Ramadan

Pulang

Rabu, 21 June 2017 03:00 WIB Penulis: (H-5)

MI/PERMANA

ANAK-ANAK yang biasanya malas-malasan saat makan sahur pagi itu seperti mendapat energi tambahan. Makannya cepat, lalu mereka mandi dan berganti baju. Semuanya dilalui tanpa ada ‘drama’ seperti setiap hari hehe. Setelah salat Subuh dengan semangat, mereka membawa tas masing-masing dan memasuhkannya ke bagasi mobil. Ya kami mau mudik pulang kampung ke Bandung. Alasan pulang itu hanya satu, rindu. Meski setiap tahun dilakukan, rindu itu rasanya tidak pernah surut. Nyalakan saja TV, pemandangannya selalu sama setiap tahun, jutaan orang bersusah payah untuk pulang menuntaskan rasa rindu kepada yang dicintai.

Seiring dengan usia, jadinya banyak hal yang dulu tidak pernah dipikirkan jadi mulai dipikirkan lebih mendalam hehe. Menurut saya, sudah saatnya mudik tidak cukup hanya dimaknai pulang ke kampung halaman karena jika dimaknai seperti itu mudik hanya bersifat kultural yang tak ubahnya seperti rutinitas. Sudah saatnya mudik kita maknai dalam konteks spiritual agar dikonotasikan sebagai upaya untuk kembali pada hakikat. Hakikat mudik ialah pulang ke kampung halaman kita yang sebenarnya, yaitu akhirat. Untuk mudik yang bersifat kultural kita tahu ke mana tujuan kita, misalnya, ke Bandung, Garut, atau Surabaya. Kendaraannya pun jelas, mobil, pesawat, atau kapal laut. Bekalnya pun kita pasti sudah kita persiapkan, makanan, minuman, pakaian, dan uang. Sayangnya banyak orang tidak tau untuk perjalanan mudik yang sesungguhnya mereka akan ke mana, mau ambil jalan mana, mau pakai kendaraan apa, dan bekal apa yang harus dibawa. Jika kita mempersiapkan segala sesuatunya untuk mudik ke kampung halaman dengan sebaik-baiknya, seharusnya persiapan untuk mudik yang sesungguhnya ke kampung akhirat nanti lebih dari itu.

Bekal yang harus kita bawa ialah takwa karena itu ialah sebaik-baiknya bekal. Takwa ialah perbekalan hakiki yang akan langgeng manfaatnya bagi pemiliknya di dunia maupun di akhirat tempat kita menetap abadi. Kalau kita lalai menyiapkan perbekalan ini, kita akan terhalang untuk sampai ke kampung orang-orang yang bertakwa. Apa yang jadi kendaraannya? Kendaraannya jihad. Jihad tidak perlu selalu dimaknai dengan berperang angkat senjata atau aksi turun ke jalan. Jihad itu hakikatnya berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghasilkan sesuatu yang diriai Allah berupa amal salih, keimanan dan menolak sesuatu yang dimurkai Allah berupa kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan.
Nah setelah tahu kendaraannya, jangan lupa iman sebagai sabuk pengamannya dipasang. Iman akan membuat kita selamat dari semua bahaya di dunia maupun di akhirat. Setelah siap barulah kita mulai memulai perjalanan di sebuah jalan yang bernama istiqamah.

Ini sebuah jalan yang lurus yang jika diikuti akan membuat kita sampai ke tujuan. Meskipun jalan yang kita lewati sudah lurus, kita haruslah tetap berhati-hati. Jangan lupa lihat kiri dan kanan siapa tahu ada yang halal dan haram akan menyeberang menghalangi jalan kita. Bagaimana jika di tengah perjalanan kita tersesat? Ingat kita punya petunjuk yang akan menunjukkan arah dengan akurat, yaitu peta dalam bentuk Alquran dan Alhadis. Jika semua kita persiapkan dan kita ikuti, Insya Allah kita akan sampai ke kampung surga tujuan kita dengan selamat. Semoga kita selamat dalam perjalanan mudik ke kampung halaman dan kampung akhirat nanti. (H-5)

Komentar