Renungan Ramadan

Dari Tadzakkur ke Fana

Rabu, 21 June 2017 06:00 WIB Penulis: Prof Dr KH Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Prof Dr KH Nasaruddin Umar. -- Grafis/Seno

PERJALANAN spiritual selalu mendaki. Jika berada dalam kondisi tadzakkur, seorang salik masih sadar meskipun kesadaran sensorialnya sudah sangat tipis. Ia masih sadar bahwa dirinya masih dominan ada.

Sementara itu, jika orang sudah sampai ke tingkat fana, kesadaran sensorial sudah hilang sama sekali. Ia seperti dalam keadaan ‘mabuk spiritual’ (sahwu). Ia sama sekali tidak menyadari keberadaan dirinya sebagaimana layaknya orang pingsan.

Ia telah mengalami proses ‘penghancuran’ dan perasaan lenyapnya diri tersedot masuk ke dalam Diri Tuhan dan sering kali diiringi suasana batin yang disebut dengan baqa, yakni suasana keabadian batin yang merasa terus hidup (remain, persevere).

Dalam tadzakkur pancaindra sesungguhnya masih aktif dan dalam level lebih rendah masih berfungsi, tetapi di level fana, pancaindra sama sekali tidak lagi berfungsi.

Tadzakkur mungkin lebih mirip dengan praktik meditasi umum yang banyak didirikan kalangan psikolog atau neurolog. Bedanya, dalam dunia meditasi tujuan utamanya untuk memperoleh ketenang­an paripurna yang akan melahirkan kebahagiaan batin sejati. Meninggalkan stres, mengobati kekecewaan, dan menstabilkan emosi memang dapat dilakukan dengan meditasi.

Namun, tujuan tadzakkur bukan sekadar mencapai kete­nangan atau menyembuhkan penyakit psikis atau batin, melainkan juga mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah SWT.

Orang yang sudah sampai ke tingkat fana sering mengucapkan kata-kata yang agak aneh, tidak umum didengar.

Kata-kata yang tidak umum didengar itu se­perti ungkapan sufi berikut ini: “Aku tahu pa­da Tuhan melalui diriku, hingga aku hancur, kemudian aku tahu pada-Nya melalui diri-Nya maka akupun hidup. ...Ia membuat aku gila pa­da diriku sehingga aku mati; kemudian Ia membuat aku gila pada diri-Nya, dan aku pun hidup.... Aku berkata: Gila pada diriku adalah kehancuran dan gila pada-Mu adalah kelanjut­an hidup.” Ungkapan-ungkapan seperti itu ba­nyak ditemukan di dalam buku-buku tasawuf.

Untuk sampai ke maqam (terminal) fana, seseorang me­merlukan waktu dan perjuangan yang mung­kin tidak singkat karena harus me­lewati terminal-terminal standar sebagai­mana disebutkan di dalam maqam-maqam ter­dahulu. Pa­ra salik juga betul-betul harus kon­sisten, se­olah mewakafkan sepanjang hi­dupnya untuk menjadi salik.

Tidak bisa mendaki ke puncak tertinggi itu jika tujuannya hanya ingin mencoba-coba. Namun, jika Tuhan menghendaki, seseorang bisa saja sampai ke maqam itu tanpa memerlukan perjalanan panjang.

Maqam ini sangat langka. Jarang para salik bisa sampai ke maqam ini. Pada umumnya me­reka memerlukan persiapan khusus dan keseriusan untuk bisa melanjutkan perjalanan ke puncak. Tidak bisa hanya dengan motif ingin mencoba atau penasaran sehingga salik berusaha mencapai maqam itu.

Pada umumnya orang yang sampai ke ma­­­qam ini justru tidak pernah membayangkannya. Keikhlasan dan ketulusan yang dijalankan dengan penuh istikamah, itulah yang menjanjikan maqam puncak seorang salik.
Memang banyak jalan untuk mencapai puncak spiritual. Namun, semakin tinggi tingkat pencapaian semakin memerlukan pembim­bing (mursyid) yang tentu saja lebih tinggi pu­la karena situasi di puncak banyak faktor pengecoh yang perlu diwaspadai.

Tidak sedikit orang mendaki ke puncak, te­ta­pi terpeleset ke jurang hingga hancur. Ibarat pendaki gunung, harus menguasai ilmunya untuk sampai ke puncak. Kelihatannya mudah, tetapi penuh dengan bahaya.
Orang bisa jatuh ke kemusyrikan, bahkan ke kemurtadan, terutama jika ia frustrasi dan tidak sabar. Seseorang harus banyak melakukan latihan (riyadhah) terus-menerus. Salah satu riyadhah rutin bagus dan selalu dilakukan para salik ialah salat Tahajud dengan penuh kesungguhan, mengesampingkan pikiran du­niawi lalu fokus dan pasrah total kepada Allah. Allahu a’lam.

Komentar