Tifa

Di Balik Sketsa sang Maestro

Ahad, 18 June 2017 08:37 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

Pengunjung tengah mengamati sketsa Sudjojono yang sebagian besar gambar-gambarnya dibubuhi catatan-catatan atau deskripsi tentang makna gambar yang tak bisa dijelaskan dalam bentuk rupa. -- MI/Abdillah M Marzuqi

NAMA besar Sudjojono sudah sangat melekat dengan seni rupa Indonesia. Nama Sudjojono wajib hukumnya untuk dikenal di kalangan pencinta seni. Kalangan kolektor wajib hukumnya untuk paling tidak punya pengetahuan berapa rekor harga lukisan Sudjojono di berbagai lelang dalam maupun luar negeri meski tidak mengoleksi karya Sudjojono.

Di kalangan kritisi seni dan kurator, wajib hukumnya untuk punya pengetahuan di atas rata-rata mengenai siapa dan apa karya ­Sudjojono. Kalau ilmu agak terbatas, harus pandai-pandai mengutip ­informasi tersedia.
Sekalimat pembuka dari ­Daniel Komala itu seolah cukup untuk menggambarkan posisi Sudjojono dalam seni rupa Indonesia. ­Sudjojono dikenal sebagai bapak seni rupa modern Indonesia. Karyanya beragam dari lukisan, patung, hingga sketsa tidak hanya diakui bangsa dan negara Indonesia, tetapi juga dikenal dengan baik di mata dunia.

Itulah di antara alasan pentingnya merujuk pameran Hidup Mengalun Dendang di Bentara Budaya Jakarta pada 7-13 juni 2017. Pameran itu dikuratori Daniel Komala, Ipong Purnama Sidhi, dan Siont Teja. ­Acara yang dihelat S Sudjojono Center (SSC) itu tidak hanya mengadakan pameran, tetapi juga peluncuran buku dan pameran memorabilia.

Buku yang diluncurkan adalah buku autobiografi dari sang seniman berjudul Cerita tentang Saya dan Orang-Orang Sekitar Saya dan buku biografi istri S Sudjojono, Rose Pandanwangi, yang berjudul Kisah Mawar Pandanwangi.

Semasa hidup, Sudjojono membuat sektsa dengan pensil, cat air, bolpoin atau tinta cina. Jumlahnya ratusan, bahkan ribuan. Bagi Pak Djon, panggilan akrab Sudjojono, sketsa itu penting bagi seorang pelukis. Sudjojono membuat gambar dan dibubuhi catatan-catatan yang menjelaskan atau memberi keterangan atau deskripsi tentang makna gambar yang tak bisa dijelaskan dalam bentuk rupa. Baginya, sketsa adalah catatan harian.

‘Sketsa itu penting sekali, dengan warna orang bisa menipu. Dengan tema orang bisa ngibutin si penglihat. Dengan sketsa tidak bisa orang bohong, dia tidak bisa lain dari pada bares’, tulis Sudjojono dalam catatan kurator Ipong Purnama Sidhi.

Sketsa-sketsa Pak Djon merupakan studi lukisan yang akan diterapkan di atas kanvas atau media lain. “Dari itu nasihat saya; kalau ada pelukis’ dikatakan besar, atau ada ‘master’ dikata ‘kelas berat’, coba lihat buku sketsa dia. Bukti si master atau pelukis gede itu terlihat di garis-garis sketsa hitam putih tadi. Menurut pengalaman saya, kalau bisa saya lihat sketsa-sketsa mereka, kashian, banyak mereka bergelimpangan di bawah tanah,” tambah Sudjojono.
Watak dan karakter

Dalam catatan berjudul Tuhan Allah Nyata, Sudjojono menyitir bahwa goresan seseorang memperlihatkan watak, karakter sesungguhnya dalam lukisan.

Menurut Sudjojono, dengan ­mengenali getaran sapuan kuas pada suatu lukisan, kita akan mengetahui watak si pelukis. Sapuan kuas ­adalah segala sesuatu yang dituangkan seorang pelukis secara sadar atau tidak sadar, ke dalam seluruh ruang kanvas (garis-garis, titik-titik, noda-noda, ruang hampa, atau diisi).
“Anda akan menemukan pada dirinya seorang kawan, atau seorang lawan, atau seorang guru,” jelas Sudjojono.

Pentingnya sketsa dalam karya Sudjojono juga dilukiskan dari catatan Agus Dermawan T kala melakukan wawacara dengan Sudjojono pada 1981 di Pusat Kebudayaan Jepang di Jakarta.

“Saya banyak membuat sketsa sebelum melukiskannya di dalam kanvas ban. Semua sketsa itu saya bikin berdasarkan persepsi pribadi terhadap sejarah yang saya dengar dan saya baca. Banyak yang tak tahu bahwa saya mempersepsi sejarah Sultan Agung dan VOC secomot demi secomot. Ya, sesuai dengan hidup, yang saya jalani selangkah demi selangkah,” begitu menurut Sudjojono berdasarkan hasil wawancara Agus Dermawan T.

Pandangannya terhadap Sultan Agung selalu berangkat dan cerita guru saya, tahun 30-an. Kisah kebrutalan tentara Belanda ia dapat dari cerita Bung Karno. Pada penggambaran perang terdapat lukisan sosial dan politik llya Repin dan Vasily Sunkov. “Saya temukan di majalah seni The International, 50 tahun silam,” jelasnya.

Seperti kisah pembuatan mahakarya Sudjojono berjudul Pertempuran Antara Sultan Agung dan JP Coen (1973) koleksi Museum Sejarah Jakarta yang berukuran 3x10 meter. Lukisan itu dipesan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin dan mulai dikerjakan pada 1973.

Meneliti di Belanda
Untuk kebutuhan lukisan sejarah itu, Sudjojono melakukan penelitian historis di berbagai kitab dan museum. Bahkan ia harus pergi ke Belanda melihat ratusan arsip, baik yang literer maupun visual, yang terdokumentasi dalam foto, ilustrasi, sampai litografi.

“Pencerapan pikiran pribadi dan suara hati juga punya peran dalam membuat gambar fragmen-fragmen sejarah. Kesombongan Pieterszoon Coen yang ada dalam gambar saya bisa disamakan dengan ­keangkuhan mandor Belanda yang sava lihat di perkebunan Deli, Sumatra,” kata Sudjojono.

Gambar kejadian yang lahir dan tangan Sudjojono bukan sekadar rekaman peristiwa. Bukan sekadar mengabadikan fakta sejarah yang kadang direkayasa si penyusun sejarah. Di dalamnya banyak tersimpan persepsi pribadi, yang dipercaya menyimpan sisi lain kebenaran sejarah.

“Kalau banyak orang mengumumkan gambar-gambar saya sebagai sketsa, saya akan menyimpannya sebagai catatan harian. Antekening perasaan saya, gambaran pikiran saya, visualisasi peristiwa saya. Sketsa adalah potongan potongan autobiografi,” lanjut Sudjojono.

Sudjojono dikenal sebagai pribadi yang rendah hati dan menyayangi keluarga tidak hanya diekspresikan dalam bentuk lukisan, tetapi juga diterapkan pada kehidupan sehari-hari. (M-2)

Komentar