TAFSIR AL-MISHBAH

Berdakwah tanpa Kenal Lelah

Selasa, 20 June 2017 07:04 WIB Penulis: Quraish Shihab

Quraish Shihab -- Grafis/Duta

PADA puasa hari ke-25 Ramadan, Tafsir Al Mishbah yang disampaikan Quraish Shihab membahas Surah Yasin ayat 13-19. Dalam ayat itu, Allah SWT menceritakan terdapat utusan-utusan sebelum Rasulullah SAW.
Utusan itu bukan hanya nabi dan rasul, melainkan dapat diartikan utusan dari para nabi dan rasul yang merupakan orang terdekat atau sahabat yang memercayai ajaran Islam. Mereka yang diutus itu menjadi pendakwah atau disebut juga pengajar ajaran Islam sebelum masa Nabi Muhammad SAW.

Pada ayat 19, Allah berfirman, “Wahai Nabi Muhammad, sampaikanlah suatu peristiwa yang daripadanya dapat diambil satu pelajaran. Engkau dapat ambil pelajaran dari situ dan umatmu juga bisa mengambil pelajaran. Sampaikan pada mereka kisah penduduk suatu negeri ketika itu datang kepada mereka itu utusan-utusan.”

Utusan sebanyak dua orang itu menyampaikan kepada suatu penduduk bahwa mereka utusan yang diperintahkan untuk memberikan petunjuk yang benar. Namun, penduduk tidak percaya sehingga Allah kembali mengutus utusan ketiga. Namun, penduduk malah menganggap kehadiran para utusan tersebut sebagai pembawa sial.

Penduduk memercayai hal seperti kesialan artinya mereka percaya pada hal gaib. Namun, hal gaib yang dipercayai merupakan hal yang irasional. Manusia menganggap kesialan ialah bentuk ketiadaan Tuhan. Padahal, Tuhan memberikan sakit kepada manusia bisa jadi sebagai kasih sayang, yakni petunjuk melalui sakit.

Para utusan itu pun mengatakan, “Apa pun keputusan kamu sekalian atas apa yang kami sampaikan ialah terserah kamu karena kami hanya menyampaikan apa yang benar.”

Dari cerita itu, kata Quraish, dapat diambil kesimpulan, pertama, berdakwah atau mengajar harus dilakukan berulang dan tidak kenal lelah. Hal itu terlihat dari utusan yang datang pertama dua orang, dan ketiga satu orang untuk mengukuhkan.

Pelajaran kedua, dalam dakwah selalu ada tantangan. Tantangannya bertahan menghadapi pertentangan antara yang baik dan buruk.

Ketiga, ujar Quraish, dalam berdakwah tidak boleh ada paksaan atau ancaman. Allah melarang Nabi Muhammad untuk mengancam dan memaksa agar orang percaya pada Islam.

Pelajaran keempat yang bisa dipetik juga mengenai pemberi rahmat. Pada dasarnya setiap manusia, apa pun agamanya, memiliki keyakinan apa yang disembahnya ialah pemberi rahmat. (Put/H-2)

Komentar