Renungan Ramadan

Dari Wirid ke Warid

Ahad, 18 June 2017 05:56 WIB Penulis: Prof Dr KH Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Prof Dr KH Nasaruddin Umar. -- Grafis/Seno

WIRID sebagai amalan rutin dilakukan seorang hamba untuk mendekatkan diri lebih dekat lagi kepada Allah SWT. Wirid juga merupakan pembuktian kedisiplinan diri seorang hamba sehingga waktu dan kualitas pengabdian berban­ding lurus.

Keutamaan wirid terletak pada kekuatan istikamah seorang hamba di dalam melakukan ketaatan kepada Tuhannya. Target kuantitatif harus dicapai setiap hari untuk meyakinkan dirinya tetap di dalam kondisi spiritual yang baik.

Hanya wirid ter­kesan terlalu formalitas. Amalan dan pengabdian kepada Allah SWT masih lebih mengacu kepada target kuantitatif. Ahli wirid sering terlena kepada jumlah dan standar kuantitatif. Jika keseluruhan wirid dilaksanakan, mereka merasa plong.

Para pengamal wirid bertingkat-tingkat. Ahli wirid pemula memang masih banyak yang berorientasi ‘amalan oriented’, sebagaimana disebutkan tadi. Namun, ahli wirid bisa meningkat ke jenjang lebih tinggi ketika mulai merasakan suasana batin melalui penghayatan terhadap makna dan tujuan wirid.

Jika ahli wirid sudah sampai di maqam terbaik, Ibnu ‘Athaillah memesankan: “Jangan kita menganggap rendah hamba yang mengamalkan wirid dan ibadah tertentu karena keduanya memiliki keduduk­an yang mulia di sisi Allah.”

Ia menambahkan: “Ji­ka engkau melihat seorang hamba yang ditetapkan Allah selalu menjaga wiridnya, tetapi lama ia tidak mendapatkan pertolongan dan kekhususan dari-Nya, jangan sampai engkau meremehkannya, hanya karena engkau belum melihat tanda-tanda orang ‘arif atau cahaya indah seorang pencinta Allah pada diri hamba itu. Kalaulah bukan karunia berupa warid, tentu tidak akan ada wirid.”

Orang yang konsisten mengamalkan wirid dan sudah sampai ke tingkat penghayatan lebih mendalam terhadap wiridnya, wirid itu berangsur-angsur ­melahirkan warid.

Warid ialah efek positif yang lahir dari pengamalan wirid ­secara istikamah. Ibnu ‘­Athaillah menyebut warid itu sebagai ­pemberian dan hidayah Allah SWT berupa petunjuk, cahaya ilahi, dan kesenangan batin di ­dalam ber-taqarrub kepada-Nya.

Ibnu ‘Athaillah mengatakan: “Allah memberimu warid untuk menyelamatkanmu dari cengke­raman dunia dan membebaskanmu daripada diperbudak oleh makhluk apa pun.”

Ia membagi warid ke dalam tiga tingkatan, yaitu 1) warid yang muncul pada ahli wirid berupa hamba merasa ringan dalam menjalankan ketaatan dan beribadah karena sudah merasa lebih dekat ke hadirat-Nya. 2) Warid yang muncul pada ahli wirid brupa hamba sudah merasakan puncak keikhlasan dan sudah mampu melepaskan diri dari tujuan apa pun selain hanya kepada Allah SWT. 3) Warid yang muncul pada ahli wirid berupa kekuatan untuk melepaskan diri dari sifat-sifat wujud yang terbatas (sempit) untuk kemudian menyaksikan kebesaran Allah Ta’ala yang tidak terbatas.

Menurut Ibnu ‘­Athaillah, wirid paling tinggi ialah: “­Allah ­memberimu warid untuk melepaskanmu dari penjara ­wujudmu ke alam syuhud (­penyaksian).” ­Warid ini sudah sampai ke tingkat pe­nyingkapan (maqam syuhud atau ­mukasyafah).

Jika seseorang sudah sampai di maqam ini, ia meraih ketenangan batin dan sudah terbebas dari teriakan atau bisikan dunia. Kalaupun sempat, ia akan segera kembali.

Orang-orang yang sudah memperoleh warid dengan sendirinya orang itu memilki kepribadian zuhud, dalam arti tidak lagi akan didikte oleh kepentingan dunia. Dia sudah diberi kemampuan untuk memilki dirinya sendiri tanpa tergantung kepada kekuat­an makhluk.

Baginya, cukup dengan kasih-sayang Allah SWT. Warid sudah menjadi semacam cahaya Tuhan (nur Allah) yang memantul mengendalikan diri dalam batin dan pikirannya sehingga kekuatan itu menjadi perisai terhadap berbagai kemungkaran.

Kalaupun mereka tergelincir, secepatnya ia akan mengendalikan diri, kembali ke jalan yang ­benar atau yang lebih benar. Warid tidak perlu dicari, tetapi akan datang dengan sendiri­nya ketika amalan dan komitmen wirid dan zikir hamba-Nya betul-betul dijalankan secara ­konsisten.

Komentar