celoteh

The Power of Cuap-Cuap

Ahad, 18 June 2017 08:51 WIB Penulis: Ronal Surapradja

Ronal Supradja -- MI/Permana

“SELAMAT pagi Jakarta, selamat pagi Indonesia, selamat pagi semesta. Ketemu lagi sama Ronal, Tike, dan Melissa di Sarapan Seru yang tiga kali lebih seru.” Warga Jakarta dan sekitarnya mungkin sudah akrab dengan sapaan saya setiap pagi di Jak 101 FM selama 9 tahun terakhir ditambah awal karier siaran radio di Bandung 5 tahun, berarti 14 tahun.

Jadi, penyiar radio ialah pekerjaan saya yang paling lama dan saya belum menemukan alasan untuk berhenti. “Jadi penyiar itu gampang enggak sih?” Banyak yang sering bertanya kepada saya. Saya jawab ya dibilang gampang, ya enggak juga. Tapi dibilang susah, juga enggak, kok, karena bisa dipelajari. Ada juga yang bilang, “Enak kerja jadi penyiar, ngomong doang terus dibayar.” Nah untuk pernyataan seperti ini saya bisa bicara panjang lebar.

Memang kerja penyiar itu ‘ngomong doang’, tapi di balik itu ada perjuangan, pengorbanan, komitmen, dan tanggung jawab. Kalau ‘ngomong doang’, semua orang mungkin bisa jadi penyiar, tapi bagaimana si ‘ngomong doang’ itu bisa membuat seseorang jadi penyiar yang dicintai pendengar, disukai klien, dan disayang perusahaan. Di situ ada keringat, darah, dan air mata.

Sembilan tahun terakhir saya selalu bangun pukul 04.30. Setelah mandi, berpakaian, dan salat Subuh, saya berangkat ke radio karena siaran mulai pukul enam pagi. Penyiar tidak boleh telat, itu bentuk komitmen dan tanggung jawab. Perjuangannya, ya, melawan ngantuk dan rasa malas. Saya lupa sudah berapa judul sinetron yang saya tolak karena selesai syuting pasti tengah malam. Kenapa? Karena saya mau menjaga kualitas siaran saya.

Sambil siaran, saya cari berita di internet dan media sosial. Mulai situs berita serius, hiburan, sampai gosip saya baca. Nah, untuk koran, setiap harinya saya baca empat koran, lo hehe. Lah, bukannya sama aja? Berita memang sama, tapi sudut pandang tiap media pasti berbeda. Jadi, penyiar harus lebih banyak baca, lebih banyak nonton, lebih banyak pengalaman, dan lebih banyak cerita jika dibandingkan dengan pendengarnya. Itu juga alasan saya setiap hari berojek dan berangkutan umum supaya saya ‘kaya’ dengan cerita.

Berikutnya syarat mutlak jadi seorang penyiar ialah kreativitas yang tidak boleh berhenti dan seiring dengan zaman think without the box jadi lebih relevan. Bebaskan saja kreativitasmu dan eksplorasi sampai batas maksimal. Selama masih dalam kaidah penyiaran yang baik, lakukan saja.

Dalam sembilan tahun ini rasanya sudah banyak yang saya lakukan. Saya dan Tike, partner siaran saya, dulu sering buat lagu parodi setiap minggunya. Saking populernya, kami sampai dibuatkan konser di JCC.

Jadi penyiar juga telah membawa saya ke tempat yang tidak pernah saya bayangkan. Jadi MC di empat benua sampai jadi pembawa acara untuk acara Presiden Jokowi bertemu warga Indonesia di luar negeri pernah saya lakukan. Jadi penyiar juga telah membuat saya bertemu dengan banyak orang. Artis dalam dan luar negeri sih sudah tidak terhitung hehe. Dari mulai duta besar negara asing, menteri, jenderal, sampai tiga calon gubernur di pilkada DKI kemarin berhasil saya ajak siaran bareng. Saya yakin itu bukan karena saya ‘artis’ yang suka tampil di TV, melainkan karena saya ialah penyiar.

Namun, dari semuanya, yang paling membahagiakan ialah ketika bertemu dengan orang yang tidak saya kenal lalu dia menyapa hangat dan mengucapkan terima kasih karena telah menemani paginya setiap hari. Mereka ialah pendengar setia siaran kami. Rasanya luar biasa ketika tahu pekerjaan yang kita lakukan begitu berarti buat orang lain meskipun kami tidak pernah bertemu. Itulah kelebihan radio jika dibandingkan dengan TV, sifatnya personal dan dekat. Radio selalu menjadi bagian dari hidup saya karena itu ialah kantor tempat saya bekerja, sekolah tempat saya belajar, dan tempat saya beribadah menghibur orang.
Sampai berjumpa di udara ya! (H-5)

Komentar