Olahraga

Indonesia Krisis Pembinaan

Selasa, 20 June 2017 01:15 WIB Penulis: Nurul Fadillah

ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

TIM bulu tangkis Indonesia berhasil mencapai target di turnamen Indonesia Terbuka Super Series Premier 2017. Pada turnamen yang berlangsung di Plenary Hall, Jakarta Convention Centre, 13-18 Juni lalu itu, satu gelar yang menjadi bidikan skuat 'Merah Putih' dapat diamankan ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Kendati sukses memenuhi target, Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) mengaku akan tetap melakukan evaluasi. Mereka bahkan merasa punya pekerjaan rumah bagi skuat bulu tangkis. Sekretaris Jenderal PP PBSI, Achmad Budiharto, pun menyoroti masalah pembinaan dan regenerasi sebagai hal yang paling krusial saat ini.

"Kita memang bisa mendapat satu gelar juara walaupun dari sisi pembinaan dan regenerasi yang menjadi catatan penting bagi kita semua karena kita masih bertumpu dengan para pemain senior," ujar Budi kepada media di Jakarta, Senin (19/6). "Kita berharap muncul pemain baru, seperti Fajar/Rian (Fajar Alfian/Muhammad Rian Adianto) yang harusnya bisa berbuat lebih, tetapi ternyata mereka belum bisa mengatasi tekanan dan butuh banyak jam terbang lagi untuk bisa ke level yang lebih tinggi." Tontowi/Liliyana yang menjadi penyelamat muka Indonesia di turnamen berhadiah total RP13,5 miliar tersebut sejatinya justru kurang diperhitungkan.

Alasannya, PBSI lebih menjagokan ganda putra. Namun, Tontowi/Liliyana justru menjadi pahlawan Indonesia dengan mengalahkan ganda peringkat pertama dunia Zheng Siwei/Chen Qingchen (Tiongkok) di partai puncak. Sebaliknya, ganda peringkat pertama dunia Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon yang semula menjadi andalan di luar prediksi justru harus tersingkir lebih awal. Terlepas dari cedera bahu kanan yang diderita Kevin, performa juara All England 2017 tersebut dinilai masih angin-anginan.

Terbukti mereka tersingkir sejak babak pertama setelah dikalahkan Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmussen dengan skor 16-21, 16-21. Demikian halnya dengan ganda unggulan kedelapan Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi. Mereka justru kalah dari ganda junior, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, 21-17, 17-21, 21-15 pada babak kedua.

Kurang semangat juang
Hasil terburuk diraih sektor tunggal Indonesia yang sudah berguguran sejak babak-babak awal. Pencapaian tertinggi hanya sampai babak kedua. Menurut Kabid Binpres PP PBSI, Susy Susanti, para atlet tunggal putra dan putri saat ini minim semangat juang. Ia menilai para atlet saat ini terlalu santai dan berada di zona nyaman sehingga sulit menerima program keras yang diberikan PBSI. "Kita sih maunya para pemain seperti itu kita cut, tapi masalahnya kita enggak punya materi pemain lagi karena regenerasi di bawah mereka itu masih kosong. Makanya kita ingin duduk bareng dan membicarakannya dengan klub-klub di Indonesia."

Selain membenahi mental dan mind set para atlet, PP PBSI akan terus meningkatkan kualitas teknik dan juga fisik sektor tunggal. Susy pun melanjutkan, khusus tunggal, PBSI menargetkan prestasi paling lambat tahun depan. "Contoh tunggal putri kami target enggak mungkin juara, paling enggak masuk 8 besar atau 16 besar kalau di tingkat super series. Namun, kami harapkan tahun ini, paling lambat tahun depan ada juara," tegasnya. (R-3)

Komentar