celoteh

Masakan Ibu

Senin, 19 June 2017 07:45 WIB Penulis: Ronal Surapradja

Ronal Supradja -- MI/Permana

SAKING jarangnya saya sampai lupa kapan terakhir kali tidur siang. Kebetulan hari itu agenda kerja santai, dan kalau diingat selama bulan puasa ini belum sekali pun saya mengisi ngabuburit dengan tidur. Boleh dong, kan, tidurnya orang berpuasa itu ibadah hehe.

Tidur siang setelah zuhur dan terbangun menjelang pukul 16.00 itu terasa nikmat sekali. “Tumben bisa tidur tenang tanpa gangguan dua anak kecil, begitu pikir saya. Setelah mandi dan salat Asar, saya kembali di posisi kesukaan, yaitu di atas sofa dengan laptop di pangkuan lalu melanjutkan menulis. Iseng, saya nyalakan TV buka untuk ditonton, tapi hanya sebagai teman supaya tidak sepi. Namun, menulis hanya tinggal rencana karena mata saya terpaku ke TV melihat Nigella Lawson memasak.

Perempuan jago masak itu derajatnya tinggi di mata saya karena mereka terlihat smart dan sexy di saat bersamaan. Makanya saya menggemari acara masak memasak terutama jika chef-nya perempuan. Selain Nigella, saya suka menonton Patricia Heaton. Dia pemeran Debra, istri yang sering dipusingkan kelakuan suaminya di film seri Everybody Loves Raymond. Ternyata dia memang jagoan masak seperti di fimlnya hehe. Atau Katie Lee, chef cantik yang pernah dinikahi musikus Billy Joel.

Saat asyik menonton Nigella beraksi, saya mendengar suara tertawa di dapur yang pintunya tertutup. Anak-anak yang saya kira berada di luar rumah untuk les ternyata berada di dapur membantu ibunya membuat kue. Ah sebuah pemandangan yang indah! Kalau lihat kondisi dapur sih boro-boro indah, yang ada malah berantakan berkat bantuan mereka hehe. Indahnya ialah melihat mereka yang dengan antusias mengikuti instruksi sang ibu. Ada yang membuat adonan, mencetak, sampai memanggang. Ini seperti reka ulang kejadian di dapur mama di Bandung 30 tahunan yang lalu.

Untuk seorang anak, masakan ibu ialah yang ternikmat di dunia. Jangankan makanan yang rumit dan lama memasaknya, hanya dibuatkan mi instan pun entah kenapa tetap rasanya beda. Membicarakan masakan ibu sama juga dengan membangkitkan memori bahagia banyak orang. Untuk seorang ibu masakan ialah senjata untuk mengumpulkan keluarga. Ibu percaya makan bersama masakan rumah merupakan salah satu cara untuk mempererat keharmonisan keluarga. Kelak inilah yang nantinya akan membantu membangun karakter dan kepribadian anak di masa depan.

Menurut saya, faktor penting yang membuat masakan ibu terasa lebih nikmat karena adanya persepsi emosional akan sebuah rasa dapat ditingkatkan faktor waktu, cinta, dan rasa peduli terhadap sebuah masakan. Hal ini menjadi alasan utama kenapa masakan ibu yang paling lezat karena dimasak atas dasar kasih sayang untuk memberikan asupan yang cukup bagi keluarganya. Masakan ibu selalu mengandung vitamin C, cinta. Sejago-jagonya chef restoran memasak, kadar vitamin cinta-nya tidak akan sebesar buatan ibu.

Istri saya tidak pandai memasak, tapi mau belajar terlihat dari niatnya membeli banyak buku resep, menonton acara memasak dan berani mencobanya. Dengan keringat yang berembun di dahi dan pakaian yang cemong oleh bahan kue, saya melihat istri saya begitu seksi.

Hari itu dia membuat tiga kue yang dilihatnya dari buku resep: cheese button kesukaan anak-anak, lidah kucing, kesukaan saya, dan peanut butter cookies. Setelah makan malam, saya melihat anak saya masing-masing memegang satu stoples cheese button. Sambil menonton kartun, mereka tidak berhenti menikmatinya. Selain merupakan pemandangan yang emosional, ini bagus secara finansial karena menikmati kue cheese button yang kalau beli harganya membuat saya sebagai si tukang bayar suka geleng-geleng kepala haha.

Beruntunglah kita yang masih punya ibu dan sering memasak untuk kita. Ingin rasanya cepat-cepat mudik untuk pulang ke rumah orangtua untuk bertemu dan menikmati masakannya, masakan ternikmat bagi anak-anaknya.

Because only mom can cooking with love and provides food for our soul. (H-5)

Komentar