Ramadan

NasDem Apresiasi Kiai Cegah Radikalisme

Rabu, 21 June 2017 08:40 WIB Penulis:

Ilustrasi

KETUA Dewan Perwakilan Wilayah (DPW) NasDem Provinsi Jawa Barat Saan Mustofa bersama rombongan melakukan safari Ramadan dengan membawa pesan dari Ketua Umum Surya Paloh kepada para kiai dan pesantren yang berada di Jawa Barat.

Kunjungan tersebut bertujuan silaturahim Partai NasDem terutama mengapresiasi peran penting kiai mencoba mencegah berkembangnya paham radikalisme di pesantren.

"Kami datang ke Tasikmalaya ini tujuannya silaturahim dengan Pondok Pesantren Cipasung dan Miftahul Huda Manonjaya. Salam silaturahim dari Ketua Umum Surya Paloh dan menyampaikan salam hormat kepada para kiai," kata dia di Miftahul Huda, Manonjaya, Senin (19/6) malam.

"Pak Surya Paloh menyampaikan terima kasih peran serta pesantren dan kiai untuk bisa mencegah pahampaham radikalisme yang akhir-akhir ini berkembang dan Surya Paloh menyampaikan aspirasi yang luar biasa terhadap pesantren.

Kami hadir di sini mewakili Surya Paloh karena belum berkesempatan hadir dan ini bagian dari silaturahim dan safari Ramadan Partai NasDem terutama rangkaian di Jawa Barat, tentunya tidak hanya di Jawa Timur dan Jawa Tengah serta daerah lainnya," ujarnya. Selain itu, Saan mengungkapkan, pihaknya memberikan apresiasi dan penghargaan serta penghormatan Partai NasDem atas peran kiai dan pesantren karena selama ini ada kegelisahan Partai NasDem terkait dengan maraknya paham dan gerakan radikal.

"Partai NasDem telah mengalami kekhawatiran terkait dengan berkembangnya paham radikalisme sekarang ini. Kami telah sampaikan kepada KH Abun Bunyamin Ruhiat pada 2018 akan ada pilkada Jabar dan Partai NasDem sudah menerapkan dukungan kepada RK. Dipastikan, RK akan silaturahim juga ke Ponpres Cipasung," paparnya.

Sementara itu, Pemimpin Umum Pondok Pesantren Miftahul Huda Manonjaya, KH Asep Maoshul Affandy, mengatakan jangan bilang beda rumah. "Landasan sebagai kebijakan sama Pancasila, Pancasila jangan diutak-atik lagi kalau orang sudah mengutak-atik Pancasila itu sama dengan menggali lubang kuburannya sendiri. Itu bukan 1, 2, dan 3. Pancasila itu jati diri Indonesia. Jadi saya dan Pak Saan berbeda partai tapi satu rumah. Yang berbeda itu pintu masuknya," kata dia. (AD/H-1)

Komentar