Cerpen

Para Pemudik yang tak Pernah Kembali

Ahad, 18 June 2017 00:01 WIB Penulis: Zaenal Radar T

MI/Pata Areadi

LEBARAN Idul Fitri sudah lewat dua bulan. Tapi jalanan Ibu Kota yang ditinggalkan pemudik masih lengang. Pom bensin yang biasanya sudah antre tetap kosong. Bahkan ada dua alat pengisian bahan bakar yang tidak digunakan karena katanya pegawainya belum kembali dari mudik. Ada pengumuman di dekat alat pengisian bahan bakar; ‘dibutuhkan lima karyawan baru untuk posisi operator. Yang berminat hubungi Satpam pom bensin’. Yang minat diminta menghubungi satpam, padahal tidak terlihat seseorang berseragam satpam. Jangan-jangan satpam pom bensin itu pun belum kembali dari kampung halaman?

Pagi yang basah. Di jalanan hanya ada satu-dua kendaraan yang melintas. Saya bertemu mantan atasan saya, Pak Markum, di areal pom bensin itu. Pak Markum, manajer perusahaan minyak itu, nyetir sendiri. Dia bilang, si Handoko, sopir pribadinya, belum kembali dari kampung halamannya di Jawa Tengah.

“Saya pastikan si Handoko resign,” ucap Pak Markum datar, setelah saya menanyakannya.

“Handoko berjanji akan kembali lima hari setelah lebaran. Tapi sudah hampir Lebaran haji tidak muncul batang hidungnya.”

Bulan lalu, istri Pak Markum mengeluh pada istri saya. Tiga orang asisten rumah tangganya yang mudik tiga hari sebelum Lebaran tidak kunjung kembali sampai menjelang hari raya kurban. Hampir setiap hari Bu Markum menelepon, tetapi ponsel para asisten rumah tangganya tidak ada yang aktif. Padahal ketiganya sudah dibelikan telepon pintar oleh Pak Markum. Kini, mereka sulit sekali dihubungi.

Saya dan istri saya awalnya tidak terlalu terganggu dengan keadaan ini. Saya, istri, dan dua anak saya tidak pernah mudik karena tidak punya kampung halaman. Baik orangtua saya maupun mertua, semuanya tinggal di Jakarta. Paling jauhnya, ada keluarga dari keluarga saya dan keluarga istri menetap di pinggiran Ibu Kota. Selain itu, kami tidak punya asisten rumah tangga, yang kebanyakan pulang kampung saat Lebaran Idul Fitri tiba.

Kami sudah terbiasa dengan suasana sepi saat Lebaran Idul Fitri. Sudah lazim menghadapi toko-toko yang tutup, jalan protokol yang biasa hiruk pikuk berubah lengang. Raibnya suara knalpot bising dan asap knalpot selama liburan hari raya. Namun baru kali ini, sudah lebih dari dua bulan sejak Lebaran Idul Fitri, tak ada tanda-tanda orang-orang yang mudik akan kembali ke Ibu Kota.

Warung-warung makan pinggir jalan masih tutup. Setelah saya selidiki, pemilik berikut karyawan warung-warung itu ternyata belum kembali dari kampung halaman. Loh, loh.... Kenapa banyak sekali pemudik yang belum kembali? Siang itu juga saya berusaha mencari tahu lewat koran. Astaga, seingat saya, sudah lebih dari dua bulan sejak surat kabar libur dalam rangka hari raya Idul Fitri, koran tak pernah sampai ke teras rumah. Setelah saya tanya sana-sini, ternyata bukan cuma loper korannya yang belum ada, tapi para agen koran yang mudik belum kembali ke tempat kerja mereka.

Akhirnya saya nonton televisi, sesuatu yang jarang saya lakukan. Hanya ingin melihat berita. Ya, Tuhan. Hanya ada dua stasiun teve yang siaran. Stasiun lainnya masih gambar semut. Dan, dua stasiun teve yang ada hanya menyiarkan berita kemacetan. Sebelum saya tahu apa yang sesungguhnya terjadi, lampu PLN mati! Televisi tewas kehilangan setrum. Jangan-jangan para petugas PLN yang bertugas di salah satu gardu masih di kampung halaman mereka?

Saya nyalakan ponsel untuk browsing, tapi pulsa sudah seminggu habis. Tukang pulsa belum buka karena mudik. Saya ke ATM, ternyata ATM belum bisa digunakan karena uang di dalam kotak mesin ATM kosong dan belum ada petugas yang datang mengurusnya. Apa mereka juga masih belum kembali dari mudik?

