baqa lebih tinggi daripada fana.

Fana dan baqa memiliki banyak persamaan. Bahkan kedua istilah ini sering disamakan atau disebut baqa ialah fana tingkat tinggi. Yang jelas, keduanya memiliki ciri-ciri yang sama, yaitu berada dalam keadaan ‘mabuk spiritual’. Keduanya telah mengalami proses ‘penghancuran’ dan perasaan lenyapnya diri, tersedot masuk ke diri Tuhan.

Baqa terlihat manakala frekuensi suasana keabadian batin lebih sering dari biasanya. Ibarat sebuah mata uang yang memiliki dua sisi, fana merasuk ke dalam diri seseorang dan baqa berusaha memanenkan pengalaman batin tersebut.

Dalam istilah tasawuf dikatakan: Man faniya ‘an jahlihi baqiya bi ‘ilmihi (Jika kejahilan hilang, maka yang tinggal ialah pengetahuan), man faniya ’an al-aushaf al-madzmumah baqiya bi al-aushaf al-mahmudah (Barangsiapa yang menghancurkan akhlak buruknya, maka yang tinggal ialah sifat baiknya).

Lebih lanjut nanti akan tiba dalam suatu tahapan: man faniya ‘an aushafih baqiya aushaf al-Haq (Barang siapa yang menghilangkan sifat-sifatnya, maka ia mempunyai sifat-sifat Tuhan).

Fana dan baqa termasuk lorong-lorong rahasia menuju Tuhan. Ekspresi dan pengalaman fana dan baqa tentu tidak identik satu sama lain, tetapi secara prinsip memiliki kesamaan satu sama lain.

Dalam dunia tasawuf dikenal sejumlah tokoh dengan spesifikasinya masing-masing. Mereka membuat istilahnya sendiri, tetapi maksud dan tujuannya tidak jauh beda dengan lainnya. Perbedaannya pada penekanan dan praktik riyadhah-nya. Implementasinya nanti terlihat dalam dunia tarekat, kelihatannya banyak aliran, tetapi satu sama lain banyak persamaan.

Bahkan pengalaman tadzakkur bisa dijelaskan oleh agama-agama lain. Dunia spiritual seperti kegiatan tasawuf dan teosofi lebih bersifat perenialistik.

Dalam dunia spiritual-sufistik sekat-sekat agama, budaya, dan bangsa sangat tipis. Karena itu, komunikasi tokoh-tokoh mistisisme lintas agama seringkali ditemukan.

Tujuan secara umum para salim ialah menemukan lorong sunyi menuju Tuhan. Di sinilah bedanya secara prinsip antara fana-baqa dengan meditasi umum.

Jika meditasi umum bertujuan untuk mencapai ketenangan psikologis yang pada saatnya berefek untuk menyembuhkan berbagai penyakit fisik dan psikis, tetapi fana-baqa lebih jauh dari itu, untuk mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah SWT.

Pada saatnya seseorang mungkin akan sampai pada kesadaran spiritual bahwa manusia, makhluk, dan Tuhan sesungguhnya tidak bisa dipilah-pilah. Yang banyak itu ternyata hanya satu dan yang satu itu menampilkan spektrum beraneka ragam. Allahu a’lam.

Komentar