Ramadan

Ramadan Puncak Pertobatan

Selasa, 20 June 2017 07:26 WIB Penulis: Syarief Oebaidillah

Ustadz Acep Iwan Saidi (Ais) -- Dok. Youtube

SAAT ini kita berada dalam 10 hari ketiga atau tahap terakhir puasa Ramadan dan telah melampaui tahap kedua yang merupakan tahap magfirah. Di tahap kedua banyak dosa yang diampuni Allah bagi yang bertobat.

Sementara itu, 10 hari pertama merupakan tahap rahmat, yakni ketika Allah banyak menurunkan rahmat kepada manusia. Selanjutnya, 10 hari terakhir merupakan tahap yang menurut sabda Rasulullah SAW merupakan penghindaran diri dari siksa api neraka.

Selama tahap kedua yang merupakan tahapan magfirah atau ampunan Ilahi, Allah menghadiahi manusia dengan pengampunan. Menurut Ustadz Acep Iwan Saidi, silsilah manusia identik dengan silsilah dosa. Seperti ketika diturunkannya Adam ke bumi, semata-mata disebabkan hujah, ketentuan Allah.

Namun, proses penurunannya tetap melalui mekanisme pelanggaran perintah Tuhan atau dosa. Adam bahkan mengakui hal itu dan ia merasa sangat malu kepada Tuhan. “Wahai Adam, apakah kamu lari dari-Ku?” Adam menjawab, “Tidak wahai Rabku, tapi karena rasa maluku.” Demikian diriwayatkan Al Hakim.

Menurut Acep atau akrab disapa Ais, merujuk pada tafsir Ibnu Katsir dalam kitab Qashashul Ambiya tentang kisah para nabi dan rasul, itu bukan disebabkan malu lantaran dosa akibat melanggar perintah Tuhan. Adam dan Hawa juga malu karena setelah memakan buah khuldi, keduanya tiba-tiba mendapati diri mereka telanjang atau aurat terbuka, seperti termaktub dalam Alquran Surah Al Araf ayat 22. “Dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga.”

Pengakuan atas dosa Nabi Adam, ujarnya, sangat eksplisit terekspresikan dalam doanya yang sangat terkenal dan menjadi doa-doa utama amalan yang dibacakan kaum muslimin seperti dalam Alquran Surah Al Araf ayat 23.

Acep mengatakan doa itu dibacakan Adam 200 tahun sambil menangis. Karena itulah, Allah mengampuni Adam. “Dosa itu terputus pada Adam. Karena itu pula, Islam tidak mengenal dosa bawaan atau warisan,” kata Acep.

Meskipun begitu, keberadaan manusia berbanding lurus dengan kelahiran dosa. Dosa menjadi ‘yang purba dan laten’ dalam sejarah manusia.

“Karena itulah, Allah memberikan pengampunan dalam fase kedua bulan suci Ramadan. Dengan ampunan-Nya, Allah menuntaskan persoalan manusia yang paling mendasar, yakni dosa. Berarti, saum (puasa) pada Ramadan secara otomatis merupakan titik puncak pertobatan,” paparnya.

Kebahagiaan berbuka
Acep mengatakan tanda pertama dari kabar pengampunan Allah ialah dijadikannya waktu berbuka puasa sebagai salah satu titik kebahagiaan.

Ia melanjutkan sebenarnya kita tidak bisa memastikan apakah kita akan mendapat pengampunan atau tidak.

Kita hanya bisa meyakini Tuhan Mahapengampun. Kita berkewajiban berupaya dan berdoa atas nama Allah dan karena Allah dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

“Yang pasti, sebagaimana janji Allah dalam Surah Al Baqarah ayat 186 Allah begitu dekat dan akan mengabulkan siapa saja yang berdoa kepada-Nya. Di antara doa-doa terbaik di pertengahan kedua dan fase akhir Ramadan ialah doa meminta ampunan Allah yang Mahapengampun, yang ampunannya seluas langit dan bumi,” pungkas Acep. (H-2)

Komentar