PIGURA

Vonis Dua (Belas) Tahun

Sabtu, 17 June 2017 23:46 WIB Penulis: M-4

PANDAWA memutuskan untuk tidak mengajukan banding atas vonis 12 tahun dalam pembuangan ditambah satu tahun hidup menyamar yang dijatuhkan pengadilan Kurawa. Dengan demikian, Pandawa mesti mendekam di Hutan Kamyaka tanpa bekal apa pun selama itu.

Hukuman ini juga mengharuskan Pandawa--Puntadewa, Werkudara, Arjuna, Nakula, dan Sadewa--berpisah dengan keluarga masing-masing. Hanya Dewi Drupadi yang kukuh dan tetap setia mendampingi sang suami, Puntadewa, apa pun yang terjadi.

Inilah episode dari lelakon ke lelakon yang menimpa Pandawa sebagai target penyirnaan yang dirancang Patih Astina Sengkuni yang juga mentor Kurawa. Seperti tiada henti lima putra almarhum Pandu Dewanata itu menjadi bulan-bulanan kesewenang-wenangan Kurawa.

Namun, seperti yang sudah-sudah, Pandawa tidak terluka, apalagi sirna karenanya. Mereka malah semakin sentosa. Setiap lelakon yang dilakoni justru selalu berbuah meningkatnya kualitas jiwa kesatria mereka.

Bermain dadu

Hukuman ‘penjara’ di belantara ini jatuh akibat Pandawa kalah bermain dadu melawan Sengkuni yang digelar di suatu tempat di luar istana Astina. Ini murni ide Sengkuni memenuhi nafsu Raja Astina Duryudana yang ingin menguasai Indraprastha milik Pandawa.

Duryudana terpesona oleh keelokan Istana Indraprastha yang dibangun Pandawa secara swasembada di atas lahan yang sebelumnya berupa hutan bernama Wanamarta. Sulung Kurawa itu langsung terpikat saat melihat pertama kali dalam inaugurasi berlabel Sesaji Rajasoya.

Dari aspek sosial politik, Indraprastha memang kian strategis karena semakin banyak kawula Astina yang menyeberang ke negara tersebut. Ini disebabkan daya tarik pemerintahan di Indraprasta (Amarta) yang bersih dan bebas korupsi. Tanahnya subur dan rakyat pun kian makmur.

Itu pulalah yang membuat Duryudana khawatir. Bila Indraprastha tidak dikuasai, itu akan mengancam kelangsungan kekuasaannya. Rakyat Astina pasti akan eksodus ke Amarta sehingga Pandawa akan semakin kuat. Maka, ia pasrahkan kepada sang patih yang juga pamannya sendiri, Sengkuni, bagaimana caranya Indraprastha berada dalam genggamannya.

Sengkuni, yang kodratnya kaya akal, tidak kesulitan melaksanakan perintah sang raja. Atas nama Duryudana, ia mengundang Puntadewa bermain dadu di Astina. Ini taktik jitu karena Puntadewa sejak kecil memang paling suka bermain dadu.

Namun, sebenarnya Puntadewa telah lama melupakan kesenangannya itu. Kesibukannya sebagai raja Indraprastha dan mengurus rakyat telah menguras energinya. Namun, karena ini undangan dari Duryudana, ia menyanggupinya. Baginya, tidak elok menolak kehendak dari saudara tua sepupu yang ia hormati.

Sebagai lawan mainnya adalah Sengkuni, yang mewakili Duryudana (Kurawa). Keempat adik Puntadewa hanya menjadi penonton, sedangkan seratus anggota keluarga Kurawa menjadi suporter jagonya.

Berbeda dengan dulu, permainan kali ini dengan taruhan. Awalnya, yang dipertaruhkan yang ‘kecil-kecil’ seperti uang receh hingga pakaian. Pada babak ini Pandawa menang atau tepatnya dimenangkan Sengkuni.

