Renungan Ramadan

Dari Tafakur ke Tadzakkur

Selasa, 20 June 2017 06:10 WIB Penulis: Prof Dr KH Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Prof Dr KH Nasaruddin Umar. -- Grafis/Seno

TAFAKUR dari akar kata fakara-yafkiru-fakran-tafakkuran yang berarti berpikir, merenung, dan mengenang. Dalam tafakur ini seolah-olah manusia pasif, bahkan vakum, tidak ada kata-kata. Yang ada ialah kebisuan dan keheningan.

Dasar tafakur dalam Alquran antara lain “Dan Dia-lah Tuhan yang mem­ben­tangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buah­an ber­pa­sang-pasangan, Allah menutupkan malam kepa­da siang. Sesungguhnya pa­da yang demikian itu ter­dapat tanda-tanda (kebe­saran Allah) bagi kaum yang memikirkan (QS Al-Ra’d/13:3).

Tafakur bukan hanya me­ngenal fenomena alam (makrokosmos), melainkan juga mengenali lebih dalam diri kita sebagai manusia atau mikro­kosmos.

Dalam literatur tasawuf, tafakur ada lima macam, yaitu bertafakur tentang ayat-ayat Allah akan melahirkan ma’rifah; bertafakur tentang nikmat Allah melahirkan mahabbah; bertafakur tentang janji Allah dan pahalanya melahirkan optimisme; bertafakur tentang ancaman dan siksaan Allah melahirkan takut; dan bertafakur tentang kelalaian manusia menjauhi Allah melahirkan penyesalan.

Setelah melewati pintu tafakur, seorang pencari Tuhan (salik) harus melewati pintu berikutnya, yaitu tadzakkur. Kalau tafakur masih mengandalkan energi dan kekuatan pikiran, sedangkan tadzakkur sudah melewati akal pikiran (beyond the mind).

Tadzakkur berasal dari akar kata dzakara-yadzkuru yang berarti mengingat dan menghayati. Tadzakkur berarti upaya untuk mengalihkan berbagai gangguan pikiran dan perasaan dan berada pada puncak ketenangan batin.

Tadzakkur ialah suasana batin se­seorang yang sampai pada kesadaran puncak bahwa Tuhan sudah begitu dekat dan tidak lagi berjarak dengan makhluk-Nya. Tidak ada lagi subjek dan objek. Berbeda dengan tafakur yang masih menyadari dirinya sebagai makhluk dan Tuhan sebagai Sang Khaliq, tadzakkur sudah sampai pada tauhid sejati.

Tauhid sejati bagi orang yang sudah sampai di maqam tadzakkur sudah menyadari dan menghayati keesaan zat (tauhid al-dzati). Selama manusia masih menyadari ada subjek dan ada objek, atau adanya hamba dan Tuhan, maka belum dianggap menyadari tauhid al-dzati. Bahkan tadzakkur juga bisa mengantar manusia pada kesadaran keesaan perbuatan (tauhid al-af’al) dan kesadaran sifat (tauhid al-shifat).

Kesadaran akan tauhid al-af’al dan tauhid al-shifat ketika seseorang sudah menyadari bahwa perbuatan dan sifat itu hanya satu, yaitu perbuatan dan sifat Tuhan dalam arti lebih tinggi. Mirip dengan apa yang dikatakan Ibn ‘Arabi sebagai ketunggalan wujud sejati (wahadat al-wujud).

Dalam tahap ini seseorang sudah berhasil memecahkan kebuntuan dualitas Ilahi (duality of God). Zat, perbuatan, dan sifat hanya satu. Inilah makna hakiki: La ilaha illallah (Tiada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah).

Namun, tadzakkur tidak menurunkan Tuhan menjadi manusia atau menuhankan makhluk. Tadzakkur tidak menghilangkan fungsi dan kewajiban kehambaan. Justru jalan menuju ke tingkat tadzakkur tidak ada cara lain selain melakukan kesadaran syariah secara sempurna. Sulit membayangkan adanya tafakur dan tadzakkur tanpa syariah yang perfect.

Tadzakkur tidak bisa didefinisikan dan tidak bisa diceritakan. Tadzakkur ialah pengalaman yang yang sangat pribadi. Pengalaman itu tidak bisa didekati dengan model atau kategori disiplin ilmu konvensional dan kontemporer, apalagi dengan ilmu fikih.

Kekeliruan di masa lampau pernah terjadi karena pengalaman spiritual yang amat pribadi tetapi diadili (tahkim) dengan paradigma formal logik ilmu fikih. Akibatnya Mansur Al-Hallaj jadi korban dan dunia teosofi dan tasawuf mengalami kemandekan.

Dalam Alquran antara lain, “Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.”(QS Al-Ahdzab/33:42), dan ayat, “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS Al-Ra’d/13:28).

Wirid banyak mendapatkan perhatian khusus para ulama karena secara umum dapat dilaksanakan umat Islam. Sehubungan dengan ini, Ibnu ‘Athaillah mengatakan, “Ja­ngan kita menganggap rendah hamba yang memiliki wirid dan ibadah tertentu, karena keduanya memiliki keduduk­an yang mulia di sisi Allah.”

Ia menambahkan, “Jika engkau melihat seorang hamba yang ditetapkan Allah dalam menjaga wiridnya, dan dilanggengkan-Nya dalam keadaan demikian, namun lama ia tidak mendapatkan pertolongan-Nya, jangan sampai engkau meremehkan apa yang Allah telah berikan itu kepadanya, hanya karena engkau belum melihat tanda-tanda orang ‘arif ataupun cahaya indah seorang pencinta Allah pada diri hamba itu. Kalaulah bukan karunia berupa warid, tentu tidak akan ada wirid.”

Wirid merupakan amalan yang dilakukan untuk men­dekatkan diri kita kepada Allah SWT dalam bentuk memperbanyak zikir yang dilakukan secara telaten dengan taat acara yang teratur. Biasanya wirid ini pemberian dari mursyid atau guru spiritual yang dianjurkan untuk diamalkan.

Diusahakan sedapat mungkin tidak terputus. Berbeda dengan zikir yang bisa diamalkan kapan dan di mana saja tanpa terikat tata cara dan aturan tertentu. Wirid sejatinya merupakan amalan praktisi tarekat atau salik.

Orang-orang yang sudah biasa mengamalkan wirid seperti ketagihan. Jika belum menyelesaikan wirid-nya, sulit untuk tidur, seolah-olah ada kewajiban yang belum ditunaikan. Orang-orang yang sudah menyelami makna wirid itulah yang akan merasakan warid, sebuah efek spi­ritual dalam bentuk suasana batin yang damai, tenteram, dan tenang.

Sebagaimana halnya zikir dan wirid, tafakur juga salah satu media pendekatan diri kepada Allah SWT. Bedanya, yang pertama dan kedua, seolah-olah yang aktif adalah manusia, sedangkan yang ketiga (tafakur) seolah-olah manusia pasif, bahkan fakum, tidak ada lagi kata-kata, yang ada hanya kebisuan dan keheningan. Tafakkur biasanya merupakan kelanjut­an dari zikir dan atau wirid. Rasulullah bersabda (dikutip dalam kitab Hadaiq al-Haqaiq karya Al-Razi) bahwa, “Tafakur sejam lebih baik daripada setahun ibadah.”

Komentar