Wirausaha

Pasien dan Klinik Sama-Sama Sehat

Ahad, 18 June 2017 04:01 WIB Penulis: Iis Zatnika

MI/IIS ZATNIKA

TERDAPAT 11 Whatsapp Group pada ponsel milik Andri Havyatra Lubis, 40, pendiri Klinik Andri Medistra. Nama grup itu Klinik Andri Medistra 1 hingga 11.

Ada aduan ibu tentang telinga anaknya yang kemasukan kapas serta bapak yang mengonfi rmasi WhatsApp Broadcast tentang kesehatan. Ia meminta Andri memvalidasi kebenarannya.

“Ini bentuk komitmen kami kepada pasien, memberikan layanan terbaik, sekaligus memenuhi regulasi yang ditetapkan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan terbaru, yaitu Kapitasi Berbasis Pemenuhan Komitmen Pelayanan (KBK). Salah satunya mengharuskan kami melakukan kontak dengan pasien seintens mungkin, tentu dengan parameter-parameter yang terukur, juga bukti-bukti yang terdokumentasi,” kata Andri ketika dijumpai di ruangan kliniknya di Ciruas, Serang, Banten. Selain di Ciruas, Andri Medistra berada di Sentul, di Kabupaten Tangerang serta di Karawaci, Kota Tangerang.

Realisasi kendali mutu dan biaya

Anggota grup itu, kata Andri, dijemput proaktif tenaga administrasi pendaftaran yang wajib mematuhi prosedur, menawarkan setiap pasien, untuk bergabung dalam grup dan memanfaatkan ruang obrolan untuk berkonsultasi soal kesehatan. Andri pun berusaha berkomitmen, meluangkan waktu menjawab setiap pertanyaan, di sela kesibukannya mengelola klinik juga memeriksa pasien.

Lalu, ada pula kertas bertuliskan Konsultasi Sehat Bulan Maret 2017 dengan kolom nama, nomor kartu BPJS, nasihat kesehatan serta tanda tangan pasien. Isi nasihat kesehatan itu di antaranya makan makanan bergizi dan hindari jajanan yang tidak berkualitas.

“Ikhtiar-ikhtiar itu merupakan bagian dari upaya kami sebagai mitra BPJS Kesehatan melakukan berbagai pengembangan, merespons langkah BPJS melakukan kendali mutu dan biaya yang tentunya saling mempengaruhi.

Tentunya, itu bukan cuma berpengaruh positif bagi BPJS Kesehatan, pasien atau anggota, tapi buat kami, sebagai penyedia layanan yang juga entitas usaha,” kata Andri, dokter umum alumnus Universitas Islam Sumatera Utara.

Andri dan timnya berupaya untuk mematuhi ketentuan untuk melakukan kontak dengan pasien, untuk melakukan edukasi kesehatan melalui berbagai medium, termasuk Whatsapp Group. Pun, terus mengadakan Prolanis, Program Pengelolaan Penyakit Kronis. Parameter yang ditetapkan, 150 orang permil anggota yang terdaftar, per bulan.

Selain itu, ada pula kewajiban untuk meminimalisir seoptimal mungkin rujukan nonspesialistik. Tindak lanjut yang dilakukannya, mengedukasi dokter. “Hasilnya, dari target 5%, rujukan nonspesialistik, angka kami tidak sampai 1%,” kata Andri yang meraih peringkat dua National Primary Award 2014, kategori Klinik Pratama.

Sementara itu, angka peserta Prolanis mencapai 50% dari anggota yang terdaftar sebagai peserta program. Andri pun optimistis itu bisa tercapai. Pasalnya, kata Andri, kliniknya yang hanya memiliki 5% pasien non-BPJS Kesehatan telah mencapai komposisi peserta yang terbilang seimbang. Sepertiga pasiennya ialah peserta BPJS mantan pemilik kartu Askes, mayoritas para PNS, dan dalam jumlah yang sama, para karyawan industri yang berdiri di sekitar kliniknya. Terakhir, masyarakat umum yang mengikuti BPJS Kesehatan sebagai peserta mandiri.

“Dengan begini, Prolanis kami jalan karena ada pensiunan serta PNS yang punya kesadaran dan waktu memadai, lalu ada karyawan industri yang masih produktif dan cenderung sehat serta ada peserta mandiri yang cenderung sering berobat,” kata Andri.

Gerbong pertama

Berbagai program itu, kata Andri, telah intens dilakukan pihaknya sejak triwulan terakhir 2016 guna mengantisipasi tenggat yang ditetapkan implementasi KBK pada April 2017. Kini, ketika batas waktu itu dimundurkan menjadi awal 2018, Andri kian optimistis pihaknya telah benarbenar optimal menjalankan fungsinya sebagai mitra.

Pasalnya, kata Andri, jika diukur dalam skala usaha yang harus hidup berkesinambungan, klinik yang dipimpinnya telah berikhtiar optimal mengumpulkan dan mengelola anggota, manajemen sumber daya manusia, termasuk tenaga dokternya, pengelolaan keuangan, juga dana BPJS Kesehatan.

Dengan demikian, yang dibutuhkan untuk pengembangan kliniknya, ujar Andri, ialah pengembangan yang berintegrasi dengan program-program BPJS Kesehatan yang terus diperbarui. Pasalnya, kini dana dari anggota BPJS Kesehatan, berkontribusi pada 95% perputaran uang di kliniknya.

“Pengembangan-pengembangan yang dilakukan BPJS Kesehatan selalu kami sambut positif, karena walaupun ada tantangannya, tapi selalu ada keuntungan berada di gerbong paling depan,” ujar Andri.

Semangat untuk selalu merespons cepat, kata Andri, dimulai sejak ia merintis Andri Medistra pada 2004. Andri yang sempat mendirikan klinik di dalam dua kontainer yang ia dandani seoptimal mungkin, pada 2009, termasuk klinik-klinik pertama di Serang yang bergabung dengan PT Askes. “Saat itu belum banyak klinik yang berminat.

Ketika kemudian BPJS Kesehatan beroperasi dan memasukkan Askes dalam sistemnya. Kami pun termasuk yang pertama menjadi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) mitra BPJS, pada 2014. Ini menguntungkan karena kami mendapat eks Askes dan kemudian karena jejak yang baik, dipercaya PT Nikomas Gemilang, industri sepatu untuk melayani karyawannya. Lalu, berlanjut pada peserta umum yang bergabung dengan kami,” ujar Andri.

Tunggu program baru

Respons serupa juga diberikan Andri ketika BPJS Kesehatan meluncurkan regulasi Prolanis serta pemeriksaan IVA untuk mendeteksi kanker serviks. “Memang ada alokasi dana yang dianggarkan dari BPJS untuk Prolanis, seperti penyelenggaraan acara Rp200 ribu serta Rp25 ribu per kepala setiap melakukan tes IVA. Namun, pada dasarnya, kami senang dengan adanya kegiatan-kegiatan baru. Selain ada peluang, kami bisa bertemu langsung dengan masyarakat. Ke depan, katanya akan ada pemeriksaan yang lebih kompleks hingga senam ibu hamil. Kebijakan itu kami tunggu-tunggu,” kata Andri. (M-2)

Komentar