Ramadan

Toleransi Beragama di Jakarta Ditunjukkan Lagi

Rabu, 21 June 2017 02:45 WIB Penulis: Deni Aryanto deni@mediaindonesia.com

MI/RAMDANI

BERBICARA Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral di Jakarta Pusat, cukup banyak cerita dan nilai menarik. Secara letak, dua gedung megah ini jaraknya sangat dekat, hanya berseberangan. Sudah sejak lama, keduanya menjadi simbol kerukunan beragama antara pemeluk agama Islam dan Katolik di Jakarta. Kondisi itu sesuai dengan ide awal Presiden Ke-1 RI Soekarno, yang sengaja membangun Masjid Istiqlal tepat di seberang Gereja Katedral. Gagasan itu melambangkan semangat persaudaraan, persatuan, dan toleransi beragama sesuai dengan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Untuk membangun masjid termegah se-Asia Tenggara itu pun, desain bangunan mengaplikasi ide seorang arsitek beragama Katolik bernama Fredrerich Silaban.

Tidak hanya secara letak yang berdekatan, sejak Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral berdiri berdampingan, nuansa toleransi antarumat beragama terasa kental. Kerukunan tersebut terlebih dapat terlihat saat tiba hari raya besar agama. Contohnya, penyediaan tempat parkir bagi umat Katolik yang hendak beribadah Natal di Gereja Katedral. Sebaliknya, lahan parkir Katedral bagi umat Islam saat menjalankan aktivitas keagamaan serta salat id di Istiqlal. Kurang dari sepekan lagi umat muslim merayakan Hari Raya Idul Fitri. Sudah sejak pekan lalu, pengurus Gereja Katedral mengumumkan menghapus dua misa pagi dan mengundurkan dua misa lainnya saat Lebaran, pada Minggu (25/6).
Saat normal, Gereja Katedral menjadwalkan misa Minggu pukul 06.00, 07.30, 09.00, dan 11.00 WIB.

Keputusan itu sebagai bentuk toleransi bagi umat muslim yang diprediksi akan menjalankan ibadah salat id pada hari itu. Lewat akun media sosial Facebook, Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), terunggah foto poster pengumuman sebagai berikut, ‘Sehubungan dengan Hari Raya Idul Fitri dan Sholat Ied, halaman Gereja Katedral dipakai untuk mendukung terlaksananya kegiatan saudara kita kaum muslim maka, jadwal misa Minggu, 25 Juni 2017 diubah menjadi: Pagi hari:Pkl 10.00 WIB & 12.00 WIB, sore hari seperti biasa:Pkl 17.00 WIB & 19.00 WIB.’

“Kebijakan ini diambil untuk menghormati saudara-saudara kita beragama Islam yang akan melakukan salat id pukul 06.00 WIB yang akan menggunakan halaman parkir Gereja Katedral,” ungkap Humas KAJ Romo Adi Prasojo. Keputusan perubahan jadwal misa Minggu pagi murni datang dari pihak gereja. Kebijakannya hanya berlaku di Gereja Katedral Jakarta Pusat. Namun, untuk segala persiapan, pengurus Gereja Katedral masih menunggu keputusan pemerintah terkait dengan kepastian Idul Fitri 1438 H.

Berterima kasih
Saat dikonfirmasi, Kepala Bagian Protokol Masjid Istiqlal Abu Hurairah Abdul Salam mengatakan sejauh ini belum ada koordinasi dengan pihak Gereja Katedral menyangkut persiapan ibadah salat id tahun ini. “Kerja sama seperti ini sudah tiap tahun. Kita belum komunikasi lebih lanjut dengan pengurus Katedral. Soalnya belum tentu Idul Fitri jatuh pada Minggu,” jelasnya.

Namun, di samping itu, pihaknya mengucapkan terima kasih atas perhatian yang kembali diberikan kepada umat Islam dari umat Katolik, khususnya yang ada di lingkungan KAJ Gereja Katedral. Ditekankan Hurairah, selama ini hubungan dan komunikasi dengan pihak Gereja Katedral sudah berjalan baik. Keputusan Gereja Katedral untuk menjadwal ulang ibadah misa Minggu pagi pekan ini mendapat respons positif jemaat. Ami, 30, mengutarakan keputusan ini tidak akan mengganggu kekhusyukan aktivitas ibadah umat Katolik. (H-1)

Komentar