Gaya Urban

Kebersamaan dalam Tarian

Ahad, 18 June 2017 01:30 WIB Penulis: Abdillah Marzuqi

MI/Adam Dwi

BERURUTAN para perempuan itu memasuki panggung. Gerak mereka lemah gemulai seiring dengan alunan musik gamelan.

Penampilan mereka makin autentik dengan busana dan tata rias khas penari Jawa. Ada tarian yang dibawakan dengan busana dodotan dengan kain batik berprada yang dilengkapi selendang berwarna merah. Pada tari lainnya, kain sogan dipadu dengan kain jumputan sebagai penutup dada. Selendang sampur berwarna hijau melengkapi penampilan mereka.

Meski penampilan mereka seragam, tidak begitu dengan usia mereka. Di antara para perempuan dewasa, ada pula gadis kecil yang ikut melenggok.
Kelompok penari itu memang bukan penari profesional, melainkan pehobi tari tradisional. Sebab itu jangan pula menuntut kesempurnaan gerak pada tarian mereka.

Di sisi lain, ketidaksempurnaan gerak bukan berarti menjadi cacat mereka, melainkan menjadi sisi melengkapi humanisme kelompok ini. Tidak hanya itu, semangat mereka dalam membawakan tari adati menjadi pesona utama suguhan di Balai Sarwono, Jakarta, Rabu (31/5).

Purwakanthi, demikian nama komunitas pecinta tari jawa tradisional ini. Ada 27 penari yang hari itu membawakan tiga tarian terpisah. Yakni Tari Gambyong Pangkur, Tari Bedayan Purwakanthi, dan Tari Rantaya.

Salah seorang dari mereka ialah Myesha Aretha Larashani. Penampilannya dalam grup penari Gambyong Pangkur menarik perhatian, terlebih karena ia terlihat jauh lebih muda ketimbang yang lain.

Laras--demikian panggilan akrabnya--memang anggota termuda dari komunitas Purwakanthi. Semangat Laras sudah terlihat sejak sesi geladi bersih yang berlangsung empat hari sebelumnya.

“Saya suka menari Jawa karena saya berasal dari Jawa. Saya ingin menekuni dari asal daerah saya sendiri,” ucap gadis 13 tahun ini kepada Media Indonesia seusai pementasan.

Lintas profesi

Penggagas sekaligus ketua komunitas Purwakanthi Yoesi Ariani menjelaskan komunitasnya mengkhususkan pada seni tari klasik Jawa gaya Surakarta. Komunitas ini berawal dari delapan wanita yang sering bertemu dalam pementasan wayang orang empat tahun lalu, termasuk Yoesi.
Dari pertemuan panggung itu, mereka lalu bersepakat untuk latihan bersama dengan bimbingan seorang guru tari. Akhirnya didapuklah Martini Brenda sebagai guru tari di komunitas tersebut.

“Purwakanthi sekarang sudah hampir empat tahun. Jumlahnya (anggota) 75 orang kurang lebih,” tambah Yoesi.

Anggota komunitas datang dari latar belakang profesi dan jabatan yang berbeda seperti dokter forensik, jurnalis, general manager, ibu rumah tangga, hingga anak usia sekolah.

“Purwakanthi ini adalah terdiri dari ibu-ibu pecinta tari Jawa dari berbagai kalangan. Ada ibu rumah tangga, ada mahasiswi, dokter, penyiar, ada juga mahasiswa dan anak-anak sekolah,” jelas Yoesi.

Guru tari Purwakanthi Martini Brenda menambahkan komunitas ini memang awalnya hanya merupakan kumpulan wanita yang suka dengan tari yang ada dalam pertunjukan wayang orang.

“Awalnya ibu-ibu pecinta joget (tari) dari panggung ke panggung saja, ikut wayang (wayang orang),” terang Martini sembari mengingat peristiwa akhir 2012 menjelang 2013.

“Nama Purwakanthi belum tercetus waktu itu,” ujar perempuan berusia 47 tahun itu. Setelah beberapa kali berlatih bersama dan memiliki rencana mementaskan tari di Surakarta, barulah mereka berpikir untuk memberi nama perkumpulan itu.

Nama Purwakanthi dicetuskan Martini. “Purwa itu kan awal. Kanthi itu kan bisa bergandengan, bisa kebersamaan,” lanjutnya. Gayung bersambut, usulan itu disukai anggota lainnya.

Purwakanthi memiliki makna, awal dari kebersamaan. Tak hanya slogan, nama itu juga mewujud dalam semangat para anggotanya. Berkali salah dalam gerak, tetap saja mereka akan melakoninya. Dengan begitu, komunitas ini sesungguhnya bukan hanya soal menari, melainkan juga kebersamaan dalam mencintai tradisi Nusantara. (M-3)

Komentar