Renungan Ramadan

Dari Wirid ke Tafakur

Senin, 19 June 2017 06:00 WIB Penulis: Prof Dr KH Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

SUATU ketika para pekerja dan pelayan menghadap Rasulullah SAW untuk diajari sesuatu yang bisa membuat mereka setara dengan tuannya, yang tidak hanya beribadah, tetapi juga bersedekah dan berinfak.

Mereka menyatakan hanya bisa beribadah, tetapi tidak mampu bersedekah dan berinfak.

Rasulullah SAW mengajari mereka dengan zikir: Jika kalian membaca subhanallah, al-hamdulillah, dan Allahu Akbar masing-masing tiga kali seusai salat fardu, kedudukan kalian sama dengan tuan kalian di mata Allah SWT.

Para pekerja dan pelayan mengamalkan wirid itu setiap seusai salat fardu.

Para tuan-tuan pekerja dan pelayan yang mengamati kebiasaan baru karyawannya, akhirnya mereka juga mengamalkan wirid itu.

Kelompok pekerja dan pelayan kembali mendatangi Rasulullah SAW mengadukan bahwa tuannya juga mengamalkan hal yang sama.

Mereka meminta yang lain agar di akhirat tidak kalah dengan tuan-tuannya. Rasulullah SAW menjawab, "Sesungguhnya Allah memberi petujuk kepada siapa yang dikehendakinya."

Zikir berarti mengingat atau menyebut.

Dzikrullah biasa diartikan menyebut-nyebut (nama) Allah SWT seraya mengingat-Nya.

Wirid dari akar kata wara da yang berarti 'datang mengambil air'. Seakar kata dengan ward yang berarti bunga mawar.

Makna wirid dalam hal ini sama dengan zikir.

Bedanya, zikir biasanya tidak ditentukan jumlah, waktu, dan tempat pelaksanaannya, sementara wirid biasanya ditentukan jenis, jumlah, waktu, dan ketentuan pengamalannya.

Yang pertama biasanya bersifat insidental dan yang kedua bersifat permanen.

Dalam Alquran antara lain, "Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang."(QS Al-Ahdzab/33:42), dan ayat, "(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS Al-Ra'd/13:28).

Wirid banyak mendapatkan perhatian khusus para ulama karena secara umum dapat dilaksanakan umat Islam. Sehubungan dengan ini, Ibnu 'Athaillah mengatakan,

"Jangan kita menganggap rendah hamba yang memiliki wirid dan ibadah tertentu, karena keduanya memiliki kedudukan yang mulia di sisi Allah."

Ia menambahkan, "Jika engkau melihat seorang hamba yang ditetapkan Allah dalam menjaga wiridnya, dan dilanggengkan-Nya dalam keadaan demikian, namun lama ia tidak mendapatkan pertolongan-Nya, jangan sampai engkau meremehkan apa yang Allah telah berikan itu kepadanya, hanya karena engkau belum melihat tanda-tanda orang 'arif ataupun cahaya indah seorang pencinta Allah pada diri hamba itu. Kalaulah bukan karunia berupa warid, tentu tidak akan ada wirid."

Wirid merupakan amalan yang dilakukan untuk mendekatkan diri kita kepada Allah SWT dalam bentuk memperbanyak zikir yang dilakukan secara telaten dengan taat acara yang teratur.

Biasanya wirid ini pemberian dari mursyid atau guru spiritual yang dianjurkan untuk diamalkan.

Diusahakan sedapat mungkin tidak terputus.

Berbeda dengan zikir yang bisa diamalkan kapan dan di mana saja tanpa terikat tata cara dan aturan tertentu.

Wirid sejatinya merupakan amalan praktisi tarekat atau salik.

Orang-orang yang sudah biasa mengamalkan wirid seperti ketagihan.

Jika belum menyelesaikan wirid-nya, sulit untuk tidur, seolah-olah ada kewajiban yang belum ditunaikan.

Orang-orang yang sudah menyelami makna wirid itulah yang akan merasakan warid, sebuah efek spiritual dalam bentuk suasana batin yang damai, tenteram, dan tenang.

Sebagaimana halnya zikir dan wirid, tafakur juga salah satu media pendekatan diri kepada Allah SWT.

Bedanya, yang pertama dan kedua, seolah-olah yang aktif adalah manusia, sedangkan yang ketiga (tafakur) seolah-olah manusia pasif, bahkan fakum, tidak ada lagi kata-kata, yang ada hanya kebisuan dan keheningan.

Tafakkur biasanya merupakan kelanjutan dari zikir dan atau wirid.

Rasulullah bersabda (dikutip dalam kitab Hadaiq al-Haqaiq karya Al-Razi) bahwa, "Tafakur sejam lebih baik daripada setahun ibadah."

Komentar