Jalan protokol yang biasanya padat merayap benar-benar sepi. Jalan-jalan gang kompleks yang biasa digunakan untuk parkir mobil pun kosong melompong. Kantor kelimpungan babak belur karena OB dan satpam belum kembali bekerja. Dipastikan mereka semua masih di kampung halaman. Padahal, jatah cuti mereka sudah lama habis. McDonald dan KFC di dekat kantor sudah memberikan pengumuman, besok mereka akan tutup untuk sementara. Lima karyawan mereka ambruk kelelahan. Satu-satunya warung Padang, yang berhadap-hadapan dengan Warung Tegal di dekat gerbang kompleks, juga tutup dengan alasan pasar belum buka, stok sayuran habis, ikan dan daging belum ada yang mengantar. Kemana mereka semua? Apa mereka mudik dan tidak ingin kembali?

Beberapa orang yang tidak pulang kampung berkumpul dan berdiskusi. Apa yang akan kami lakukan seandainya orang-orang yang mudik tidak kembali lagi? Itu sampah rumah tangga teronggok di mana-mana, tidak yang mengangkut karena orang yang biasa mengurusi sampah, baik petugas kebersihan maupun sopir truk sampah, mudik semua dan belum kembali sampai hampir datangnya Lebaran haji.

Supermarket dan minimarket yang biasa melayani warga satu per satu tutup. Keamanan tidak ada. Polisi-polisi yang biasa berjaga-jaga ternyata mudik bersama keluarga mereka masing-masing. Kami memutuskan untuk bertemu dengan Walikota. Tapi katanya Walikota belum kembali dari mudik, sejak dua bulan lalu. Pak Gubernur kabarnya masih di kampung halaman! Masya Allah!!!

“Lagian sih, pilih pemimpin bukan orang asli sini. Pilih dong orang daerah sendiri supaya enggak pakai pulang kampung kayak gini!”
Saya tidak mempedulikan gerutuan salah satu warga. Akhirnya beberapa warga sepakat untuk menghadap Presiden. Pak Presiden kan sudah biasa bertemu dengan rakyatnya. Sudah lazim Presiden ketemu rakyat kecil karena ia gemar blusukan. Namun, kabar datang dari istana, satu-satunya orang istana yang tidak mudik, mengabarkan bahwa Presiden mungkin masih di Solo.

Ada apa ini? Kenapa mereka masih mudik semua? Masak iya, mereka akan kembali setelah Lebaran haji?

Saya kembali menyalakan televisi setelah listrik menyala. Kini tinggal satu stasiun teve yang siaran. Dengar-dengar stasiun satunya sudah kehabisan karyawan. Karyawan belum kembali bekerja. Sementara karyawan yang ada ambruk semua.

Akhirnya saya mendapatkan jawaban dari satu-satunya pembaca berita yang sudah loyo, wajah pucat pasi, bibir kering, dan mata celong. Mungkin dia tidak pernah ganti sif. Pembaca berita itu mengabarkan, “Pemirsa, para pemudik masih tertahan di pintu keluar tol Cipali sejak tiga hari sebelum Lebaran. Jalan jalur utara dan selatan seluruhnya macet total. Penyeberangan Bakaheuni terhenti total, mobil-mobil pribadi dan pemotor tidak bergerak. Kabarnya, mereka belum sampai ke kampung halaman. Kemacetan tidak hanya dialami rakyat biasa, tetapi juga menimpa sejumlah pejabat negara, termasuk beberapa orang wakil rakyat, Presiden, dan sejumlah menteri yang ingin merasakan jalan tol yang baru diresmikan untuk keperluan mudik tahun ini.

Saya jadi ingat ucapan Pak Markum. Istrinya sempat menerima telepon dari kampung para asisten rumah tangganya. Bahwa ketiga asisten rumah tangga itu belum sampai di kampung halaman mereka. Padahal mereka sudah izin mudik tiga hari sebelum Lebaran. Jangan-jangan para asisten rumah tangga itu masih terjebak kemacetan?

Setelah itu pembaca berita teve mengumumkan kepada pemirsa bahwa ini siaran terakhir mereka. Karena reporter dan sejumlah kameramen sudah tidak lagi mengirimkan berita. Dia sendiri sudah capai siaran sejak Lebaran karena rekan-rekan penyiar yang lain belum kembali bekerja.

Pembaca berita yang biasanya terlihat segar dan cantik itu kini sudah berwajah semrawut, berkulit kisut, berambut kusut, dan bersuara lemah. Namun dia masih sempat tersenyum sesaat sebelum mengakhiri berita, “Demikianlah berita-berita terakhir yang kami sajikan kepada Anda, pemirsa. Selamat malam. Sampai jumpa.... Kapan-kapan...”

2017

Zaenal Radar T.
Menulis cerita yang termuat
di media cetak dan televisi.
Bukunya yang akan terbit, Si Markum dan Kisah-Kisah Peneguh Iman.
Menetap di Tangerang Selatan.

Komentar