Bukan kesalahan

Kian lama permainan kian panas dan yang dipertaruhkan pun lebih besar. Pada sesi inilah Sengkuni memainkan niat busuknya, tipu muslihat dengan cara mengakalinya. Hasilnya, Pandawa selalu kalah. Celakanya, Puntadewa, yang tahu persis dirinya diperdaya, tidak berhenti ketika terus ditantang, hingga akhirnya kehilangan Istana Indraprastha.

Puntadewa tidak kapok. Ia terus meladeni tawaran Sengkuni. Maka, ketika seluruh harta bendanya habis, Puntadewa mempertaruhkan keempat adiknya secara berurutan. Ia kalah terus. Kemudian ia mempertaruhkan dirinya sendiri dan tetap kalah.

Selesaikah permainan dadu? Belum. Sengkuni memengaruhi bahwa masih ada yang bisa dipertaruhkan, yakni Drupadi. Puntadewa pun menyambutnya. Ini menjadi babak akhir karena Pandawa kalah lagi sehingga semua yang dimiliki ludes, menjadi kuasa Kurawa.

Di sinilah Drupadi mengalami pengalaman hidup paling kelam. Ia menjadi objek pelecehan edan-edanan Kurawa. Dursasana menjadi paling gila di antara saudaranya. Ia dengan penuh nafsu berusaha menelanjangi Drupadi.

Werkudara geram melihat perlakuan Kurawa. Ia lalu menjangkah dan ingin menggebuki mereka. Namun, ia dicegah Puntadewa. Kakaknya itu menasihatinya bahwa apa yang terjadi biarlah terjadi. Semuanya mesti diserahkan kepada keadilan Sanghyang Widhi.

Kegaduhan itu terdengar ayah Kurawa, Drestarastra. Ia lalu menghampiri Kurawa dan Pandawa. Ia marah besar karena ada permainan dadu dan memakai taruhan pula. Drestarastra perintahkan Kurawa mengembalikan semua milik Pandawa. Pandawa juga diminta kembali ke Indraprastha.

Duryudana sangat kecewa dengan sikap bapaknya itu. Namun, Sengkuni meminta keponakannya itu untuk tidak susah karena masih ada cara lain menyingkirkan Pandawa. Ia kemudian undang lagi Puntadewa bermain dadu. Kali ini taruhannya adalah siapa yang kalah harus hidup di hutan selama 12 tahun ditambah satu tahun menyamar. Bila penyamaran itu diketahui, harus kembali mengulangi hukuman dari awal. Ini dibuat sepihak oleh Sengkuni sebagai cara lain menumpas Pandawa.

Pada permainan dadu sesi kedua itu lagi-lagi Pandawa masuk jebakan sehingga kalah telak. Maka, Pandawa mesti menjalani hukuman yang sesungguhnya bukan karena kesalahan mereka.

Tulus dan ikhlas

Tidak seperti yang diancas (diharapkan) Kurawa, Pandawa menunaikan hukuman tanpa dendam, penyesalan, dan ratapan. Mereka tidak menyalahkan siapa-siapa. Keyakinan mereka ialah lelakon adile dilakoni, maknanya manusia itu hanya sekadar menjalaninya.

Waktu demi waktu Pandawa melewati dengan laku prihatin dan senantiasa mendekatkan diri kepada Sanghyang Widhi. Dengan cara masing-masing, kelima kesatria itu menggeladi diri demi meraih kesentosaan.

Arjuna, misalnya, mempertebal dan memperdalam laku prihatinnya dengan bertapa di Gunung Indrakila. Di sana ia mendapatkan anugerah dari dewa berupa senjata panah pasopati. Inilah pusaka menggiriskan yang menjadi andalan Kesatria Madukara itu dalam perang Bharatayuda.

Singkat cerita, hukuman pengasingan itu tidak membuat Pandawa lemah tetapi justru semakin kuat lahir dan batin. Ini buah Pandawa melakoni dengan legawa, pasrah, tulus, dan ikhlas. Keprihatinan seperti inilah yang dalam kearifan lokal kita disebut manjing dadi laku. (M-4)

Komentar