Tifa

Melawan dalam Tekanan

Ahad, 18 June 2017 08:30 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi/M-2

Karya tari ini mengungkapkan bahwa tumpuan tubuh tidak selalu berada pada kaki dan seluruh anggota tubuh yang lain dapat juga berfungsi sebagai tumpuan. -- Dok. Mohammad Hariyanto

TERTEKAN dan terkenan. Kesan itu begitu nyata dari awal masuk ruang pertunjukan. Nuansa gelap dan berkabut menjadi ucapan selamat datang yang begitu kental aroma intimidasi. Begitupun selama pertunjukan hampir tidak dijumpai gerak dengan tempo cepat. Semua gerak seolah menjadi lebih lambat daripada irama detak jantung.

Saking lambatnya, penonton seolah dipaksa masuk ruang kontemplatif yang disuguhkan gerak para penari. Beberapa di antara penonton bahkan sampai menguap, bergerak gusar, dan beberapa kali membetulkan posisi duduk. Barulah pada menit berakhir pertunjukan berubah tempo menjadi cepat dan lebih cepat. Hingga lampu panggung tiba-tiba padam dan penonton belum juga menerima bahwa itu adalah akhir. Tak terasa pertunjukan tari berdurasi 1 jam itu telah usai.

Koreografer Melati Suryodarmo sukses membawa penonton masuk ruang imaji dalam pertunjukan bertajuk Vertical Recall yang dihelat di Teater Salihara pada 10 Juni 2017. Ia berhasil menampilkan tubuh-tubuh yang mewakili daya tahan manusia dalam situasi dunia saat ini yang penuh dengan tekanan.

Vertical Recall menelusuri cara manusia menunjukkan perlawan­an dalam situasi tertekan. Karya ini mencari sesuatu di balik mimpi masyarakat yang merindukan tempat semua jawaban atas segala persoalan hidup bisa terselesaikan. Terinspirasi oleh naskah drama Waiting for Godot karya Samuel Beckett, Melati menekankan Vertical Recall pada studi tingkah laku yang dimaknai secara filosofis dari naskah Beckett tersebut.

Vertical Recall menampilkan tingkah laku nunusia yang berupaya pasrah pada keadaan dan kehidupan dalam situasi yang sulit. Cara-cara atau tingkah laku manusia tersebut terbagi menjadi beberapa karakter. Ada yang memaksakan hidup kepada kematian. Ada yang merusak diri melalui sikap konsumtif, mengalihkan tujuan hidupnya hanya untuk tujuan surgawi belaka dan ingin mendapatkan kekuasaan untuk menindas orang lain melalui tatanan gerak, tindakan performatif, teks, dan musik yang menyatu dengan tata ruang visual dan suara.

Melati Suryodarmo ialah salah satu koreogarafer yang unjuk karya pada Helatari Salihara 2017. Ia bersama dengan empat koreografer lain yakni Emmanuelle Vo-Dinh, Mohammad Hariyanto, Katia Engel, dan Yola Yulfianti.

Menarik untuk menyimak pertunjukan Tari Ghulur pada 11 Juni, ketika Hanafi Muhammad tampaknya tidak ingin membuat pertunjukan penari Mohammad Hariyanto menjadi sekadar pertunjukan tari. Ia menempatkan banyak seng hingga menutupi semua lantai tari. Bahkan penonton pun harus berjibaku dengan seng untuk bisa duduk dan menikmati pertunjukan. Seng itu ialah simbol kehidupan primitif menuju urban.

Kata ghulur berarti ‘bergulung-­gulung’. Tari Ghulur ialah dialog antara tubuh dan tanah, yang diwujudkan ke dalam gerakan seorang penari yang bergulung-gulung.

Ada gerakan melompat, merayap, dan gerakan lain yang dilakukan penari tanpa posisi berdiri. Karya tari ini mengungkapkan bahwa tumpuan tubuh tidak selalu berada pada kaki dan seluruh anggota tubuh yang lain dapat juga berfungsi sebagai tumpuan. Selain itu, karya ini menampilkan bagaimana tubuh seharusnya merasakan dirinya sendiri.

“Ini membahasakan tangisan ­tubuh yang menangis karena ­bertemu tanah,” ujar Hariyanto seusai pementasan. (Abdillah M marzuqi/M-2)

Komentar