Ramadan

Kebijaksanaan Membawa Kebaikan

Rabu, 21 June 2017 08:30 WIB Penulis: Putri Rosmalia Octaviyani

Ilustrasi

HAKIKAT puasa yang dilakukan manusia sesungguhnya ialah menahan diri. Puasa yang Allah SWT wajibkan kepada umat Islam bertujuan menahan hawa nafsu yang ada di dalam setiap diri manusia. Dia anugerah yang tidak bisa dihilangkan, hanya bisa dikendalikan. Sementara itu, dorongan nafsu sungguh luar biasa kuatnya. Manusia punya dorongan nafsu syahwat. Tidak hanya pada wanita, tetapi secara harfi ah berarti keinginan yang sangat kuat terhadap sesuatu, seperti kekuasaan harta hingga rela melakukan segala macam cara untuk mendapatkannya.

Pada Ramadan, manusia harus dapat mengendalikan syahwat, termasuk dalam menggunakan anggota tubuh seperti tangan dan mulut. Mulut harus dihindari dari syahwat untuk bergosip atau gibah dan fi tnah. Sementara itu, tangan harus dilindungi dari berbagai perbuatan tidak terpuji. "Zaman sekarang perbuatan tidak terpuji yang bisa dilakukan tangan semakin banyak, di antaranya menyebarkan informasi bohong yang mengakibatkan perpecahan," kata Ustaz Dodi Mohamad Hidayat, dalam tausiah di kediaman Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Jumat (16/6).

Kadang kala karena ketidakbijakan dalam menyebarkan informasi, kerugian harus dirasakan banyak pihak, sesama manusia yang tidak bersalah. Padahal, Rasulullah SAW telah menegaskan umat manusia untuk tidak menyebarkah kebohongan dan kebencian. "Allah SWT bersabda, jika kamu mendapatkan sebuah informasi dari siapa dan mana saja, kamu harus terlebih dulu tabayun atau mengecek kebenarannya sebelum menyampaikannya kepada orang lain," ungkap Dodi. Mengonfi rmasi kebenaran sebuah informasi merupakan suatu bentuk dari ibadah.

Hal tersebut dapat menghindari sesama manusia untuk berselisih dan bertengkar. "Jika kita mendapatkan informasi di zaman sekarang terutama banyak didapat melalui media sosial dan langsung membagikan tanpa konfi rmasi hingga berdampak negatif, ketika kita meninggal, tangan kita yang akan berbicara dan bertanggung jawab di hadapan Allah SWT kelak," tutur Dodi.

Pahala

Sejak dulu banyak manusia yang menjadi korban akibat informasi yang tidak benar. Hal tersebut selalu meninggalkan keburukan yang merugikan sesama manusia. Sebaliknya, segala bentuk kebaikan selalu dibalas kebaikan oleh Allah SWT. Siapa yang berbuat kebaikan baik amal perbuatan, ucapan, ataupun memberikan informasi hingga kebaikan itu diikuti orang lain, dirinya niscaya akan terus mendapat manfaat atas kebaikan yang ia sebarkan. Pahala akan terus mengalir kepada dirinya sepanjang dampak kebaikan yang ia lakukan atau sebarkan memberi manfaat kepada orang lain.

"Sebaliknya, jika ia menyebarkan keburukan, selama ada orang yang dirugikan, selama itu pula ia akan mendapatkan dosa," ujar Dodi. Jadi, hakikat dari puasa itu adalah menahan diri untuk melakukan segala bentuk keburukan. Seseorang yang berpuasa harus menahan diri dari segala hal yang berdampak buruk, baik kepada dirinya ataupun orang lain. (H-1)

Komentar